Jakarta, CNBC Indonesia - Ketahanan daya dalam menopang jasa komunikasi dan jasa publik, layaknya aliran darah sebagai penunjang kehidupan. Dengan kompleksnya pusat data, jaringan internet, platform pelayanan publik dari finansial hingga, daya menjadi penopangnya.
Masifnya perkembangan internet hingga pelosok negeri juga mengubah langkah masyarakat mengakses info dan jasa publik. Semua nan semula kudu dikerjakan secara fisik, sekarang bisa dilakukan melalui gawai dan jaringan internet.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, persentase masyarakat berumur 5 tahun ke atas nan mengakses internet dalam tiga bulan terakhir meningkat dari 62,10% pada 2021 menjadi 72,78% pada 2024. Artinya, dalam tiga tahun, semakin banyak masyarakat nan terhubung ke ruang digital.
Namun, ada satu syarat agar semua melangkah lancar, ialah tersedianya listrik nan mumpuni. Listrik menghidupkan prasarana digital, prasarana mengalirkan data, BTS memancarkan sinyal, handphone menerima informasi, dan masyarakat menikmati jasa digital.
Artinya dengan meningkatnya jumlah pengguna internet, maka kebutuhan daya juga semakin besar.
Data U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat jaringan transmisi info secara dunia menggunakan sekitar 260-360 terawatt-hour (TWh) listrik pada 2022. Untuk info center, skalanya jauh lebih besar. IEA memperkirakan info center bumi mengonsumsi sekitar 415 TWh listrik pada 2024, setara sekitar 1,5% konsumsi listrik global.
Sebagai pembanding dari operator lokal, total penggunaan listrik TelkomGroup mencapai 2.448.592.668 kWh, alias sekitar 2,45 TWh sepanjang 2025. Angka ini naik dari 2,39 TWh pada 2024. Penggunaan listrik TelkomGroup salah satunya adalah untuk info center.
Data Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia menyebut dengan lebih dari 212 juta pengguna internet dan lonjakan mengambil cloud, e-commerce, hingga fintech, kebutuhan bakal pusat info (Data Center) meningkat pesat.
Indonesia mempunyai 185 Data Center dengan kapabilitas 274 MW, dan ditargetkan mencapai lebih dari 2.000 MW pada 2029. Pemerintah menargetkan kapabilitas tersebut meningkat menjadi lebih dari 2.000 MW pada 2029.
Lonjakan itu bukan sekadar penambahan gedung dan server. Jika kapabilitas 2.000 MW diasumsikan beraksi penuh selama 24 jam, kebutuhan energinya secara teoritis mencapai sekitar 17,52 terawatt hour (TWh) per tahun.
Sebagai pembanding, PLN mencatat penjualan listrik nasional pada 2025 mencapai 317,69 TWh. Dengan demikian, kebutuhan teoritis info center berkapasitas 2.000 MW tersebut setara sekitar 5,5% dari penjualan listrik nasional setahun.
Dengan kata lain, ketika kapabilitas info center Indonesia bergerak dari 274 MW menuju lebih dari 2.000 MW, nan perlu disiapkan bukan hanya prasarana digital. Di belakangnya terdapat kebutuhan terhadap pembangkit listrik, jaringan transmisi, gardu, pengedaran hingga persediaan daya.
Pada akhirnya, ketahanan daya menjadi fondasi krusial bagi keberlangsungan aktivitas masyarakat dan perekonomian. Ketersediaan listrik dan daya nan andal tidak hanya memastikan rumah tangga dan bumi upaya dapat beraktivitas, tetapi juga menjaga jasa publik tetap berjalan, mulai dari transportasi, kesehatan, hingga pelayanan pemerintahan.
Karena itu, memperkuat ketahanan daya bukan sekadar menjaga pasokan listrik, tetapi juga memastikan roda kehidupan, jasa publik, dan komunikasi masyarakat. Seluruh operator telekomunikasi juga kudu ketahanan jaringan dan energi, terutama di wilayah rawan cuaca ekstrem dan terdampak bencana. Ketahanan daya juga menjadi keniscayaan dalam menjaga komunikasi dan jasa publik, lantaran menjadi entitas nan tidak terpisahkan.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]
47 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·