Permintaan Emas Batangan di RI Melonjak 47 Persen Sepanjang Kuartal I 2026

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Ilustrasi emas batangan Foto: Shutter Stock

Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan pada permintaan emas batangan alias logam mulia dan koin selama kuartal pertama tahun 2026.

World Gold Council (WGC) mencatat permintaan meningkat 47 persen secara tahunan menjadi 23,6 ton, sekaligus menjadi salah satu capaian kuartalan tertinggi nan pernah terjadi di pasar emas Indonesia.

“Permintaan emas batangan dan koin, naik 47 persen secara tahunan menjadi 23,6 ton. Angka tersebut menjadi salah satu kuartal terkuat nan pernah tercatat untuk permintaan emas batangan dan koin di Indonesia,” kata Head of Asia Pacific (Ex-China) and Global Head of Central Bank WGC, Shaokai Fan, dalam konvensi pers daring, Rabu (13/5).

Secara keseluruhan, permintaan investasi emas dunia pada kuartal I dilaporkan tetap cukup solid meski mengalami penurunan 5 persen secara tahunan menjadi 536 ton.

“Secara keseluruhan, permintaan investasi tetap cukup handal pada kuartal I, didukung oleh arus masuk nan sangat besar ke emas batangan dan koin (secara global),” lanjut Shaokai.

Meski turun dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya, nomor tersebut dinilai tetap tergolong kuat secara historis. Dari sisi nilai, permintaan investasi mencapai USD 84 miliar seiring tingginya nilai emas dunia.

Dalam catatan Shaokai, China mencatat pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan permintaan emas batangan sebesar 67 persen secara tahunan menjadi 207 ton dan mencetak rekor kuartalan baru.

India juga menunjukkan penguatan dengan kenaikan 34 persen secara tahunan menjadi 62 ton, sekaligus menjadi capaian kuartal pertama tertinggi sejak 2013.

Di area Eropa, permintaan emas batangan dan koin meningkat 50 persen secara tahunan menjadi 41 ton. Amerika Serikat (AS) juga mencatat pertumbuhan sebesar 14 persen secara tahunan menjadi 18 ton.

Volume Pembelian Emas Perhiasan Menurun Secara Global

Ilustrasi emas batangan. Foto: Athit Perawongmetha/REUTERS

Sementara itu, sektor perhiasan disebut menjadi bagian pasar emas nan paling terdampak akibat tingginya nilai emas. Secara global, total permintaan perhiasan pada kuartal pertama turun 23 persen secara tahunan menjadi di bawah 300 ton.

Shaokai menuturkan, kondisi serupa terjadi di beragam negara, termasuk Indonesia.

“Kondisi ini terlihat di nyaris seluruh pasar dunia, termasuk Indonesia. Total permintaan perhiasan menurun dari sisi volume emas nan dibeli. Namun, dari sisi nilai justru meningkat 31 persen secara tahunan, mencerminkan tingginya nilai emas,” jelas Shaokai.

Ia mencatat, permintaan perhiasan emas di Indonesia tercatat mencapai 3,3 ton pada kuartal pertama 2026. Namun, nomor tersebut turun 20 persen dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya.

Adapun total volume permintaan perhiasan tercatat sekitar 300 ton alias turun 23 persen secara tahunan. China dan India tetap menjadi pasar terbesar untuk pembelian perhiasan emas dunia. Permintaan di China tercatat mencapai 85,2 ton, sedangkan India sebesar 66,1 ton.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan