Ketika Berbeda Disebut Futur

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Saya pernah mendengar titel sebuah buku: nan Berjatuhan di Jalan Dakwah. Seingat saya, kitab itu bercerita tentang orang-orang nan dianggap mulai meninggalkan jalan dakwah, kehilangan semangat, alias dalam istilah nan sering digunakan, mengalami futur.

Saya tidak sedang hendak membahas isi kitab itu, apalagi menilai betul alias salahnya. nan justru mengusik pikiran saya adalah istilah berguguran alias bertumbangan itu sendiri.

Siapa sebenarnya nan berkuasa menentukan seseorang telah berguguran?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi semakin dipikirkan, dia membawa kita pada persoalan nan lebih rumit: gimana sebuah golongan menentukan siapa nan tetap berada di dalam jalan perjuangan dan siapa nan dianggap telah keluar darinya?

Sebab, jangan-jangan futur tidak selalu digunakan untuk menggambarkan keadaan spiritual seseorang. Jangan-jangan, dalam praktiknya, istilah itu kadang berubah menjadi semacam cap sosial.

Selama seseorang tetap berada dalam golongan nan sama, mengikuti langkah berpikir nan sama, menggunakan rujukan nan sama, dan melangkah dalam barisan nan sama, dia dianggap istiqamah. Tetapi ketika dia mulai berbeda pandangan, mengambil jarak, lampau akhirnya memilih keluar, tiba-tiba statusnya berubah.

Ia disebut futur.

Padahal, belum tentu ada nan berubah dari dirinya.

Mungkin ibadahnya tetap sama. Mungkin kepeduliannya kepada umat tetap ada. Mungkin tutur katanya tetap membujuk kepada kebaikan. Bahkan mungkin dia justru sedang memperjuangkan sesuatu nan menurut keyakinannya lebih baik.

Yang berubah barangkali hanya satu: dia tidak lagi berada dalam golongan kita.

Dan di sinilah saya kira kita perlu berakhir sejenak.

Ketika Kelompok Menjadi Ukuran

Manusia memang makhluk nan memerlukan kelompok. Kita memerlukan orang lain untuk berbagi keyakinan, nilai, pengalaman, dan perjuangan. Kelompok memberikan rasa memiliki. Ia membikin seseorang merasa tidak melangkah sendirian.

Dalam ilmu jiwa sosial, kejadian semacam ini dikenal melalui social identity theory nan dikembangkan Henri Tajfel dan John Turner. Identitas seseorang sebagian dibentuk oleh keanggotaannya dalam kelompok. Ketika identitas golongan menjadi krusial bagi diri seseorang, dia condong memandang kelompoknya sebagai bagian dari dirinya dan membedakan golongan sendiri (ingroup) dengan golongan lain (outgroup).

Sesungguhnya ini manusiawi.

Masalahnya muncul ketika pemisah antara “kelompok kita” dan “kelompok mereka” mulai dianggap sebagai pemisah antara “yang benar” dan “yang salah”.

Di titik itu, kritik kepada golongan terasa seperti serangan kepada diri sendiri. Perbedaan pandangan dianggap sebagai ancaman. Orang nan keluar tidak lagi dilihat sebagai seseorang nan sedang mengambil pilihan berbeda, melainkan sebagai orang nan telah meninggalkan jalan.

Padahal golongan hanyalah wadah.

Ia penting, tetapi bukan kebenaran itu sendiri.

Saya kira ini nan sering luput kita sadari. Kita dapat begitu mencintai sebuah golongan sampai-sampai tanpa sadar memindahkan kecintaan kepada golongan menjadi ukuran untuk menilai kebenaran seseorang.

Selama dia berbareng kita, dia baik.

Ketika dia berbeda, kita mulai mencari argumen kenapa dia salah.

Dan ketika dia betul-betul pergi, kita merasa perlu menjelaskan kepada orang lain bahwa kepergiannya adalah tanda kemunduran.

Dalam ilmu jiwa kelompok, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma golongan memang bukan sesuatu nan asing. Conformity terjadi ketika seseorang menyesuaikan pendapat alias perilakunya dengan norma dan pandangan kelompok. Tekanan itu bisa muncul secara langsung maupun tidak langsung.

