Perbankan di Tengah Gejolak Timteng: Mewaspadai Risiko Tidak Langsung

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (1/4/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa akibat langsung bentrok Timur Tengah (Timteng) terhadap perbankan Indonesia relatif terbatas. Alasannya ialah lantaran eksposur perbankan nasional terhadap pihak nonresiden di area tersebut mini saja, sehingga tidak secara signifikan memengaruhi permodalan maupun likuiditas perbankan nasional.

Dengan kata lain, lantaran bank-bank Indonesia jarang memberikan pinjaman alias meletakkan biaya di perusahaan maupun bank-bank area Timteng, ketidakstabilan di sana tidak serta-merta mengganggu fondasi finansial perbankan nasional secara langsung.

Namun demikian, OJK mengidentifikasi tiga jalur utama transmisi akibat nan patut diwaspadai, ialah melalui pasar finansial (financial market channel), nilai daya (commodity/energy channel), dan jalur langsung perdagangan serta investasi (direct channel).

Ketiga jalur ini mengingatkan kita bahwa keterbatasan akibat langsung bukan berfaedah Indonesia sepenuhnya kebal terhadap gejolak nan berjalan di bagian bumi lain.

Mewaspadai Risiko Tidak Langsung

Meskipun akibat langsung disebut relatif terbatas, akibat tidak langsung justru perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Sejauh ini, setidaknya ada dua tekanan utama nan berpotensi merambat ke sektor perbankan.

Pertama, ketika nilai BBM meninggi akibat eskalasi bentrok di Timteng, tekanan tidak hanya dirasakan oleh konsumen rumah tangga, tetapi juga oleh sektor industri melalui kenaikan nilai BBM industri. Akibatnya, ongkos produksi di dalam negeri pun bisa bergerak naik, mendorong nilai produk juga meningkat.

Ilustrasi nilai melonjak. Foto: Dok. ChatGPT

Kondisi ini pada akhirnya membebani daya saing industri sekaligus menggerus daya beli masyarakat. Bagi perusahaan nan mempunyai pinjaman di perbankan, tekanan biaya produksi ini berpotensi mengganggu kelancaran pembayaran tanggungjawab kreditnya.

Kedua, bagi industri nan tetap mengandalkan bahan baku alias bahan penolong dari luar negeri, bentrok di Timteng dapat memperparah gangguan rantai pasok global. Contoh nan sudah nyata adalah industri produksi plastik dalam negeri nan terdampak oleh terhambatnya pasokan salah satu bahan baku utamanya, ialah nafta nan sebagian berasal dari Timteng.

Tekanan ini tidak berakhir di tingkat produsen saja. Di lapisan pedagang, marjin untung terpaksa dipangkas demi menjaga daya serap pasar. Ini juga bakal menggerus keahlian finansial pelaku upaya di beragam lapisan, termasuk nan di bawah.

Secara keseluruhan, kedua perihal ini berpotensi merugikan perbankan dalam corak kenaikan angsuran bermasalah (NPL) maupun melambatnya permintaan angsuran baru. Laporan Bank Indonesia (BI) menunjukkan angsuran perbankan tetap tumbuh, tetapi pertumbuhannya condong melambat.

Pada Februari 2026, angsuran perbankan tumbuh sebesar 9,37% (yoy), sementara pada Januari 2026 tumbuh sebesar 9,96% (yoy). Maka, paradoksnya, bisa muncul kondisi di mana perbankan menghadapi kelebihan likuiditas di satu sisi, sementara di sisi lain kualitas pinjaman nan sudah disalurkan justru melemah. Inilah bentuk nyata transmisi akibat melalui jalur peningkatan biaya produksi dan pelemahan daya beli masyarakat.

Urgensi Kepercayaan dan Disiplin Fiskal

Dalam konteks Indonesia dengan ekonomi nan kian terbuka dan rentan terhadap gejolak eksternal, pertanyaan berikutnya nan krusial adalah langkah apa nan harusnya diprioritaskan agar sistem perbankan tetap terjaga stabilitasnya, khususnya sebagai antisipasi jika bentrok Timteng tetap berkembang menjadi krisis dunia nan lebih luas?

Ilustrasi konflik. Foto: Shutterstock

Jawabannya tidak lain adalah kepercayaan terhadap pemerintah. Dalam situasi nan serba sigap berubah, kepercayaan pasar dan masyarakat terhadap pemerintah menjadi fondasi nan kudu dijaga agar tidak sampai menjadi rapuh. Secara sederhana, perihal ini mensyaratkan pemerintah kudu jujur dan realistis dalam mengukur keahlian fiskalnya.

Kebijakan menahan nilai BBM bersubsidi di tengah tekanan fiskal nan berat memang dapat dimengerti dari kacamata politik, apalagi dengan kuatnya dorongan kebijakan populis. nan sudah disampaikan oleh pemerintah ialah bahwa subsidi ini tetap dipertahankan, apalagi dikatakan sampai akhir tahun.

Namun, secara ekonomi, langkah itu mengandung akibat nan tidak kecil. Mempertahankan subsidi tanpa penyesuaian nan terencana berpotensi menimbulkan keraguan pasar dan masyarakat terhadap keahlian pemerintah untuk membiayainya. Akumulasi keraguan semacam ini dapat melemahkan kepercayaan terhadap stabilitas fiskal secara keseluruhan.

Keraguan terhadap keahlian fiskal pemerintah bukanlah perihal nan muncul mendadak. Ambil contoh soal biaya Sisa Anggaran Lebih (SAL). Seperti disampaikan oleh Menkeu Purbaya, sisanya di Bank Indonesia hanya Rp120 triliun, setelah terjadi pengalihan penempatan biaya pemerintah di perbankan sekitar Rp300 triliun. Di sini, ada pertanyaan: Apakah memang bakal sangat mudah untuk menarik biaya Rp300 triliun itu kapan saja?

Sejauh ini, tambahan suntikan likuiditas dengan memakai biaya SAL lebih dimaksudkan oleh pemerintah sebagai modal bagi bank untuk membeli surat berbobot negara (SBN). Karena kembang dari SBN lebih mini daripada kembang dari kredit, pembelian SBN diargumentasikan sebagai temporary investment, nan dengan sendirinya bakal beranjak ke angsuran jika permintaan angsuran meningkat.

Di sinilah diperkirakan ada akibat likuiditas jika pemerintah menarik SAL secara mendadak, dan berbarengan muncul pula sebuah pertanyaan: Apa tujuan sebenarnya dari penempatan SAL tersebut? Apakah lebih kepada kepentingan pasar SBN, ataukah demi menambah likuiditas perbankan? Pertanyaan ini bukan semata urusan teknis, melainkan juga soal transparansi arah kebijakan.

Ilustrasi kebijakan. Foto: SsCreativeStudio/Shutterstock

Oleh lantaran itu, langkah-langkah nan terukur dan terstruktur menjadi penting. Pertama, memang perlu untuk mengatur ulang prioritas pengeluaran, termasuk mengevaluasi kecepatan dan skala proyek-proyek strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP).

Kedua, melakukan penghematan dan efisiensi secara sistematis, bukan sekadar reaktif. Rencana pemotongan penghasilan menteri dan personil DPR, misalnya, tentu ada gunanya lantaran menampilkan sosok pejabat pemerintahan nan juga berkenan mengetatkan ikat pinggang. Namun, magnitude dari langkah ini secara fiskal rasanya tidak bakal sangat besar. Artinya, dibutuhkan langkah-langkah penghematan nan lebih substansial.

Ketiga, penyesuaian kebijakan fiskal haruslah ditempatkan dalam perspektif jangka panjang. Ini misalnya diarahkan untuk memaksimalkan daya serap pasar dalam negeri.

Persisnya adalah menjaga daya beli kelas menengah, memperkuat permintaan domestik, dan memastikan bahwa penghematan anggaran tidak malah memangkas shopping nan berakibat langsung pada konsumsi masyarakat. Implikasinya, shopping sosial, subsidi produktif serta program penguatan UMKM haruslah berada di urutan paling belakang dalam daftar pemangkasan anggaran.

Keempat, perlu kehati-hatian nan ekstra agar konsolidasi fiskal tidak berubah menjadi "desentralisasi beban" dari pusat ke daerah. Ekonomi lokal juga mempunyai peran krusial sebagai penopang konsumsi nasional dan wilayah pun sekarang sedang menghadapi tekanan fiskalnya sendiri.

Dalam kondisi seperti ini, membebankan angsuran pinjaman KMP melalui Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH), hingga Dana Desa menimbulkan pertanyaan lanjutan: Apakah perihal ini memang betul-betul menjadi solusi, ataukah justru hanya memindahkan masalah semata? Jawaban nan menguat adalah bahwa ini merupakan pemindahan beban nan berpotensi melemahkan fondasi ekonomi dari bawah.

Ilustrasi "bom fiskal". Foto: Gemini AI

Singkatnya, “bom waktu” fiskal kudu dicegah sejak dini. Jika tidak, rentetan dampaknya bakal meluber juga ke sektor finansial dan akhirnya dapat menggoyangkan stabilitas sektor perbankan nasional.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan