Ilustrasi(MI/Usman Iskandar)
DIREKTUR Eksekutif Infra Bestari, Gede Sandra, mengaku tak percaya jika langkah MSCI menurunkan kasta pasar saham Indonesia dari emerging menjadi standalone market, lantaran soal tata kelola alias transparansi info emiten.
Apalagi ada pihak-pihak nan mengaitkannya dengan ekspansi upaya pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam mengakuisisi 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik konglomerat Low Tuck Kwong.
"Itu jelas enggak betul. Tidak ada kaitannya MSCI dengan Haji Isam nan membeli saham BYAN. Itu kan murni bisnis, satunya lagi soal kebijakan internalnya (MSCI) nan punya tujuan tertentu," kata Gede di Jakarta, Selasa (20/10).
Gede mempertanyakan pihak-pihak nan menilai tidak transparannya proses akuisisi 30,25% saham BYAN nan nilainya Rp26,1 triliun.
"Zaman sekarang mana bisa tidak transparan. Tapi memang pihak bank bisa memberikan penjelasan lebih perincian kepada market," ungkapnya.
Gede mengaku lebih percaya bahwa rencana MSCI nan dikenal sebagai penyedia indeks global, bakal menurunkan (downgrade) pengelompokkan bursa saham Indonesia, lantaran kepentingan asing. Analisis itu menguat ketika Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara berjumpa petinggi IMF dan Bank Dunia dalam IMF–World Bank Group Annual Meetings 2026 di Bangkok, Thailand pada 12–18 Oktober 2026. Kehadiran Suahasil semestinya bisa melunakkan MSCI, rupanya tidak.
“Kemarin terpilih Menkeu Suahasil nan sealiran dengan Sri Mulyani, diharapkan bisa memperbaiki hubungan dengan pasar dunia, termasuk MSCI. Ternyata tidak demikian adanya," ungkapnya.
Dia menduga bahwa pasar Amerika Serikat (AS) sedang mau mengganggu perekonomian Indonesia nan saat ini dipimpin Prabowo Subianto. "Dengan segala kejutannya MSCI ini, saya memandang pasar di AS mau menghukum paradigma baru ekonomi pemerintahan Prabowo," imbuhnya.
Sementara itu, mantan Menteri Perdagangan (Mendag) M Lutfi menuding kepentingan upaya kakap di Singapura nan mendorong agar MSCI menurunkan pengelompokkan pasar saham di Indonesia ke standalone market.
Berdasarkan info 2024, investasi asing nan masuk ke Singapura berada di kisaran US$3.130 miliar hingga US$3.169 miliar. Dasbor resmi Departemen Statistik Singapura (SingStat), menyebut, investasi dari negeri Paman Sam adalah nan terbesar. Kontribusinya sekitar 28 persen dari total investasi asing nan masuk alias setara US$874,9 miliar.
Menurut Lutfi, ancaman MSCI menurunkan ranking pasar saham di Indonesia, jelas tidak berdiri sendiri. Ia menduga, dorongan MSCI didorong kepentingan lembaga raksasa Singapura, misalnya Temasek dan GIC (Government of Singapore Investment Corporation) selaku pengelola persediaan devisa pemerintah Singapura untuk investasi.
Keduanya berkepentingan untuk men-downgrade pasar saham Indonesia sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betul-betul babak belur. Sebelumnya, mereka menarik biaya besar-besaran dari Indonesia, namun kandas membikin 'rungkad' saham-saham di bursa pengaruh Indonesia.
“Dana-dana asing sudah keluar sekitar 80% dari pasar Indonesia. Namun, bursa kita tidak hancur, nilai saham tidak turun," ungkapnya.
Ketika MSCI menurunkan kasta pasar pengaruh di Indonesia menjadi standalone, diharapkan IHSG dan saham di Indonesia ambruk. Saat itulah, mereka menyerok saham merah putih dengan nilai potongan nilai namalain murah.
"Jangan mau diadu-adu, dibuat minder negara tetangga. Ini soal siapa memegang kendali atas kekayaan Indonesia. Kita kudu kompak, kudu patriotik, mari jaga nilai diri bangsa kita sendiri," pungkasnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·