Pengusaha Bongkar Marak Pabrik di RI Pindah ke Vietnam karena Pesangon

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha ungkap salah satu penyebab banyaknya perusahaan nan hengkang alias relokasi ke luar negeri, terutama ke negara-negara lain di ASEAN. Adapun aspek tersebut ialah besaran pesangon.

Wakil Ketua Umum Bidang Ketenagakerjaan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Subchan Gatot mengatakan besaran pesangon di Indonesia menjadi nan paling tinggi jika dibandingkan dengan Vietnam dan Kamboja.

"Terkait relokasi industri dari Indonesia ke Vietnam dan Kamboja, jadi memang secara nominal di sini tingkat bayaran Indonesia itu relatif kompetitif dibandingkan dengan negara lain di Kawasan ASEAN, namun itu bukan satu-satunya nan dilihat oleh investor, mereka juga memandang dari hubungannya total biaya nan memang dianggap tidak kompetitif akibat tingginya tanggungjawab pesangon nan jauh di atas negara pesaing. Jadi, gimana terjadinya relokasi industri dari Indonesia ke Vietnam dan juga Kamboja," kata Subchan dalam paparannya saat rapat dengar pendapat (RDP) berbareng Komisi IX DPR RI, mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketenagakerjaan, Selasa (14/4/2026).

Subchan merinci jumlah pesangon nan kudu dibayar kepada pekerja nan masa bekerjanya sudah satu tahun ialah satu bulan gaji. Sedangkan di Vietnam dan Kamboja, besaran pesangon nan kudu dibayarkan kepada pekerja nan masa bekerjanya sudah satu tahun ialah separuh bulan gaji.

"Ini juga nan membikin tekanan cukup tinggi bagi perusahaan, di mana total pesangon pekerja di Indonesia rata-rata masa bekerja 1 tahun adalah 1 bulan gaji. Sedangkan di Vietnam dan Kamboja itu 0,5 bulan penghasilan pesangonnya," lanjutnya.

Ia menambahkan potensi pesangon di Indonesia bisa mencapai 19 bulan penghasilan untuk pekerja dengan masa kerja 10 tahun. Sedangkan di Vietnam hanya mencapai 5 bulan penghasilan untuk masa bekerja 10 tahun.

Selain itu, biaya pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia juga terbilang tinggi ialah mencapai 240% lebih tinggi dari Vietnam dan Kamboja.

"Adanya disparitas ini, membikin perusahaan mau merelokasi pabriknya ke luar Indonesia. Jadi memang pesangon kita tetap cukup tinggi, sehingga memang beban nan dipikul oleh pengusaha di Indonesia jika kita memandang komparasi ini, wajar jika memang sebagian itu melakukan ekspansi ke luar, terutama ke Vietnam dan Kamboja," terangnya.

Selain itu, persoalan lain terletak pada ketidaksesuaian antara bayaran minimum dan keahlian riil industri. Upah minimum di Indonesia tercatat sekitar US$334,60, lebih tinggi dibanding Vietnam nan sebesar US$204. Namun, rata-rata keahlian bayar sektor manufaktur di Indonesia hanya sekitar US$188,31.

Sebaliknya, di Vietnam, rata-rata bayaran riil justru berada di atas bayaran minimum, ialah sekitar US$342. Kondisi ini membikin banyak perusahaan padat karya di Indonesia kesulitan memenuhi ketentuan bayaran minimum.

"Sebagian besar bayaran minimum memang tidak bisa dipenuhi oleh perusahaan padat karya," ujarnya.

(chd/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News