Ikan Segar dan Cabai Jadi Penyumbang Kenaikan Harga: Pedagang melayani pembeli di lapak ikan dan cabe di Pasar Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (1/7/2026).(MI/Agung Wibowo)
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada triwulan II 2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil perekonomian. Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga, Prof. Rahma Gafmi, mengatakan nomor tersebut justru memunculkan pertanyaan lantaran terjadi perlambatan dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2026 nan mencapai 5,61%, sementara tekanan terhadap masyarakat dan bumi upaya tetap terasa.
"Angka pertumbuhan ini mengundang tanda tanya lantaran terasa kontradiktif dengan kondisi di lapangan," ujarnya dalam keterangannya, Rabu (5/8).
Menurut Rahma, perlambatan dari 5,61% menjadi 5,29% menunjukkan ekonomi mulai kehilangan momentum. Kondisi tersebut terjadi di tengah likuiditas perbankan nan tetap ketat serta suku kembang nan belum sepenuhnya mendukung ekspansi sektor riil. Situasi ini menimbulkan keraguan terhadap daya sorong pertumbuhan ekonomi pada semester II tahun ini.
Ia menilai kondisi di tingkat masyarakat juga belum sejalan dengan nomor pertumbuhan nan dirilis BPS. Kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke bawah tetap menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya hidup, penyesuaian nilai peralatan dan jasa, serta normalisasi aktivitas ekonomi setelah Lebaran nan membikin perputaran duit kembali melambat. Akibatnya, banyak pelaku upaya merasakan arus kas nan tetap lemah.
"Bagi masyarakat dan pelaku usaha, tantangan arus kas tetap lebih terasa dibandingkan pertumbuhan ekonomi nan dilaporkan," ucapnya.
Rahma juga menyoroti struktur pertumbuhan ekonomi nan tetap berjuntai pada sektor-sektor tertentu. Menurutnya, pertumbuhan lebih banyak ditopang investasi berkarakter padat modal sehingga manfaatnya belum tersebar merata, terutama bagi sektor-sektor padat karya nan menyerap banyak tenaga kerja.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 tetap ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) alias investasi menjadi pendorong utama melalui realisasi proyek strategis dan investasi swasta selama semester I 2026. Belanja pemerintah juga berkontribusi melalui percepatan realisasi APBN dan APBD, sementara keahlian ekspor tetap dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia dan permintaan negara-negara mitra dagang.
Meski demikian, Rahma menilai sasaran pertumbuhan ekonomi mendekati 6% pada akhir 2026 bakal sangat susah dicapai. Secara matematis, pertumbuhan 5,61% pada kuartal I dan 5,29% pada kuartal II menghasilkan rata-rata sekitar 5,45% pada semester I. Artinya, pertumbuhan ekonomi pada semester II kudu meningkat secara signifikan agar sasaran tahunan dapat tercapai.
"Tanpa dorongan ekonomi nan besar, mengejar pertumbuhan mendekati 6% bakal menjadi pekerjaan nan sangat berat," terang Rahma.
Ia menjelaskan, percepatan tersebut tidak mudah diwujudkan lantaran konsumsi rumah tangga nan menyumbang lebih dari separuh PDB—masih menghadapi tekanan daya beli. Sementara itu, sektor perbankan juga tetap dibayangi biaya dana (cost of funds) nan tinggi dan likuiditas nan ketat, sehingga penyaluran angsuran kepada bumi upaya condong lebih berhati-hati.
Di sisi fiskal, lanjut Rahma, pemerintah tetap mengandalkan shopping negara sebagai penopang pertumbuhan. Namun ruang fiskal dinilai terbatas lantaran pemerintah tetap kudu menjaga defisit anggaran di bawah 3% terhadap PDB. Risiko geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan perubahan nilai energi, juga berpotensi meningkatkan beban subsidi sehingga mempersempit ruang shopping produktif.
Selain itu, prospek ekspor juga belum memberikan support nan kuat. Permintaan dari negara-negara mitra jual beli utama seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Eropa tetap mengalami perlambatan, sementara nilai komoditas unggulan Indonesia tidak lagi setinggi saat periode booming. Kondisi tersebut membikin kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap terbatas.
"Konsumsi, investasi, fiskal, dan ekspor sama-sama menghadapi tantangan sehingga ruang percepatan pertumbuhan tetap terbatas," katanya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·