ilustrasi pertumbuhan ekonomi.(MI)
PENELITI Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada triwulan II 2026 tetap menunjukkan ketahanan nan baik di tengah tekanan dunia dan pelemahan sektor pertambangan.
“Memang angkanya lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya nan mencapai 5,61%, tetapi konsumsi rumah tangga nan tumbuh 5,06%, investasi nan tetap kuat, dan kenaikan shopping pemerintah tetap menjadi penopang utama aktivitas ekonomi,” ucap Yusuf saat dihubungi, Rabu (5/8).
Di sisi lain, Yusuf memandang bahwa ada sinyal nan perlu mendapat perhatian, ialah rasio gini nan naik menjadi 0,368 pada Maret 2026 dari 0,363 pada September 2025. Meski kenaikan tersebut dinilai tipis, Yusuf menyebut bahwa perihal tersebut mengindikasikan bahwa faedah pertumbuhan belum dinikmati secara merata.
“Tambahan output ekonomi tetap lebih banyak terserap oleh golongan berpendapatan menengah atas dan masyarakat perkotaan nan mempunyai akses lebih besar terhadap pekerjaan formal, modal, dan kesempatan usaha. Sementara itu, golongan berpendapatan rendah memperoleh faedah nan relatif lebih terbatas,” terang Yusuf.
Kondisi itu, lanjut dia, menunjukkan bahwa pertumbuhan tetap condong eksklusif. Sektor nan menjadi motor ekonomi, seperti industri pengolahan, restoran, hotel, dan transportasi, umumnya lebih banyak menguntungkan pelaku upaya umum dan masyarakat dengan daya beli nan lebih tinggi. “Karena itu, meskipun jumlah masyarakat miskin turun menjadi 22,93 juta orang alias 8,07%, penurunan kemiskinan tidak serta-merta memperkecil kesenjangan pendapatan. Hal itu juga tercermin dari rasio gini perkotaan nan mencapai 0,387, jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan nan berada di level 0,296,” bebernya.
Ke depan, dirinya memandang ketimpangan tetap berpotensi melebar andaikan struktur pertumbuhan tidak berubah. Dirinya menilai bahwa konsumsi rumah tangga dan investasi kemungkinan tetap menjadi penopang utama, sementara stimulus pemerintah dan program sosial dapat membantu menjaga daya beli masyarakat berpendapatan rendah.
“Namun, tanpa pembuatan lapangan kerja umum nan lebih inklusif, penguatan UMKM nan bisa menyerap tenaga kerja, serta pemerataan prasarana di luar Jawa, faedah pertumbuhan bakal kembali terkonsentrasi pada golongan nan sudah lebih mapan. Risiko eksternal, seperti pelemahan ekspor dan kenaikan nilai energi, juga dapat menekan kondisi rumah tangga nan paling rentan,” tandasnya.
Dihubungi secara terpisah, Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan menegaskan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi tercatat pada 5,29%, pertumbuhan tersebut tidak merata lantaran lebih didorong oleh peningakatan pengeluaran pemweintah.
“Akibatnya pertumbuhan ini tidak menciptakan lapangan kerja berbobot nan cukup. Lapangan kerja memang naik (pengangguran turun) tapi kebanyakan di informal sektor (bekerja sendiri di sektor perdagangan dan pertanian),” pungkasnya. (Fal/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·