Ricuh Hari Damai Aceh, Anggota TNI-Polri Sempat Dikejar dan Diusir Massa

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kericuhan mewarnai peringatan Hari Damai Aceh di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026). Direktur YLBHI-LBH Banda Aceh Aulianda Wafisa menyebut persoalan bendera Bulan Bintang menjadi pemicu bentrok antara massa dan abdi negara gabungan.

Aulianda mengatakan mobilisasi penduduk dari sejumlah kabupaten/kota menuju Banda Aceh telah berjalan sejak dua hingga tiga hari sebelum peringatan Hari Damai Aceh.

Menurut dia, sejumlah penduduk nan menuju Banda Aceh sempat diperiksa abdi negara campuran di perjalanan. Pemeriksaan tersebut berangkaian dengan dugaan membawa atribut bendera Bulan Bintang.

“Mobilisasi ke Banda Aceh itu sejak 2-3 hari nan lampau sudah jalan, kawan-kawan penduduk dari kabupaten/kota,” kata Aulianda saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026) malam.

“Di tengah jalan, mereka sudah di-razia oleh abdi negara campuran TNI-Polri mengenai dengan ditengarai ada atribut-atribut seperti bendera Bulan Bintang,” sambungnya.

Aulianda menyebut pemeriksaan terhadap penduduk tetap berjalan hingga Jumat (14/8/2026) malam. Sebagian penduduk tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh, sementara sebagian lainnya sukses tiba di ibu kota provinsi tersebut.

Setibanya di Banda Aceh, massa berkumpul di laman Masjid Raya Baiturrahman. Menurut Aulianda, aktivitas tersebut awalnya direncanakan berjalan tenteram dengan agenda zikir, doa, dan refleksi 21 tahun perdamaian Aceh.

“Diniatkan memang awalnya itu untuk damai, zikir, doa, macam-macamlah. Kemudian juga jika kita lihat itu, ada membicarakan tentang situasi Aceh saat inilah, refleksi tentang 21 tahun damai,” ujarnya.

Namun, sebagian massa tetap membawa bendera Bulan Bintang. Aulianda mengatakan atribut tersebut tidak digunakan untuk menyuarakan kemerdekaan alias separatisme.

“Tapi Bulan Bintang ini nan kemudian ketika mau dikibarkan itu kan dihalau oleh abdi negara TNI. Ketika dihalau, dicoba dirampas, ya sudah pasti penduduk merespons perampasan atribut bendera ini,” katanya.

Ketegangan kemudian pecah. Menurut Aulianda, sempat terdengar letusan senjata ke udara, disusul pelemparan batu dan tindakan saling kejar antara massa dan abdi negara gabungan.

“Ketika massa sudah merespons, ya sudah pastilah kemudian timbul chaos. Sempat meletus senjata ke atas, terjadi pelemparan batu, saling kejar, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Aulianda menyebut kericuhan tidak hanya terjadi di laman Masjid Raya Baiturrahman. Ketegangan juga berjalan di sejumlah titik nan berdekatan dengan kompleks masjid.

“Di seputaran Masjid Baiturrahman itu kan ada Pendopo Gubernur. Jadi dekat memang itu semacam satu hamparan gitulah. Jadi pengibaran bendera Bulan Bintang juga terjadi di beragam titik,” jelasnya.

Menurut dia, personel TNI dan Polri sempat diusir massa dari sekitar masjid ketika situasi memanas.

“Beberapa personel TNI itu sempat diusir oleh penduduk keluar dari masjid. Polisi juga diusir. ‘Ini acara kami, kalian ngapain di sini?’ gitu,” kata Aulianda.

Ia menyebut ketegangan berjalan hingga sore hari dan terjadi di sejumlah titik.

“Dari pagi sudah mulai,” ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita