Ketua BEM UGM Temukan Benda Diduga Pelacak di Mobil, Polisi Imbau Buat Laporan

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto. Foto: instagram @tiyoardianto_

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengaku menemukan dua perangkat pencari nan menempel di rangka bawah dan salah satu roda mobil nan digunakannya.

Tiyo mengatakan, kecurigaan ini berasal saat dia mengikuti obrolan di Balai Penjamin Mutu Provinsi Jawa Tengah pada Sabtu (13/6) pagi hingga pukul 12.30 WIB. Ia merasa saat itu telah dibuntuti orang tak dikenal. Namun, dia memilih mengabaikan perihal tersebut dan melanjutkan perjalanan untuk mengikuti tindakan di Gejayan, Yogyakarta.

"Nah, besok paginya saya menghadiri obrolan di Balai Penjamin Mutu Provinsi Jawa Tengah nan diadakan oleh Universitas Muhammadiyah Semarang. Di sana saya sudah mendapati ada beberapa orang tidak dikenal nan menguntit dan kemudian memotret saya secara jelas, apa nan saya lakukan, termasuk ketika saya jalan. Itu menurut saya jadi aba-aba bahwa saya memang sedang diintai," kata Tiyo kepada wartawan, Senin (15/6).

"Sesudah aktivitas itu selesai sekitar pukul 12.30 WIB, saya segera berangkat ke Jogja untuk turut terlibat dalam tindakan di Gejayan," lanjut Tiyo.

Dalam perjalanan dari Semarang ke Jogja, Tiyo mengaku menerima sejumlah notifikasi dari aplikasi PBX Finder di ponselnya. Namun, dia tetap mengabaikan perihal tersebut dan konsentrasi menyetir menuju Jogja.

Setelah mengikuti tindakan Gejayan di Jogja, tepatnya sekitar pukul 21.00 WIB, Tiyo akhirnya mencari penyebab munculnya notifikasi dari aplikasi tersebut. Saat itu dia menemukan sebuah kotak hitam nan menempel di rangka bawah mobil.

"Kemudian baru ketika malamnya sesudah tindakan dari Gejayan, sekitar pukul 20.00 alias pukul 21.00 begitu, saya mendapati notifikasi itu muncul kembali. Notifikasi itu muncul kembali dan segera saya cek. Saya temukan perangkat kotak nan punya magnet ditempel di bagian belakang bodinya," ujarnya.

Kotak Hitam Direndam

Tiyo kemudian merendam kotak hitam tersebut. Setelah itu, dia melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang.

Namun, dalam perjalanan itu aplikasi PBX Finder di ponselnya tetap terus mengirimkan notifikasi. Ia merasa heran lantaran kotak hitam nan pertama kali ditemukan sudah direndam dalam air dan semestinya sudah rusak.

Ia kemudian memeriksa ulang seluruh bagian mobil dan menemukan barang mencurigakan lain nan ditempel di roda mobil.

"Loh kok notifikasi itu tetap muncul lagi. Kami cari lagi dan rupanya kami temukan dalam corak lain ialah lingkaran pipih ditempel menggunakan solasi, eh ya solasi, lakban hitam gitu di bagian ban kanan belakang," jelasnya.

Tiyo menyatakan mobil tersebut bukan miliknya, melainkan milik saudaranya.

"Harap dicatat dan jangan dijadikan diksi mobil Ketua BEM ya, lantaran itu bukan mobil saya. Itu adalah mobil nan dipinjamkan oleh kerabat nan prihatin sekaligus peduli pada keselamatan saya, sehingga dia pinjamkan itu sejak teror demi teror saya alami," ucapnya.

Saat ditanyai apakah bakal melaporkan kasus ini ke polisi, Tiyo mengaku tetap mempertimbangkannya.

"Saya sedang pertimbangkan untuk laporkan sembari lakukan investigasi secara mandiri," tandasnya.

Respons Polda DIY

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan ditemui di Polda DIY, Selasa (14/1/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan merespons peristiwa tersebut. Ia mengatakan pihaknya hingga saat ini belum menerima laporan dari Tiyo.

Polda DIY meminta agar Tiyo segera melaporkan kasus tersebut untuk ditindaklanjuti.

"Terkait info tersebut, kami sampaikan bahwa hingga saat ini Polda DIY belum menerima laporan resmi dari pihak nan bersangkutan. Meskipun demikian, jejeran kami di lapangan tetap melakukan pemantauan dan pengumpulan info awal demi menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif," ujarnya.

"Kami mempersilakan kerabat Tiyo alias pihak nan dirugikan untuk segera membikin laporan resmi ke Polda DIY. Laporan tersebut krusial sebagai dasar norma bagi kami untuk melakukan penyelidikan secara prosedural, objektif, dan mendalam," lanjutnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan