Uskup Agung Canterbury Cabut Penghargaan Tokoh Muslim Usai Terbukti Puji Osama bin Laden

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Uskup Agung Canterbury Cabut Penghargaan Tokoh Muslim Usai Terbukti Puji Osama bin Laden Hafiz Muhammad Tahir Mehmood Ashrafi, di sebelah kiri, tampak menerima penghargaan dari Dame Sarah Mullally.( PA Media)

KANTOR Uskup Agung Canterbury, Lambeth Palace, resmi menarik kembali penghargaan nan sebelumnya diberikan kepada seorang ustadz Muslim asal Pakistan, Hafiz Muhammad Tahir Mehmood Ashrafi. Keputusan tegas ini diambil setelah muncul gelombang protes atas pernyataan masa lampau Ashrafi nan memuji dalang di kembali tragedi 11 September, Osama bin Laden.

Penghargaan di bagian rekonsiliasi dan kerja sama antariman tersebut sebelumnya diserahkan oleh Dame Sarah Mullally pekan lalu. Momen penyerahan itu bertepatan dengan peringatan 25 tahun serangan terror 9/11 di Serikat AS nan menewaskan nyaris 3.000 orang. Saat itu, pihak Uskup Agung menilai Ashrafi layak dianugerahi penghargaan atas "karyanya nan luar biasa sebagai duta keselarasan antariman di Pakistan dan komitmennya dalam mempromosikan toleransi beragama."

Namun, Lambeth Palace mendapat kecaman keras setelah terungkapnya komitmen masa lampau Ashrafi pada tahun 2007. Dalam pernyataan lamanya, Ashrafi memuji Bin Laden sebagai sosok nan "telah berjuang demi Islam melawan Rusia, Amerika, dan Inggris." Selain itu, Ashrafi juga dilaporkan sempat menyatakan bakal memberi Bin Laden julukan Saifullah, nan berfaedah "Pedang Allah."

Merespons polemik nan meluas, pihak Lambeth Palace akhirnya membatalkan penganugerahan tersebut secara resmi.

"Komentar nan dibuat oleh Imam Ashrafi telah terungkap sehingga mengarahkan (kami) untuk memertimbangkan kembali penghargaan ini, dan kami sekarang dapat mengonfirmasi bahwa penghargaan tersebut telah ditarik," tulis pernyataan resmi Lambeth Palace.

Di sisi lain, Ashrafi memberikan pembelaan saat diwawancarai oleh BBC. Ia menyatakan pernyataannya di masa lampau telah disalahartikan dan menilai gelombang kritik terhadapnya sebagai kampanye nan tidak adil.

"Sangat di luar konteks," kata Ashrafi mengenai ucapan lamanya tentang Bin Laden.

Ashrafi berkilah ucapannya tahun 2007 itu disampaikan sekadar untuk merespons "rasa sakit nan dirasakan banyak umat Muslim" atas pemberian gelar ksatria Inggris kepada penulis kitab The Satanic Verses, Sir Salman Rushdie. Meski demikian, dia tetap memihak tindakannya nan membandingkan seorang penulis dengan tokoh di kembali tewasnya ribuan orang.

Kritik terhadap Ashrafi rupanya tidak berakhir pada pernyataannya mengenai Bin Laden. Saat menganugerahkan penghargaan, Lambeth Palace sempat menyoroti keterlibatan Ashrafi dalam memihak Rimsha Masih, seorang anak wanita Kristen di Pakistan nan dituduh melakukan penistaan kepercayaan pada 2012.

Meski demikian, dalam rekam jejaknya Ashrafi justru mendukung pemberlakuan norma penistaan kepercayaan di Pakistan. Regulasi ketat tersebut diperkirakan telah menjerat sekitar 2.000 orang sejak akhir 1980-an, di mana penduduk minoritas Kristen, Ahmadiyah, hingga kebanyakan Muslim Sunni kerap menjadi korbannya.

Ashrafi menyatakan bahwa norma penistaan kepercayaan justru "menyelamatkan nyawa" dengan mencegah masyarakat menghakimi sendiri. Namun, klaim tersebut dibantah oleh Human Rights Watch nan menegaskan bahwa undang-undang tersebut melanggengkan diskriminasi kepercayaan dan kerap disalahgunakan untuk menindas golongan miskin serta minoritas. (BBC/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia