Perjalanan Tsurayaa Tea, dari Riset Teh Hingga Tembus Mega Halal Bangkok 2026

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Perjalanan Tsurayaa Tea, dari Riset Teh Hingga Tembus Mega Halal Bangkok 2026 Sena Oktavianti, pemilik tsurayaa tea.(Dok.Diskominfo Kota Bandung)

BAGI Sena Oktavianti, teh bukanlah sesuatu nan sejak awal begitu dekat dengan kehidupannya. Perempuan nan sebelumnya berkarier sebagai konsultan pajak itu justru mengaku tidak terlalu menyukai teh sebelum akhirnya mengenal lebih jauh potensi komoditas teh di Jawa Barat (Jabar).

Perjalanan tersebut bermulai ketika Sena pindah dari Jakarta ke Bandung saat pandemi Covid-19. Di tengah kehidupan barunya di Kota Bandung, dia mulai memandang potensi komoditas Jabar, khususnya teh, nan mempunyai kualitas dan karakter nan menarik. Ketertarikan itu semakin kuat setelah Sena memperoleh teh dari seorang petani. Ia kemudian mencoba menyeduhnya dan menemukan pengalaman berbeda dari teh nan selama ini dikenalnya. “Dua kali kita seduh, kok rasanya berbeda,” ungkapnya kemarin.

Sebagai pribadi nan mempunyai latar belakang riset dan analisis, rasa penasaran tersebut mendorong Sena untuk mempelajari teh secara lebih serius. Sejak 2020, dia mulai mengikuti pendidikan dan sertifikasi mengenai teh, termasuk mempelajari karakter beragam jenis teh hingga tea blending. Dari proses tersebut, Sena menemukan, satu tanaman teh dapat menghasilkan beragam jenis teh, mulai dari teh putih, teh hijau, teh hitam, teh kuning hingga teh merah, tergantung proses pengolahannya.Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bagian krusial dalam perjalanan Sena membangun Tsurayaa Tea.

"Setelah melakukan riset selama sekitar empat tahun, Tsurayaa resmi diperkenalkan sebagai brand pada 2024. Sena membawa konsep nan tidak hanya menempatkan teh sebagai minuman, tetapi juga sebagai bagian dari style hidup dan wellness. Tsurayaa mengembangkan produk tea blending dengan memadukan teh berbareng bunga, buah dan rempah," terangnya.

Dalam prosesnya sebut Sena, Tsurayaa tidak menggunakan essence, melainkan mengandalkan bahan-bahan alami tersebut untuk menghasilkan karakter rasa dan aroma pada setiap produknya.

“Untuk Tsurayaa, kita memang temanya untuk wellness. Kita tidak pakai essence, kita pure pakai bunga, spices dan buah-buahan.Konsep tersebut kemudian dituangkan dalam beragam jenis teh. Tsurayaa sempat mempunyai sekitar 40 jenis sebelum akhirnya dikurasi menjadi 22 varian," paparnya.

VARIAN UNGGULAN
Pada 2026 kata Sena, Tsurayaa mulai memfokuskan pengenalan produknya pada sembilan jenis unggulan. Tidak hanya mengembangkan tea blending, Tsurayaa juga mempertahankan produk single origin nan proses pengolahannya dilakukan melalui kerja sama dengan petani. Bahan baku tersebut dikurasi terlebih dulu berasas karakter dan kualitasnya sebelum dibawa ke tempat produksi untuk proses blending dan pengemasan. Perjalanan Tsurayaa tidak berakhir pada pengembangan produk. Sejak diluncurkan, brand tersebut mulai mengikuti beragam pameran dan program pengembangan UMKM.

Sekitar tiga bulan setelah peluncuran, Tsurayaa menjadi bimbingan Bank Indonesia dan mengikuti beragam aktivitas pameran. Kesempatan serupa juga datang melalui sejumlah aktivitas pemerintah, termasuk pameran di Gedung Sate dan aktivitas nan difasilitasi Kementerian Perindustrian. Dari beragam aktivitas dan pembinaan tersebut, Tsurayaa kemudian mendapat kesempatan mengikuti kurasi untuk tampil di Mega Halal Bangkok 2026, sebuah pameran nan mempertemukan pelaku upaya dan visitor dari beragam negara.

Kesempatan tersebut menjadi salah satu tahapan krusial bagi Tsurayaa untuk memperkenalkan produk teh asal Indonesia ke pasar internasional. Dalam arena tersebut, Tsurayaa membawa sembilan jenis produk. Salah satu nan mendapat perhatian adalah Hazelnut Dream Tea. Selain menampilkan produk, tim Tsurayaa juga melakukan demonstrasi penyeduhan secara langsung kepada pengunjung.

Internasional Business Development Representative Tsurayaa Tea, Astria Nurul Andari mengatakan, langkah penyajian menjadi salah satu bagian nan menarik perhatian pengunjung. Pengunjung tidak hanya memandang bungkusan dan warna produk, tetapi juga tertarik ketika diperlihatkan langkah menyeduh teh dengan perangkat khusus.

“Mereka lihat kita menyeduh, gimana caranya, kemudian mereka mencoba. Jadi dengan mendemokan langkah menyeduh teh, mereka juga mengetahui langkah menikmati teh itu seperti apa,” kata Astria.

Menurut Astria, Hazelnut Dream Tea menjadi salah satu produk nan paling menarik perhatian pengunjung. Dari pengalaman di Bangkok, Astria memandang visitor cukup responsif terhadap produk nan mempunyai tampilan menarik, aroma khas, serta cerita di kembali produk. Pengalaman di Bangkok juga membuka kesempatan jejaring baru bagi Tsurayaa. Terdapat calon mitra dari Thailand dan Malaysia nan tertarik membawa produk tersebut ke upaya mereka, termasuk untuk disajikan di kafe.

Sedangkan bagi Sena, kesempatan tampil di luar negeri bukan semata-mata tentang transaksi. Pengalaman tersebut menjadi pembuktian bahwa produk teh Indonesia mempunyai kesempatan untuk dikembangkan menjadi brand nan mempunyai identitas sendiri. Ia mau teh Indonesia tidak hanya dikenal sebagai bahan baku nan kemudian diolah dan diberi merek di luar negeri.

KARAKTER KUAT
Menurutnya, Indonesia mempunyai komoditas teh dengan karakter nan kuat sehingga perlu didukung dengan pengembangan produk, branding dan promosi nan konsisten. “Sebetulnya kita bukan menjual produknya, tapi kita menjual historinya. Setiap teh itu ada cerita masing-masing,” ucap Sena.

Karena itu, perjalanan Tsurayaa tetap jauh dari selesai. Dari kesukaan seorang mantan konsultan pajak terhadap teh Jawa Barat, proses riset sejak 2020, lahirnya brand pada 2024, hingga akhirnya tampil di Mega Halal Bangkok 2026, Tsurayaa terus membangun identitas sebagai brand teh Indonesia berbasis wellness. Bagi Sena, perjalanan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa UMKM perlu terus belajar, menemukan karakter produknya dan berani membuka akses ke pasar nan lebih luas. Ia berambisi support terhadap UMKM, khususnya dalam promosi dan akses pasar internasional, dapat terus diperkuat sehingga lebih banyak produk lokal mempunyai kesempatan untuk dikenal di luar negeri.

“Harapannya pemerintah bisa membantu secara penuh, terutama dari sisi promosi dan pameran-pameran besar, agar produk kita bisa lebih dikenal. Dari Kota Bandung, Tsurayaa sekarang mencoba membawa cerita tentang teh Indonesia lebih jauh: bahwa daun teh bukan sekadar komoditas, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan cerita, karakter dan identitas nan bisa diperkenalkan hingga ke pasar global," sambungnya.(E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia