Perkuat Ketahanan Pangan dan Industri, Indonesia Jajaki Kerja Sama Alat Berat dengan Belarus

Sedang Trending 27 menit yang lalu
Perkuat Ketahanan Pangan dan Industri, Indonesia Jajaki Kerja Sama Alat Berat dengan Belarus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memenuhi undangan Deputi Perdana Menteri Republik Belarus untuk mengunjungi sejumlah industri strategis Belarus di sektor perangkat berat(MI/Dok Kemenko Perekonomian)

PEMERINTAH Indonesia terus memperkuat posisi dalam dinamika ekonomi dunia dengan menjajaki kerja sama strategis di area Eurasia. Salah satu langkah konkret nan diambil adalah melalui skema Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA).

Dalam rangkaian Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI–Belarus, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan kerja ke sejumlah industri manufaktur unggulan di Minsk, Belarus, pada Kamis (14/5). Kunjungan ini bermaksud memetakan kebutuhan peralatan strategis nan dapat mendukung industrialisasi dan ketahanan pangan nasional.

Kekuatan Industri Manufaktur Belarus

Belarus dikenal mempunyai pedoman industri manufaktur nan sangat kuat. Sektor ini memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian negara tersebut, didukung oleh tingkat swasembada pangan nan tinggi. Berikut adalah profil singkat kekuatan industri Belarus berasas info tahun 2024:

Indikator Ekonomi Belarus (2024) Persentase
Kontribusi Sektor Manufaktur terhadap PDB 20,3%
Tingkat Swasembada Pangan Nasional Sekitar 96%

Fokus Kunjungan ke Tiga Raksasa Industri

Didampingi Wakil Menteri Industri Belarus, Leonid Ryzkovsky, Menko Airlangga mengunjungi tiga perusahaan utama nan menjadi tulang punggung industri perangkat berat dan otomotif Belarus:

  1. Minsk Tractor Works (MTZ): Fokus pada teknologi traktor dan mesin pertanian modern. Kerja sama ini diproyeksikan mendukung agenda food estate dan peningkatan produktivitas pertanian Indonesia. MTZ menawarkan elastisitas spesifikasi produk sesuai kebutuhan Indonesia serta komitmen transfer teknologi.
  2. Minsk Automobile Plant (MAZ): Menjajaki pengembangan kendaraan komersial, bus, dan kendaraan unik industri. Pembahasan mencakup kesempatan perakitan lokal (local assembly) dan pengembangan kendaraan rendah emisi.
  3. BelAZ Holding Management Company: Fokus pada perangkat berat pertambangan. Mengingat Indonesia mengekspor sekitar 800 juta ton batu bara per tahun, kebutuhan bakal dump truck nan efisien menjadi prioritas. Kerja sama ini juga membuka kesempatan penggunaan Mata Uang Rupiah dalam transaksi perdagangan di masa depan serta pemanfaatan karet alam (natural rubber) Indonesia untuk rantai pasok ban kendaraan berat.

Inovasi Hijau dan Hilirisasi

Selain perangkat berat, obrolan juga menyentuh aspek penemuan berkelanjutan. Kedua negara membahas studi penggunaan baterai nikel untuk mendukung modernisasi perangkat pertanian dan pertambangan agar lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, terdapat penjajakan pengembangan singkong (cassava) menjadi etanol sebagai sumber daya terbarukan.

“Kami memandang perusahaan-perusahaan Belarus berilmu dalam memproduksi beragam macam produk perangkat berat nan dapat memperkuat industrialisasi dan mekanisasi pertanian modern di Indonesia,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya, Jumat (15/5).

Sinkronisasi Kebutuhan Industri

Menko Airlangga menggarisbawahi pentingnya komunikasi nan lebih intensif antara pelaku industri kedua negara. Selama ini, pemerintah Belarus aktif mempelajari pasar Indonesia, namun tetap terkendala info spesifik mengenai kebutuhan teknis di lapangan.

Untuk mengatasi perihal tersebut, pemerintah sepakat untuk melakukan pemetaan kebutuhan berbareng melalui forum konsultasi reguler. Langkah ini diharapkan dapat memastikan bahwa solusi teknologi nan ditawarkan Belarus betul-betul relevan dengan kondisi geografis dan kebutuhan industri di Indonesia. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia