
Kenali tanda skoliosis sejak remaja. (Foto: dok Magnific/stefarmepik)
JAKARTA - Skoliosis mungkin terdengar seperti masalah kesehatan nan dapat dialami siapa saja. Namun, ketika berbincang mengenai perkembangan kelengkungan tulang belakang nan semakin signifikan, perempuan, terutama pada usia remaja, mempunyai akibat nan perlu mendapat perhatian lebih.
Scoliosis Research Society mencatat bahwa adolescent idiopathic scoliosis alias skoliosis idiopatik pada remaja jauh lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan laki-laki dalam kasus nan berkembang menjadi lebih berat.
Menariknya, skoliosis pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan rasa sakit. Karena itu, perubahan pada tubuh bisa berkembang tanpa disadari hingga corak bahu, pinggang, alias punggung mulai terlihat tidak simetris.
Mengapa Perempuan Lebih Berisiko Alami Perburukan Skoliosis?
Salah satu periode nan paling krusial dalam perkembangan skoliosis adalah masa pertumbuhan sigap alias growth spurt.
Pada perempuan, fase ini terjadi relatif lebih awal dibandingkan laki-laki dan biasanya berangkaian erat dengan masa pubertas. Tulang belakang nan tetap terus bertumbuh mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengalami perubahan pada kurva nan sudah terbentuk.
Karena itu, dalam mengevaluasi akibat perkembangan skoliosis pada remaja perempuan, tenaga medis tidak hanya memandang besarnya kelengkungan tulang belakang. Usia, tingkat kematangan tulang, kecepatan pertumbuhan, hingga apakah seorang remaja sudah mengalami menstruasi pertama juga dapat menjadi pertimbangan.
Semakin banyak pertumbuhan tulang nan tetap tersisa, semakin besar perhatian nan perlu diberikan terhadap kemungkinan perubahan kurva.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·