Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran kalangan pengusaha terhadap potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS rupanya bukan sekadar ancaman.
Di lapangan, serikat pekerja mengaku sudah merasakan dampaknya, khususnya di sektor tekstil dan garmen nan selama ini berjuntai pada bahan baku impor.
Ketua DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jawa Barat, Roy Jinto Ferianto, menilai tekanan kurs dolar nan terus menguat berpotensi memperparah kondisi industri nasional. Menurutnya, struktur industri dalam negeri nan tetap berjuntai pada bahan baku impor membikin kenaikan nilai tukar langsung berakibat pada biaya produksi.
"Sejak dollar terus naik dan pemerintah tidak bisa mengendalikan tentu saja PHK bakal terjadi lantaran bahan baku industri kita ini kebanyakan import sehingga sudah pasti biaya produksi meningkat sedangkan market semakin lesu lantaran daya beli masyarakat nan menurun," kata Roy kepada CNBC Indonesia, Senin (8/6/2026).
Di saat nan sama, bumi upaya juga menghadapi tantangan dari sisi permintaan nan belum pulih sepenuhnya. Kombinasi kenaikan biaya produksi dan lemahnya daya beli dinilai membikin ruang mobilitas perusahaan semakin sempit.
"Dengan demikian perusahaan bakal mengurangi beban cost dengan mengurangi jumlah tenaga kerja dengan PHK apalagi bakal melakukan penutupan perusahaan. Baik itu tutup lantaran mengalami kerugian alias tutup lantaran pailit," ujarnya.
Roy mengungkapkan, indikasi tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak awal tahun. Industri tekstil dan garmen menjadi salah satu sektor nan paling terdampak lantaran banyak menggunakan bahan baku impor, sementara sebagian besar produknya dijual di pasar domestik dalam mata duit rupiah.
"Sejak Januari 2026 sampai sekarang personil sudah ter-PHK 3.000 orang kurang lebih, itu dari industri garmen dan tekstil" ungkap Roy nan juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang dan Kulit (FSP TSK).
Pernyataan Roy sejalan dengan keluhan kalangan pengusaha. Sebelumnya, Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, mengatakan banyak perusahaan sudah menghentikan pembukaan lowongan kerja baru dan mulai mempercepat rencana PHK demi menjaga arus kas usaha.
Pengusaha menilai sektor nan paling tertekan adalah industri nan mengimpor bahan baku menggunakan dolar AS tetapi menjual produknya di pasar domestik dengan rupiah. Kondisi tersebut membikin margin upaya semakin tergerus ketika nilai tukar terus melemah.
Dengan tekanan kurs nan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, kalangan pekerja cemas jumlah pekerja terdampak PHK tetap berpotensi bertambah pada paruh kedua tahun ini, terutama andaikan perusahaan mulai kehabisan ruang untuk melakukan efisiensi selain pengurangan tenaga kerja.
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·