Barangkali lantaran itu, keluar dari sebuah golongan tidak pernah sesederhana mengganti alamat.

Ada identitas nan ikut ditinggalkan. Ada pertemanan nan mungkin renggang. Ada sejarah nan tidak lagi mudah diceritakan. Dan nan lebih berat, ada label nan kadang kudu dibawa ke mana-mana.

Keluar Bukan Berarti Gugur

Saya membayangkan seseorang nan bertahun-tahun berada dalam sebuah golongan dakwah.

Ia belajar di sana. Bertumbuh di sana. Menghabiskan waktu, tenaga, apalagi mungkin sebagian besar masa mudanya untuk memperjuangkan sesuatu nan diyakininya baik.

Kemudian, pada satu titik, dia mulai memandang ada hal-hal nan menurutnya perlu diperbaiki.

Ia mulai bertanya.

Apakah langkah nan selama ini dilakukan memang satu-satunya cara?

Apakah sesuatu kudu terus dipertahankan hanya lantaran sudah lama menjadi kebiasaan?

Apakah kritik terhadap langkah perjuangan berfaedah kritik terhadap tujuan perjuangan?

Apakah berbeda dalam metode berfaedah berbeda dalam nilai?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sebenarnya sehat. Sebuah golongan nan hidup semestinya bisa bertanya kepada dirinya sendiri.

Sebab stagnasi sering kali tidak datang lantaran tidak ada orang nan mempunyai pendapat baru. Stagnasi justru muncul ketika pendapat baru dianggap sebagai ancaman.

Orang nan berbeda pendapat kemudian berada dalam posisi sulit. Ia kudu memilih: memperkuat sembari menekan kegelisahannya sendiri, alias keluar dengan akibat kehilangan label sebagai “orang dalam”.

Jika akhirnya dia memilih keluar, bukan berfaedah dia berakhir berjalan.

Bisa jadi dia hanya memilih jalan nan menurutnya lebih sesuai.

Bisa jadi dia tetap membawa nilai-nilai nan dulu dia perjuangkan. Ia tetap membaca Al-Qur’an. Masih beribadah. Masih membujuk orang kepada kebaikan. Masih memikirkan persoalan umat. Masih peduli terhadap kesejahteraan masyarakat.

Hanya saja, dia tidak lagi melakukannya melalui pintu nan sama.

Lalu apakah dia berguguran?

Saya kira pertanyaan itu tidak boleh dijawab hanya berasas keanggotaannya dalam sebuah kelompok.

Seseorang nan keluar dari sebuah organisasi belum tentu keluar dari nilai nan diperjuangkan organisasi itu. Seseorang nan berbeda manhaj belum tentu kehilangan akhlak. Seseorang nan membangun golongan baru belum tentu sedang membangun permusuhan.

Bahkan bisa jadi dia sedang mencoba memperbaiki sesuatu nan menurutnya selama ini kurang tepat.

Tentu saja, kemungkinan sebaliknya juga ada.

Tidak semua orang nan keluar pasti benar. Tidak semua golongan baru pasti lebih baik. Tidak semua kritik terhadap golongan lama otomatis valid. Orang bisa saja menggunakan argumen prinsip untuk membenarkan ego. Ia bisa saja mendirikan golongan baru bukan lantaran gagasan, tetapi lantaran ambisi.

Karena itu, saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap orang nan keluar kudu dianggap benar.

Yang saya persoalkan adalah kewenangan kita untuk terlalu sigap memberi cap.

Sebab betul dan salah tidak selalu dapat ditentukan dari kartu keanggotaan.

Ketika Perbedaan Dianggap Penyimpangan

Ada sesuatu nan menarik dalam dinamika kelompok.

Ketika orang-orang terlalu lama hidup dalam lingkungan nan mempunyai pandangan serupa, mereka bisa mulai menganggap apa nan ada di dalam golongan sebagai sesuatu nan alamiah dan tidak perlu dipertanyakan lagi.

Bahkan langkah berpikir nan sebenarnya merupakan hasil ijtihad manusia pada suatu masa dapat perlahan berubah menjadi semacam “paket kebenaran” nan terasa tidak boleh disentuh.

Padahal, ijtihad tetaplah ijtihad.

Cara memahami suatu persoalan tetap merupakan hasil proses berpikir manusia. Ia bisa kuat, bisa lemah, bisa relevan dalam satu konteks, tetapi mungkin perlu dikaji kembali dalam konteks lain.

Dalam pengetahuan ilmu jiwa kelompok, ada pula kejadian group polarization: obrolan dalam golongan dapat mendorong anggotanya bergerak menuju posisi nan lebih ekstrem dibanding kecenderungan awal mereka.

Ini bukan berfaedah setiap golongan keagamaan pasti mengalami perihal tersebut. Tetapi fenomenanya memberi kita satu pelajaran penting: golongan tidak selalu membikin seseorang semakin objektif.

Kadang-kadang golongan justru membikin kepercayaan nan sudah ada menjadi semakin kuat lantaran terus-menerus mendapatkan penguatan dari orang-orang nan berpikiran sama.

Di sinilah perbedaan menjadi penting.

Orang nan berbeda pendapat dapat berfaedah seperti cermin. Ia memaksa kita memandang sesuatu nan selama ini mungkin tidak terlihat lantaran kita terlalu lama berdiri di tempat nan sama.

Minoritas dalam sebuah golongan apalagi dapat mendorong kebanyakan untuk meninjau kembali asumsi-asumsi nan selama ini dianggap mapan. Kajian ilmu jiwa sosial mengenai minority influence menunjukkan bahwa golongan mini nan konsisten dalam menyampaikan pandangan dapat memicu kebanyakan mempertimbangkan kembali kepercayaan dan prosedur nan telah lama diterima.

Karena itu, orang nan berbeda tidak selalu merupakan ancaman.

Kadang dia adalah alarm.

Kadang dia adalah koreksi.

Kadang dia justru menjadi kesempatan bagi golongan untuk bertumbuh.

Sayangnya, kita sering baru menyadari nilai seorang pembawa kritik setelah dia betul-betul pergi.

Ketika tetap berada di dalam kelompok, suaranya dianggap mengganggu. Setelah dia keluar dan rupanya gagasannya berkembang, barulah kita mulai memandang bahwa mungkin ada sesuatu nan dulu tidak kita dengarkan.

Dakwah Tidak Boleh Menjadi Milik Kelompok

Saya kira persoalan nan lebih besar bukan tentang siapa nan betul-betul futur.

Persoalannya adalah kecenderungan manusia untuk menganggap bahwa jalan nan ditempuh kelompoknya adalah satu-satunya jalan nan sah untuk menuju kebaikan.

Padahal dakwah bukan milik organisasi tertentu.

Kebaikan bukan merek dagang.

Dan jalan menuju kemaslahatan umat tidak selalu kudu melalui satu corak organisasi.

Kelompok diperlukan agar orang dapat bekerja bersama. Tetapi golongan semestinya menjadi kendaraan, bukan tujuan perjalanan.

Kendaraan bisa berbeda. Ada nan menggunakan mobil, sepeda, bus, alias melangkah kaki. nan lebih krusial adalah ke mana seseorang hendak pergi.

Tentu saja afinitas ini tidak berfaedah semua jalan sama. Dalam kehidupan berakidah ada prinsip-prinsip nan memang mempunyai pemisah dan ketentuan. Perbedaan tidak boleh digunakan untuk menghalalkan segala sesuatu.

Tetapi di antara prinsip nan kokoh itu terdapat ruang nan luas bagi manusia untuk berpikir, berijtihad, berdiskusi, dan memilih langkah perjuangan.

Di ruang itulah perbedaan semestinya ditempatkan.

Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari dinamika manusia.

Sebab manusia bukan mesin nan diprogram untuk menghasilkan jawaban nan sama. Ia mempunyai pengalaman nan berbeda, referensi nan berbeda, lingkungan nan berbeda, tingkat pemahaman nan berbeda, dan tentu saja ego nan juga berbeda.

Bahkan dua orang nan sama-sama membaca ayat dan sabda nan sama bisa sampai pada konklusi nan berbeda mengenai persoalan tertentu.

Maka ketika seseorang memilih keluar dari sebuah golongan lantaran perbedaan pemikiran, mungkin nan perlu kita lakukan bukan buru-buru mencari label untuknya.

Mungkin lebih baik kita bertanya: apa nan membuatnya pergi?

Pertanyaan itu jauh lebih dewasa daripada sekadar mengatakan, “Dia sudah berubah.”

Sebab perubahan tidak selalu berfaedah kemunduran.

Ada perubahan nan merupakan kematangan.

Ada perpisahan nan merupakan pertumbuhan.

Ada kepergian nan justru membikin seseorang menemukan kembali argumen kenapa dulu dia memulai perjalanan.

Ilustrasi dibuat dengan AI

Jangan Terlalu Cepat Menyebut Berguguran

Saya tidak tahu siapa saja nan sesungguhnya dimaksud ketika istilah “berguguran di jalan dakwah” digunakan.

Tetapi saya merasa kita perlu berhati-hati ketika istilah semacam itu diarahkan kepada orang-orang nan pernah melangkah berbareng kita.

Jangan-jangan seseorang tidak sedang berguguran.

Jangan-jangan dia hanya sedang melangkah dengan langkah nan berbeda.

Jangan-jangan dia tidak meninggalkan dakwah, melainkan meninggalkan langkah berceramah nan menurutnya perlu diperbaiki.

Jangan-jangan dia tidak meninggalkan kebaikan, tetapi sedang mencari corak kebaikan nan lebih sesuai dengan keyakinannya.

Dan jangan-jangan, tanpa kita sadari, kita menyebut seseorang futur bukan lantaran dia telah meninggalkan jalan kebaikan, tetapi lantaran dia telah meninggalkan golongan kita.

Jika demikian, label itu lebih banyak berbincang tentang kita daripada tentang dirinya.

Sebab ketika kita terlalu sibuk menghitung siapa nan keluar dari barisan, kita mungkin lupa bertanya apakah barisan kita sendiri tetap bergerak.

Bisa jadi kita tetap berdiri di tempat nan sama, mengulang kalimat nan sama, mempertahankan langkah nan sama, bukan lantaran semuanya tetap betul dan relevan, tetapi lantaran kita terlalu nyaman untuk mengoreksinya.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk menentukan siapa nan gugur.

Kita tidak pernah betul-betul tahu isi hati seseorang, perjalanan batinnya, pergulatan pikirannya, alias argumen nan membuatnya mengambil sebuah keputusan.

Yang lebih krusial adalah memastikan langkah kita sendiri.

Apakah kita tetap melangkah menuju kebaikan?

Apakah keberadaan kita membikin orang lain lebih dekat kepada nilai-nilai nan kita yakini?

Apakah perbedaan membikin kita semakin rendah hati alias justru semakin merasa mempunyai kebenaran?

Dan apakah golongan nan kita cintai membikin kita semakin terbuka terhadap kebenaran, alias justru membikin kita hanya bisa mengenali kebenaran ketika dia datang dengan wajah nan sama seperti wajah golongan kita?

Barangkali kedewasaan dalam berceramah bukan hanya keahlian membujuk orang lain masuk ke barisan kita.

Kedewasaan juga terlihat dari keahlian menerima bahwa ada orang nan suatu hari memilih melangkah di luar barisan itu—tanpa kudu kita anggap telah meninggalkan kebaikan.

Sebab boleh jadi, nan berbeda arah dengan kita bukan sedang tersesat.

Boleh jadi dia hanya sedang mengambil jalan lain menuju tujuan nan sama.

Dan mungkin, suatu hari nanti, kita bakal berjumpa kembali di tempat nan sama: bukan lantaran kita sukses memenangkan golongan masing-masing, tetapi lantaran pada akhirnya kita sama-sama menyadari bahwa nan semestinya kita pertahankan bukanlah pemisah kelompok, melainkan kebaikan nan sejak awal membikin kita memilih untuk berjalan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan