Permintaan Renminbi di Pasar RI Setara US$ 38,9 Miliar

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat permintaan mata duit China alias Renminbi (RMB) di pasar nasional setara US$ 38,9 miliar alias sekitar Rp 691,87 triliun (kurs Rp 17.786/US$) hingga Juli 2026.

Angka tersebut nyaris memenuhi 100% dari sasaran Renminbi tahun 2026. Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono, menjelaskan pihaknya menargetkan renminbi sebesar US$ 40 miliar sekitar Rp 711,40 triliun.

Pertumbuhan renminbi diketahui terjadi menyusul Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) Nomor 24 Tahun 2026 nan mengatur tentang penyelesaian transaksi bilateral antara Indonesia dan Tiongkok menggunakan mata duit lokal Rupiah dan Renminbi (LCT) melalui bank

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Demand alias permintaan renminbi di pasar domestik sudah mencapai US$ 38,9 miliar," ujar Thomas dalam konvensi pers secara virtual, Rabu (19/8/2026).

Thomas menjelaskan, kebijakan ini mendorong pendalaman pasar finansial dan mendukung stabilitas nilai tukar. BI juga diketahui telah bekerja sama People's Bank of China (PBOC) untuk membentuk renminbi Clearing Bank.

"Jadi permintaan renminbi ini memang sangat besar dan Clearing Bank ini fungsinya adalah memastikan kesediaan likuiditas renminbi tersebut dan mendorong transaksi rupiah renminbi," terangnya.

Ia menambahkan, Clearing Bank ini diproyeksikan untuk beraksi pada kuartal IV tahun ini. BI juga mendorong bank nasional untuk menjadi clearing bank kedua.

"Clearing Bank secara operasional bakal paling lambat di kuartal keempat tahun ini, PBOC sudah memastikan bahwa Clearing Bank nan pertama adalah Bank of China, tapi kami juga di Bank Indonesia mendorong suatu bank nasional dan memang ini Bank Himbara saat ini sedang melalui proses administrasi. Jadi kelak bakal ada dua Clearing Bank renminbi di Indonesia," jelas Thomas.

(ahi/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance