Penguatan Tata Kelola Ekspor Komoditas Bakal Sehatkan Perekonomian

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Penguatan Tata Kelola Ekspor Komoditas Bakal Sehatkan Perekonomian Ilustrasi(ANTARA)

SEKTOR komoditas sumber daya alam (SDA) merupakan aset strategis bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan info Kementerian Koordinator Ekonomi (Kemenko), ekspor SDA menyumbang sekitar 60% dari total ekspor Indonesia. Tiga komoditas ekspor terbesar meliputi batubara sekitar 8,65%, diikuti crude palm oil (CPO) sebesar 8,63% dan ferro alloy sebanyak 5,82%.

Pada 2024 total ekspor batu bara mencapai USD 30,49 miliar, produk sawit USD 27,76 miliar dan ferro alloy sekitar USD 13,8 miliar. Secara total, nilai ekspor tiga komoditas tersebut sangat besar, mencapai USD 72,05 miliar alias lebih dari Rp 1.152.800 triliun (kurs Rp 16.000 per USD).

"Batu bara, sawit dan nikel sangat strategis dan volume ekspornya sangat tinggi. Sebagai aset sumber daya alam, mestinya komoditas-komoditas krusial bumi itu bisa memberikan nilai tambah nan lebih besar kepada perekonomian. Apalagi kondisi geopolitik dunia terus berubah dan semua negara berupaya mengelola aset-aset strategisnya," ujar Pengamat Pasar Modal Fendi Susiyanto, Senin (15/6). 

Menurut Fendi keputusan pemerintah untuk memperkuat tata kelola ekspor dengan membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mempunyai relevansi dengan lampau lintas ekspor komoditas SDA nan belum transparan dan akuntabilitasnya rendah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya eksportir komoditas SDA nan mempunyai perusahaan hubungan di luar negeri.

"Sebagai produsen CPO terbesar di bumi semestinya Indonesia mempunyai peran nan lebih besar dalam perdagangan CPO internasional, baik dari sisi nilai maupun volume, sehingga penerimaan negara menjadi lebih optimal. Jika DSI bisa melakukan monitoring dan menertibkan transaksi ekspor melalui sistem satu pintu, rasanya bakal banyak akibat positif nan bisa dinikmati pemerintah dan rakyat Indonesia dari sumber daya alamnya ini,” tegas Fendi.

Lebih jauh Fendi mengatakan, salah satu untung nan bisa dioptimalkan oleh DSI adalah pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE). Selama ini pemerintah kesulitan untuk menarik kembali hasil transaksi ekspor ke bank-bank di dalam negeri.

Bertahun-tahun pemerintah berupaya meningkatkan arus DHE ke dalam negeri melalui beragam instrumen regulasi, tapi belum berhasil. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan persediaan devisa di Bank Indonesia (BI) nan tidak mengalami pertumbuhan signifikan, sementara nilai ekspor beragam komoditas terus melonjak.

"Jika DHE ekspor komoditas ini bisa dikelola bank-bank dalam negeri tentunya BI juga bisa mempunyai keahlian lebih besar saat rupiah mengalami tekanan seperti saat ini. Indonesia kudu berani mengambil kebijakan nan mendukung penguatan rupiah melalui aset-aset strategis seperti ekspor komoditas ini,” tegasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia