Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepakatan gencatan senjata nan rapuh di Timur Tengah justru memunculkan penilaian bahwa bentrok tersebut berpotensi meninggalkan akibat politik paling berat bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Setelah perang nan tidak menghasilkan pemenang jelas, posisi Netanyahu dinilai melemah, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional.
Mengutip kajian The Guardian, Kamis (9/4/2026), selama bertahun-tahun, Netanyahu dikenal gencar menakut-nakuti Iran, termasuk melalui pidatonya di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, penyajian dokumen-dokumen kontroversial kepada media internasional, serta tekanan diplomatik kepada presiden Amerika Serikat agar mendukung perang terhadap Iran. Namun bentrok nan akhirnya terjadi disebut tidak menghasilkan untung strategis bagi Israel.
Komunitas intelijen AS sebelumnya menilai prediksi Israel tentang perubahan pemerintahan dan revolusi di Iran sebagai sesuatu nan "konyol". Penilaian tersebut kemudian terbukti, sementara perkiraan Israel bahwa perang hanya bakal berjalan beberapa hari alias paling lama beberapa minggu juga meleset jauh.
Menurut laporan Channel 12 Israel, dua hari sebelum gencatan senjata, Netanyahu tetap mendorong Presiden AS Donald Trump agar tidak menyetujui penghentian pertempuran. Trump sempat mengeluarkan ancaman keras terhadap Teheran sebelum akhirnya mundur dan, menurut beberapa sumber, apalagi mengesampingkan Israel dalam proses pengambilan keputusan.
Pemimpin oposisi utama Israel, Yair Lapid, menyampaikan kritik tajam. "Tidak pernah ada musibah politik seperti ini dalam seluruh sejarah kami. Israel apalagi tidak mendekati meja ketika keputusan dibuat mengenai inti keamanan nasional kami," tulis Lapid di platform X.
"Militer melaksanakan semua nan diminta darinya, dan publik menunjukkan ketahanan luar biasa, tetapi Netanyahu kandas secara politik, kandas secara strategis, dan tidak mencapai satu pun tujuan nan dia tetapkan sendiri. Kami bakal memerlukan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki kerusakan politik dan strategis nan disebabkan Netanyahu akibat kesombongan, kelalaian, dan kurangnya perencanaan strategis."
Ketua partai Demokrat sayap kiri Israel, Yair Golan, juga menyebut gencatan senjata tersebut sebagai "kegagalan strategis" bagi Netanyahu.
"Ia menjanjikan kemenangan berhistoris dan keamanan untuk generasi mendatang, dan pada kenyataannya, kami mendapatkan salah satu kegagalan strategis paling parah nan pernah dikenal Israel," kata Golan di X.
"Ini adalah kegagalan total nan membahayakan keamanan Israel selama bertahun-tahun ke depan."
Secara faktual, Netanyahu dinilai mempertaruhkan segalanya pada perang tersebut. Namun dia kandas menjatuhkan pemerintahan Iran nan sah, kandas menguasai stok uranium nan diperkaya tinggi milik Teheran, dan tidak sukses melemahkan negara itu secara signifikan. Kondisi tersebut dinilai semakin merusak posisi dunia Israel, nan sebelumnya sudah tertekan akibat operasi militernya di Gaza nan dituduh sebagai genosida.
Di sisi keamanan, meskipun Trump mengeklaim keberhasilan, kekuatan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran justru disebut menguat. Teheran setidaknya sukses mencapai tujuan utamanya, ialah memperkuat dari serangan selama sebulan oleh dua kekuatan militer besar dunia.
Serangan tersebut memang melukai rezim Iran, tetapi tidak menghancurkannya. Iran tetap mempunyai aset militer signifikan dan kemungkinan bakal mempercepat persenjataan ulang sembari mencari kesempatan balasan.
Netanyahu juga tetap bersikeras melanjutkan serangan di Lebanon selatan. Langkah ini dianggap berisiko lantaran rencana Israel membentuk area keamanan baru dapat memicu bentrok darat langsung dengan Hizbullah, nan secara historis dikenal bisa bertempur efektif di wilayahnya sendiri.
Dalam konteks itu, tulis The Guardian, serangan udara besar tanpa peringatan terhadap Lebanon dinilai sebagai tindakan balasan setelah Israel tidak mencapai tujuannya di Iran.
Dampak diplomatik dan opini publik juga diperkirakan berat bagi Israel. Di AS, konsensus politik nan telah berjalan sejak 1960-an terlihat mulai retak.
Peran Israel dalam mendorong Trump bertempur dengan Iran dikritik oleh golongan progresif maupun sayap kanan garis keras MAGA. Dukungan terhadap Israel juga berada pada titik terendah, apalagi di kalangan pemilih Yahudi.
Di dalam negeri Israel, dampaknya muncul pada tahun pemilu. Alih-alih memperkuat keamanan, Netanyahu dinilai keluar dari perang tanpa mencapai tujuan utama nan dijanjikannya.
Bagi publik Israel, ancaman nan selama ini disebutnya sebagai "eksistensial" tetap belum berubah.
Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei memang telah tewas, tetapi putranya nan garis keras menggantikannya. Alih-alih menutup program nuklir Iran, rencana 10 poin Teheran nan disebut Trump sebagai dasar negosiasi justru tampak mencakup penerimaan kewenangan Iran untuk memperkaya uranium, meskipun Trump membantah perihal tersebut bagian dari kesepakatan.
Untuk sementara, kerangka pembicaraan AS-Iran dinilai lebih mendekati kesepakatan nuklir internasional era Barack Obama, nan sebelumnya diupayakan Netanyahu untuk digagalkan dan kemudian ditarik oleh Trump.
Koresponden urusan militer harian Haaretz, Amos Harel, menilai kegagalan tersebut sudah tertanam dalam rencana perang Netanyahu.
"Banyak kelemahan nan dimiliki pemerintahan AS saat ini dan sistem Israel di bawah Netanyahu terlihat jelas: kecenderungan bertaruh berasas angan tanpa dasar, rencana dangkal dan separuh matang, mengabaikan para ahli, alias penggunaan tekanan garang untuk membikin mereka menyelaraskan pandangan dengan kemauan kepemimpinan politik," kata Harel.
Bagi Israel, bentrok selama sebulan terakhir juga dianggap sebagai kesempatan langka untuk melancarkan operasi skala besar dengan support penuh AS. Peluang bentrok serupa terulang dalam waktu dekat dinilai kecil.
Trump juga menghentikan eskalasi paling berbahaya, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat, nan sangat tidak terkenal di AS lantaran biaya besar dan dampaknya terhadap ekonomi global.
Beberapa pengamat mencatat bahwa setelah sukses mendorong perang nan diinginkannya namun berhujung tanpa hasil, mini kemungkinan Netanyahu mendapatkan support serupa dari Washington di masa depan.
Harel menambahkan bahwa ini bukan kali pertama janji kemenangan total Netanyahu dipertanyakan.
"Ini sekarang adalah keempat kalinya berturut-turut - di Gaza, sekali di Lebanon dan dua kali di Iran - bahwa klaimnya tentang kemenangan total dan penghilangan ancaman eksistensial terbukti sebagai janji kosong," tulis Harel.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·