Jakarta, CNBC Indonesia - Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) berencana membangun pabrik biometanol dengan memanfaatkan limbah cair kelapa sawit alias Palm Oil Mill Effluent (POME). Pengembangan ini diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi sektor maritim serta memenuhi kebutuhan bahan baku industri kimia.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menargetkan, produksi awal biometanol dari POME dapat mulai dihasilkan pada akhir 2026 alias awal 2027 dengan kapabilitas sekitar 50 ton per tahun, nan secara berjenjang naik menjadi 10 ribu kemudian ke 30 ribu hingga 35 juta ton per annum (TPA) di tahun 2035.
Adapun, proyek ini dikembangkan melalui kerja sama dengan perusahaan CRectech asal Singapura, CRecTech Pte. Ltd. Adapun kedua pihak telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 2 April 2026.
Ia menjelaskan teknologi nan digunakan bisa mengonversi biogas nan berasal dari limbah sawit menjadi biometanol. Menurutnya, langkah ini menjadi krusial lantaran kebutuhan metanol dunia cukup besar sementara tuntutan terhadap daya hijau terus meningkat.
"Yang pertama tentu saja kita lihat dari kebutuhan. Jadi memang marketnya ada, jadi biometanol ini alias metanol ini sebenarnya market itu luas sekali.
Memang dikuasai oleh konvensional metanol nan selama ini. Namun dengan tuntutannya kudu ada green energy dan lain sebagainya, dekarbonisasi, kebutuhan untuk biometanol ini meningkat," ujar John dalam aktivitas Energy Corner CNBC Indonesia, Rabu (22/4/2026).
Di samping itu, Indonesia dinilai mempunyai kelebihan dari sisi bahan baku. Limbah industri sawit nan selama ini belum termanfaatkan optimal dapat diolah menjadi daya berbobot tambah.
"Biometanol ini adalah salah satu green energy. Jadi selain bisa memenuhi kebutuhan green energy, memenuhi kebutuhan dekarbonisasi, dan juga tentu saja ketahanan energi. Jadi ketahanan energinya bakal dapat. Di sisi lain juga pengelolaan sampah tadi. nan tadinya sampah itu tidak bernilai, kita bisa mengkonversikan menjadi energi," katanya.
Menurut John, pengembangan proyek ini saat ini tetap berada pada tahap proof of concept. Lokasi awal pembangunan bakal dilakukan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara.
Sebagaimana diketahui, biometanol dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti di sektor maritim untuk menggantikan solar maupun heavy fuel oil (HFO). Bahan bakar ini dinilai bisa menekan emisi karbon sehingga lebih ramah lingkungan.
Selain itu, biometanol juga dapat digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Bahan bakar ini bisa menyediakan pasokan listrik nan lebih bersih.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·