Penyebab Bursa Saham Korsel, KOSPI, Anjlok hingga 10 Persen

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi Kospi. Foto: Utoimage/Shutterstock

Bursa saham Korea Selatan mengalami tekanan dahsyat pada perdagangan Selasa (28/7), dengan Indeks Harga Saham Komposit Korea (KOSPI) ambruk nyaris 11 persen.

Aksi jual nan awalnya menghantam saham-saham semikonduktor meluas ke beragam sektor hingga memaksa Bursa Efek Korsel menghentikan sementara perdagangan selama 20 menit.

Dikutip dari Bloomberg, dua emiten chip terbesar, Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc., masing-masing merosot lebih dari 13 persen. Bursa Efek Korsel juga sempat menghentikan perdagangan program setelah perjanjian berjangka mengalami penurunan tajam.

Tekanan di pasar dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) dunia bakal kesulitan mengubah shopping investasi nan besar menjadi keuntungan.

Di saat nan sama, persaingan dari perusahaan teknologi asal China semakin meningkat dan menambah tekanan terhadap prospek industri semikonduktor.

"Sentimen terhadap saham semikonduktor Korea sangat lemah. Penurunan akibat nan luas, pengurangan utang paksa, pelebaran spread CDS hyperscaler, dan memburuknya sentimen penanammodal ritel semuanya menambah tekanan jual," kata Kepala Investasi Eugene Asset Management, Ha SeokKeun.

KOSPI sebelumnya menjadi salah satu indeks saham dengan keahlian terbaik berkah euforia AI. Namun setelah mencatat reli tajam, indeks tersebut sekarang telah terkoreksi lebih dari 30 persen dari posisi puncaknya sekitar satu bulan lalu.

Orang-orang berdiri di dekat logo SK Hynix di stan produsen cip asal Korea Selatan tersebut dalam aktivitas China International Supply Chain Expo (CISCE) di Beijing, China, Senin (22/6/2026). Foto: Florence Lo/REUTERS

Tekanan pasar juga diperparah oleh menurunnya likuiditas. Nilai transaksi KOSPI pada perdagangan tengah hari tercatat lebih dari 30 persen di bawah rata-rata 30 hari terakhir.

Di sisi lain, penanammodal asing melakukan tindakan jual bersih saham KOSPI senilai 4,5 triliun won alias sekitar USD 3 miliar. Sebaliknya, penanammodal ritel justru menambah kepemilikan saham mereka di tengah penurunan harga.

Pelaku pasar juga mencermati laporan keahlian SK Hynix nan dijadwalkan dirilis pada Rabu (29/7) sebagai parameter prospek industri semikonduktor ke depan.

Sentimen negatif semakin menguat setelah muncul laporan mengenai kemajuan perusahaan milik negara China dalam memproduksi massal mesin kreator chip tertentu. Perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran industri semikonduktor dunia bakal menghadapi kelebihan pasokan.

"Ditambah dengan laporan mengambil litografi DUV domestik, swasembada semikonduktor Tiongkok memberikan tonggak nyata," kata Kepala Manajemen Ekuitas Aktif Kyobo Life Insurance Co., Jason Minsang Kam.

"Hal ini telah memicu kekhawatiran bakal potensi ‘pertumpahan darah’ di pasar komoditas memori akibat kelebihan pasokan," tambahnya.

Penghentian perdagangan di KOSPI sendiri tergolong jarang terjadi. Namun, dari 14 kali penerapan circuit breaker sejak 2000, sebanyak delapan kali terjadi sepanjang tahun ini. Sebelumnya, kebijakan serupa juga pernah diterapkan saat gejolak besar seperti pandemi COVID-19 dan bentrok Iran.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan