Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan pentingnya membangun kesadaran kolektif untuk mengantisipasi potensi penyebaran Hantavirus di Indonesia. Menurutnya, upaya kewaspadaan terhadap virus tersebut perlu dilakukan berbareng melalui edukasi dan peningkatan kesiapsiagaan nasional.
"Negara melalui Kemenkes RI telah mengambil langkah konkret untuk mewaspadai ancaman Hantavirus. Meski begitu, kekhawatiran publik terhadap ancaman virus tersebut di tanah air, kudu dapat diatasi secara bersama," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5/2026).
Hal itu disampaikan Rerie dalam obrolan daring bertema 'Mengenal Penyebaran Hantavirus dan Bagaimana Memitigasinya' nan digelar Forum Diskusi Denpasar 12.
Diskusi nan dimoderatori Tim Ahli Wakil Ketua MPR RI Tantri Moerdopo itu menghadirkan Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan /SKK Kementerian Kesehatan RI Dr. Sumarjaya, SKM, M.M., MFP, CFA, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia/PB IDI - Guru Besar Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, MSC, Sp.P (K), dan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI - Direktur World Health Organization South East Asia Regional Office/WHO SEARO periode 2018-2020 Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama sebagai narasumber. Selain itu, datang pula Anggota Komisi IX DPR RI) Nurhadi, S.Pd., M.H. sebagai penanggap.
Berdasarkan info dari beragam sumber, pada periode 2024-2026 tercatat 23 kasus Hantavirus terkonfirmasi dengan tiga kematian. Rerie menyebut WHO juga telah menetapkan Hantavirus sebagai virus nan perlu diwaspadai.
Karena itu, dia menilai edukasi dan sosialisasi mengenai ancaman Hantavirus kudu terus ditingkatkan. Menurutnya, pencegahan penyebaran Hantavirus memerlukan pemahaman masyarakat mengenai langkah mitigasi dan tindakan nan kudu dilakukan jika terpapar virus.
Sementara itu, Sumarjaya mengatakan pemerintah telah melakukan beragam langkah kewaspadaan agar penanganan ancaman Hantavirus tidak terlambat, salah satunya melalui kerja sama dengan pihak imigrasi dalam corak skrining di pintu masuk negara dengan thermal scanner dan wajib deklarasi di All Indonesia.
Ia menambahkan, langkah pencegahan juga dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan serta pola hidup bersih dan sehat di masyarakat.
Kemudian, Erlina Burhan menjelaskan Hantavirus umumnya dibawa oleh hewan pengerat dan dapat menyebabkan penyakit berat pada paru-paru (HPS) maupun ginjal (HFRS).
Ia juga menyebut bahwa penyakir akibat Hantavirus kerap terlambat ditangani lantaran pada fase awal gejalanya serupa dengan akibat virus biasa.
Menurutnya, masa inkubasi Hantavirus tidak menimbulkan indikasi khusus. Gejala nan muncul umumnya berupa demam, mual, mirip flu, hingga sesak napas.
Erlina pun mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai area gudang, area jejak banjir, dan letak nan banyak ditinggali tikus lantaran berpotensi menjadi sumber paparan Hantavirus.
Di sisi lain, Tjandra Yoga Aditama menyebut berasas catatan WHO, tingkat penularan Hantavirus secara dunia tetap tergolong rendah. Meski begitu, dia mengingatkan adanya penduduk negara Singapura nan diduga terpapar Hantavirus di kapal pesiar.
Ia menilai bahwa tingkat kewaspadaan di masyarakat mengenai virus ini memang diperlukan, namun tidaj perlu berlebihan agar tidak menimbulkan kepanikan.
Nurhadi turut mengapresiasi langkah antisipasi nan dilakukan Kementerian Kesehatan. Menurutnya, ancaman Hantavirus tidak hanya perlu dilihat dari sisi kesehatan, tetapi juga kesiapsiagaan nasional.
"Kita tidak bisa lagi menunggu sebuah kasus kesehatan menjadi besar dulu, baru dilakukan tindakan. Negara kudu datang dalam upaya ini," tuturnya.
Ia menambahkan, sistem kesehatan, surveillance, edukasi, dan sosialisasi mengenai ancaman penyakit kudu terus disempurnakan.
Senada, wartawan senior Saur Hutabarat mengatakan setiap negara mempunyai kebijakan berbeda mengenai lamanya masa isolasi dalam menghadapi ledakan penyebaran virus.
Mengutip WHO, Saur menyebut monitoring dan karantina selama 42 hari dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus. Namun, sejumlah negara menerapkan kebijakan berbeda, seperti Kanada selama 21 hari, Yunani 45 hari, dan Inggris 72 jam isolasi di klinik dengan pengamatan khusus.
Ia pun mengingatkan, nan terpenting saat ini adalah mencegah kehadiran tikus sebagai potensi pembawa virus tersebut.
"Jadikan tikus di rumah, di got, dan di sawah musuh bersama. Perangi tikus dengan benar," pungkas Saur. (akd/ega)
12 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·