The 4th Indonesian Pharmacy Expo & Conference (IPEC) 2026(IPEC)
Meningkatnya praktik swamedikasi di tengah masyarakat membikin peran apoteker semakin krusial dalam menjaga penggunaan obat nan aman, tepat, dan bertanggung jawab. Di tengah derasnya arus info kesehatan dan kemudahan akses produk farmasi, tenaga kefarmasian dinilai menjadi salah satu garda terdepan dalam memastikan masyarakat memperoleh edukasi dan layanan kesehatan nan berkualitas.
Peran tersebut menjadi salah satu konsentrasi utama dalam penyelenggaraan The 4th Indonesian Pharmacy Expo & Conference (IPEC) 2026 nan digelar pada 6 Juni 2026 di The Kasablanka Hall, Jakarta. Konferensi dan pameran farmasi terbesar di Indonesia itu sukses mempertemukan lebih dari 1.500 apoteker dan tenaga kefarmasian, didukung lebih dari 40 perusahaan farmasi dan kesehatan serta menghadirkan lebih dari 15 pembicara nasional dan internasional.
Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, IPEC berkembang menjadi forum kerjasama nan mempertemukan regulator, organisasi profesi, akademisi, pelaku industri, dan tenaga kefarmasian untuk membahas tantangan serta arah masa depan jasa kesehatan di Indonesia.
Tahun ini, IPEC mengangkat tema Pharmacists at the Heart of Self-Care yang menyoroti pentingnya peran apoteker dalam mendukung praktik swamedikasi nan aman, bertanggung jawab, dan berpusat pada pasien.
Penyelenggaraan IPEC 2026 juga menjadi bagian dari komitmen berkepanjangan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LPP) SwipeRx dalam meningkatkan kompetensi tenaga kefarmasian Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan dan training nan telah terakreditasi Kementerian Kesehatan, LPP SwipeRx terus menghadirkan beragam program pendidikan berkepanjangan nan relevan dengan perkembangan sektor kesehatan.
Hingga saat ini, LPP SwipeRx telah menjangkau lebih dari 150.000 tenaga kefarmasian di seluruh Indonesia, mendistribusikan lebih dari 1,5 juta Satuan Kredit Profesi (SKP), serta menghadirkan lebih dari 340 topik edukasi kesehatan nan mendukung peningkatan kompetensi profesional.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menegaskan bahwa meningkatnya praktik swamedikasi kudu diimbangi dengan penguatan regulasi, edukasi kesehatan, dan peningkatan kompetensi tenaga kefarmasian.
“Negara perlu datang untuk memastikan masyarakat nan melakukan self-care memperoleh produk farmasi nan aman, berbobot dan berguna serta info nan dapat dipertanggungjawabkan. Peran regulator bukan untuk membatasi, melainkan membangun keseimbangan antara perlindungan masyarakat dan support terhadap penemuan kesehatan,” ujarnya.
Menurut Taruna, praktik swamedikasi nan kondusif memerlukan fondasi izin nan kuat untuk melindungi masyarakat dari penggunaan obat nan tidak rasional, penyalahgunaan obat, peredaran produk ilegal, hingga misinformasi kesehatan nan semakin mudah ditemukan di ruang digital.
Ia juga menekankan pentingnya kerjasama antara pemerintah, regulator, akademisi, pelaku usaha, dan pekerjaan apoteker dalam membangun ekosistem swamedikasi nan kondusif dan berkelanjutan.
Pesan tersebut menjadi salah satu tema utama dalam beragam sesi obrolan IPEC 2026 nan membahas masa depan jasa kesehatan primer, penguatan praktik swamedikasi, serta peran tenaga kefarmasian dalam meningkatkan kualitas akses kesehatan masyarakat.
Direktur LPP SwipeRx sekaligus Ketua Panitia IPEC 2026, Imanuel Hutagalung, mengatakan bahwa konvensi tersebut telah berkembang menjadi ruang kerjasama nasional bagi seluruh pemangku kepentingan kesehatan.
“IPEC bukan lagi sekadar forum pembelajaran. IPEC telah menjadi platform kerjasama nasional nan menyatukan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk mendorong kemajuan pekerjaan kefarmasian dan masa depan kesehatan Indonesia. Kehadiran lebih dari 1.500 apoteker tahun ini menunjukkan besarnya peran dan potensi pekerjaan ini dalam menciptakan akibat bagi masyarakat,” ujarnya.
IPEC 2026 mendapat support dari beragam perusahaan farmasi dan kesehatan, di antaranya Opella, Interbat, Haleon, Pharos, Medikon, P&G Health, Combiphar, serta sejumlah mitra strategis lainnya.
Kesuksesan penyelenggaraan IPEC 2026 menunjukkan bahwa masa depan jasa kesehatan Indonesia memerlukan kerjasama lintas sektor nan kuat dengan menempatkan pasien sebagai pusat dari setiap penemuan dan kebijakan. Di tengah meningkatnya peran swamedikasi dalam kehidupan masyarakat, apoteker bakal terus menjadi pekerjaan kunci nan menjembatani akses, edukasi, dan kualitas jasa kesehatan.
Melalui beragam program pendidikan dan kerjasama nan dijalankan, SwipeRx berkomitmen mendukung peningkatan kapabilitas tenaga kefarmasian Indonesia sekaligus memperkuat ekosistem kesehatan nan lebih inklusif dan berkelanjutan.
Sebagai organisasi dan platform ahli farmasi terbesar di Asia Tenggara, SwipeRx saat ini mendukung lebih dari 300.000 tenaga kefarmasian di Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand, dan Kamboja melalui beragam jasa teknologi, pendidikan, serta program pengembangan pekerjaan nan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·