Jakarta, CNBC Indonesia - Fokus strategi pertahanan Amerika Serikat (AS) sekarang berada di titik kritis setelah keterlibatan militer di Timur Tengah kembali menguras sumber daya nan semestinya dialokasikan untuk membendung kekuatan China di Asia-Pasifik. Meski sempat menjanjikan pengalihan kekuatan ke Asia, pecahnya bentrok dengan Iran justru memaksa Washington menarik aset-aset vital dari wilayah Timur Jauh.
Tuntutan perang Iran ini juga menyebabkan Presiden Donald Trump menunda kunjungan resminya nan sangat dinanti-nantikan ke China selama beberapa minggu. Hal ini memperdalam kekhawatiran bahwa AS sekali lagi teralihkan fokusnya dengan mengorbankan kepentingan strategis di Asia, di mana Beijing terus berupaya menggeser posisi AS sebagai pemimpin regional.
Pihak-pihak nan skeptis terhadap keterlibatan AS di Timur Tengah menyatakan bahwa perang tersebut menghalangi Trump untuk mempersiapkan diri secara memadai menghadapi KTT dengan pemimpin China Xi Jinping bulan depan, di saat kepentingan ekonomi sedang dipertaruhkan.
Mereka memperingatkan bahwa kegagalan untuk konsentrasi pada Asia dan mempertahankan pencegahan nan kuat dapat menyebabkan ketidakstabilan nan lebih besar jika China percaya bahwa waktunya telah tiba untuk merebut pulau Taiwan.
"Ini adalah waktu nan sangat tidak tepat bagi Amerika Serikat untuk beralih dan tersedot ke dalam bentrok Timur Tengah lainnya nan susah diselesaikan," kata Danny Russel, seorang peneliti di Asia Society Policy Institute, kepada The Associated Press, Senin (13/4/2026).
"Menyeimbangkan kembali konsentrasi ke Asia sangat relevan bagi kepentingan nasional Amerika, namun perihal itu telah dirusak oleh banyak keputusan buruk."
Di sisi lain, beberapa pihak memihak pendekatan presiden dengan argumen bahwa langkah tegas nan diambilnya di tempat lain, termasuk di Venezuela dan Iran, berfaedah untuk melawan pengaruh China secara global.
"Beijing adalah sponsor utama bagi musuh-musuh nan sedang dihadapi Presiden Trump secara berurutan, dan adalah bijak untuk melakukan perihal ini secara berurutan," kata Matt Pottinger, nan menjabat sebagai wakil penasihat keamanan nasional dalam pemerintahan Trump nan pertama, dalam sebuah podcast baru-baru ini.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte juga menyatakan bahwa bentrok mungkin tidak bakal terbatas pada satu wilayah saja. Ia memberi kesan bahwa China dapat memanggil "mitra juniornya" di tempat lain untuk mengalihkan perhatian AS jika mereka bergerak melawan Taiwan.
"Kemungkinan besar bentrok tidak bakal terbatas, sesuatu nan terjadi di Indo-Pasifik hanya tetap di Indo-Pasifik," ujar Rutte saat berbincang di Ronald Reagan Institute di Washington. "Ini bakal menjadi masalah multi-teater."
Dampak Perang Iran terhadap Asia
Senator Jeanne Shaheen, petinggi Demokrat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, baru-baru ini memimpin delegasi bipartisan ke Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan. Di sana, mereka mendengar kekhawatiran mengenai akibat perang terhadap biaya daya dan penarikan aset militer AS, termasuk sistem pertahanan rudal dari Korea Selatan dan unit Marinir reaksi sigap dari Jepang.
Shaheen berupaya meyakinkan mereka tentang komitmen AS untuk mencegah bentrok di Asia dan memperkuat stabilitas regional.
"Kegagalan bukanlah pilihan," kata Shaheen kepada The Associated Press setelah kembali dari Asia. "Kita tahu China sudah mengatakan mereka beriktikad mengambil Taiwan dengan kekerasan jika perlu, dan mereka berada dalam agenda nan dipercepat. Kita juga tahu bahwa apa nan terjadi di Eropa dalam perang di Ukraina, dan di Timur Tengah, memengaruhi kalkulasi tersebut."
Kurt Campbell, nan menjabat sebagai wakil menteri luar negeri di pemerintahan Biden, mengaku cemas bahwa keahlian militer nan telah dikumpulkan AS dengan sabar di area Indo-Pasifik mungkin tidak bakal kembali sepenuhnya apalagi setelah perang Iran berakhir.
Zack Cooper, peneliti senior di American Enterprise Institute, menilai semakin lama bentrok berlangsung, maka semakin banyak sumber daya dan konsentrasi nan tersedot dari Asia. Ia menambahkan bahwa penjualan senjata di masa depan ke area tersebut juga bakal terdampak negatif.
"Amerika Serikat telah menghabiskan sejumlah besar amunisi di Timur Tengah dan kudu mempertahankan peningkatan kehadiran pasukan di sana, nan sebagian di antaranya telah dialihkan dari Asia," kata Cooper. "Sementara itu, kearifan Xi Jinping dalam mempersiapkan ekonomi 'masa perang' dengan menimbun stok dan menambah sumber daya pengganti terbukti membuahkan hasil."
Shaheen menambahkan bahwa industri pertahanan AS bakal kesulitan memenuhi permintaan untuk mengisi kembali stok senjata.
"Kami sedang mengupayakan sejumlah strategi untuk memperbaikinya, namun pada titik ini, lini masa pengiriman senjata terus merosot," ujarnya. Meski demikian, senator dari New Hampshire tersebut merasa berbesar hati lantaran Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan mulai meningkatkan pertahanan mereka sendiri.
"Pivot to Asia" nan Tak Kunjung Usai
Strategi penyeimbangan kembali ke Asia awalnya mencerminkan pemahaman bahwa AS kudu menjadi pemain di Pasifik untuk memanfaatkan pertumbuhan area tersebut dan memastikan kepemimpinan AS nan berkepanjangan di hadapan pengaruh China nan meningkat.
"Setelah satu dasawarsa di mana kita bertempur dalam dua perang nan merugikan kita dengan darah dan harta, Amerika Serikat mengalihkan perhatian kita ke potensi luas area Asia-Pasifik," kata Presiden terdahulu dalam pidatonya di Parlemen Australia beberapa tahun silam. "Jadi jangan salah, arus perang sedang surut, dan Amerika menatap masa depan nan kudu kita bangun."
Namun, strategi tersebut terpukul ketika perjanjian perdagangan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) kandas disetujui Senat AS. Setelah Trump menjabat pada 2017, dia menarik AS dari kemitraan tersebut dan meluncurkan perang tarif dengan China. Penggantinya, Joe Biden, mempertahankan tarif tersebut dan memperketat kontrol ekspor teknologi canggih sembari memperkuat aliansi regional.
Timur Tengah Kembali Menyedot Perhatian
Pada saat Trump meluncurkan strategi keamanan nasionalnya di akhir 2025, strategi AS di Asia telah menyempit menjadi pencegahan militer di Selat Taiwan dan rangkaian pulau pertama (First Island Chain), sebuah barisan pulau-pulau sekutu AS di lepas pantai China nan membatasi akses Beijing ke Pasifik Barat.
Dokumen keamanan nasional tersebut menyatakan bahwa demi kepentingan ekonomi, AS kudu mengamankan akses ke chip canggih nan berasal utama dari Taiwan untuk menggerakkan segalanya, mulai dari komputer hingga rudal, serta melindungi jalur pelayaran di Laut China Selatan.
"Oleh lantaran itu, mencegah bentrok atas Taiwan, idealnya dengan mempertahankan kelebihan militer, adalah prioritas," demikian tertulis dalam arsip tersebut. "Kami bakal membangun militer nan bisa menangkal agresi di mana pun di rangkaian pulau pertama."
Dokumen itu juga menyebut bahwa Timur Tengah semestinya mendapatkan perhatian nan lebih sedikit lantaran argumen historis mengenai daya mulai berkurang seiring peningkatan produksi domestik.
"Seiring dengan manajemen ini membatalkan alias melonggarkan kebijakan daya nan restriktif dan produksi daya Amerika meningkat, argumen historis Amerika untuk konsentrasi pada Timur Tengah bakal berkurang," tutup arsip tersebut.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·