Perang Iran Guncang Dunia, Hegemoni AS di Timur Tengah Mulai Memudar

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Perang Iran Guncang Dunia, Hegemoni AS di Timur Tengah Mulai Memudar

Perang Iran Guncang Dunia, Hegemoni AS di Timur Tengah Mulai Memudar

JAKARTA –  Perang Amerika Serikat (AS) Israel versus Iran semakin memanas. Ribuan orang telah menjadi korban. Dominasi AS dalam sistem bumi saat ini menjadi sorotan serius.

“Hegemoni Amerika tidak lenyap sepenuhnya, tetapi sedang mengalami penurunan dan bakal beralih bentuk dalam sistem multipolar, di mana beberapa kekuatan dunia baru bakal datang berdampingan,” ujar Ketua Umum GKB-NU Hery Haryanto Azumi dalam obrolan geopolitik, Forum Arus Dunia berbareng GKB-NU dikutip, Senin (9/3/2026).

Hery menjelaskan bahwa kekuasaan Amerika Serikat mencapai puncaknya setelah Perang Dunia II. Saat banyak negara besar mengalami kehancuran ekonomi dan industri akibat perang, Amerika muncul sebagai satu-satunya kekuatan dengan kapabilitas ekonomi dan industri nan relatif utuh.

Keunggulan tersebut menjadikan Amerika sebagai tokoh utama dalam pembentukan tatanan bumi baru pasca Konferensi Yalta 1945, berbareng Uni Soviet. Dalam pembagian pengaruh dunia saat itu, Uni Soviet menguasai sekitar sepertiga dunia, sementara wilayah lainnya berada di bawah pengaruh Amerika Serikat.

Saat itu, Amerika meluncurkan Marshall Plan, program rekonstruksi besar-besaran untuk memulihkan ekonomi 16 negara Eropa Barat. Kebijakan serupa juga diterapkan di Asia Timur, termasuk Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.

Menurut Hery, sejak akhir Perang Dunia II, geopolitik dunia telah melewati tiga fase utama. Pertama, periode 1945–1970, ketika Amerika Serikat berada pada puncak hegemoni global.

Kedua, fase 1970–2001, ketika kekuasaan tersebut mulai melemah dan Washington berupaya menunda akibat penurunan pengaruhnya.

Ketiga, sejak 2001 hingga sekarang, ketika Amerika mencoba memulihkan posisinya melalui kebijakan nan condong unilateral, namun justru mempercepat erosi kepemimpinannya di panggung dunia.

diskusi publik

“Kebiasaan bertindak unilateral membikin Amerika semakin terisolasi dan kehilangan kesempatan besar untuk memimpin bumi secara kolaboratif setelah runtuhnya Uni Soviet,” kata mantan Ketua Umum PMII ini.

Menurut Hery, konsentrasi Washington pada agenda keamanan dunia membuka ruang bagi kebangkitan kekuatan lain, terutama China.

Momentum krusial kebangkitan Beijing terjadi ketika China resmi berasosiasi dengan World Trade Organization (WTO) pada 11 Desember 2001. Sejak saat itu, negeri tersebut perlahan memperluas pengaruh ekonomi dan geopolitiknya secara global.

Dia mengutip kitab The Hundred-Year Marathon karya mantan pejabat pertahanan Amerika, Michael Pillsbury, nan menjelaskan strategi jangka panjang China untuk menyaingi kekuasaan Amerika melalui langkah berjenjang lintas generasi.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com