Pengusaha Ubin Granit Menanti Cuan dari Program 3 Juta Rumah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Utilisasi pabrik nan rendah menjadi perhatian kalangan pelaku industri belakangan ini. Misalnya di industri keramik secara keseluruhan, pada 2024, utilisasi produksi berada di level 65%, kemudian naik menjadi 73% pada 2025. ASAKI memperkirakan tingkat utilisasi tersebut kembali meningkat menjadi sekitar pada 2026.

"ASAKI menargetkan utilisasi produksi keramik pada semester II 2026 dapat mencapai 75%-80%," kata Ketum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto dalam keterangannya dikutip Rabu (2/9/26)

Sejumlah kebijakan dan program pemerintah di bawah pemerintahan Presiden Prabowo dinilai berpotensi mendorong permintaan keramik. Program tersebut mencakup pembangunan dan pembaharuan Sekolah Rakyat, gentengisasi, pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), pembaharuan rumah tidak layak huni, hingga program pembangunan 3 juta rumah.

Meski demikian, tetap ada pabrikan di industri granite tile nan mencatat tingkat utilisasi pabrik nan nyaris menyentuh 100%. Perbedaan ini menunjukkan tetap adanya ruang nan lebar dalam pemanfaatan kapabilitas manufaktur nasional.

"Kapasitas produksi saat ini mencapai 24 juta meter persegi per tahun. Tingkat utilisasi dari PT Superior Porcelain nan memproduksi Alila Granite Tile saat ini mencapai nyaris 100% dengan sasaran pertumbuhan produksi Alila Granite Tile sebesar 10% per tahunnya," ujar Sales Director Alila Granite Tile, Frankie Irawan kepada CNBC Indonesia, Rabu (2/9/26).

Kondisi pasar domestik ikut menjadi penopang aktivitas produksi industri keramik dan granite tile. Perubahan kebijakan impor sejak tahun lampau membikin kebutuhan pasar dalam negeri semakin banyak diarahkan kepada keahlian produsen lokal.

"Karena sekarang sejak Januari 2025 tidak bisa impor keramik granit tile lagi, maka secara otomatis seluruh kebutuhan domestik dipenuhi oleh produsen lokal," kata Frankie.

Namun, peningkatan permintaan domestik juga diikuti tantangan biaya produksi. Energi, bahan baku, dan logistik menjadi sejumlah komponen nan dapat memengaruhi nilai jual produk. Sementara itu, pelemahan rupiah memberikan akibat berbeda terhadap pasar domestik dan ekspor.

"Pengaruh biaya energi, bahan baku dan logistik tentunya sangat besar terhadap nilai produk granite lokal, nan mana bakal mendorong kenaikan nilai jual sehingga sangat dirasakan efeknya pada pasar domestik. Sementara di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah membikin nilai produk lokal menjadi lebih murah di pasar international sehingga perihal ini bakal memaksa produsen untuk mulai meningkatkan ekspor produk keluar negeri," ujarnya.

Dari sisi permintaan, sektor perumahan menjadi salah satu pasar nan berpotensi menyerap lebih banyak produk material bangunan. Pemerintah tengah mendorong Program 3 Juta Rumah. Perusahaan pun mulai menjajaki kesempatan memasok kebutuhan proyek pemerintah. Salah satu langkahnya dilakukan melalui keikutsertaan dalam Danantara Housing Expo 2026 nan berjalan pada 27-30 Agustus 2026 di NICE, PIK 2, Tangerang, Banten.

"Saat ini kami sudah mulai menjajaki untuk masuk ke proyek-proyek milik pemerintah, termasuk dengan Program 3 Juta Rumah nan mana salah satunya melalui keikutsertaan kami pada aktivitas Danantara Housing Expo nan baru saja selesai dilaksanakan," kata Frankie

Meski ada pabrikan nan mencatatkan utilisasi tinggi, namun rata-rata utilisasi pabrikan di RI tetap tergolong rendah. Kementerian Perindustrian mencatat utilisasi industri pengolahan nonmigas baru mencapai 64,8%, jauh di bawah tingkat nan dinilai ideal pemerintah.

"Utilisasi IPNM (industri pengolahan non migas) tetap pada nomor 64,8% dan ini tetap nomor nan perlu kita tingkatkan. Kita perlu tingkatkan hingga kisaran minimum 70% alias lebih," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (31/8/26).

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News