Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato selama kunjungan inspeksi ke Kementerian Olahraga dan Pemuda di Teheran, Iran pada 19 April 2026.(Anadolu Agency/)
KESEPAKATAN nota kesepahaman (MoU) terbaru antara Amerika Serikat dan Iran memicu gelombang respons mengenai masa depan stabilitas di Timur Tengah. Pengamat Timur Tengah, Smith Alhadar, menilai kesepakatan ini merupakan titik kembali nan secara signifikan lebih menguntungkan posisi Teheran dibandingkan Tel Aviv.
Menurut Smith, meskipun MoU ini berpotensi meredakan ketegangan di kawasan, tantangan terbesar justru datang dari reaksi Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sekarang dihadapkan pada pilihan susah antara mematuhi kesepakatan Washington alias mengambil akibat politik besar dengan membangkang terhadap Presiden AS.
"Tapi apakah Netanyahu bakal patuhi? Sangat sulit, meskipun bukan tidak mungkin, lantaran membangkang terhadap presiden AS berisiko besar bagi Israel. Trump tak punya opsi lain lantaran terikat dengan MoU nan mengharuskan penghentian bentrok di semua front," ujar Smith Alhadar saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (18/6/2026).
Keterbatasan Militer Israel
Smith menyoroti bahwa kesempatan Israel untuk melakukan tindakan militer sepihak terhadap Iran sekarang semakin mengecil. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan sumber daya alam (SDA) dan menipisnya persediaan persenjataan Israel setelah rentetan bentrok panjang di beragam front.
"Israel tak bakal melakukannya lantaran Israel tak bisa lagi melawan Iran tanpa support AS. Selain SDA-nya terbatas, persenjataannya pun menipis, apalagi Trump tak bakal membantunya," tegas Smith. Ia menambahkan bahwa upaya provokasi melalui serangan ke Libanon, Yaman (Houthi), alias Irak sekarang bakal dianggap sebagai pelanggaran langsung terhadap MoU tersebut.
Salah satu poin paling strategis dalam MoU ini adalah pengakuan peran Iran dan Oman dalam mengendalikan Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital bagi perdagangan daya bumi ini dinilai bakal menjadi perangkat tawar (leverage) politik nan jauh lebih kuat bagi Iran di mata internasional.
"Secara rasional, MoU bakal bertahan. Dalam MoU, disepakati Iran dan Oman bakal mengendalikan Selat Hormuz. Ini bakal menjadi leverage utama Iran nan lebih besar dampaknya bagi bumi daripada peledak nuklir," lanjutnya.
Solusi Dua Negara sebagai Jalan Keluar
Di tengah kebuntuan militer, Smith menyarankan agar Israel mengambil langkah logis dengan mengakhiri konfrontasi dan kembali ke meja perundingan melalui two-state solution (solusi dua negara). Langkah ini dianggap sebagai satu-satunya langkah bagi Israel untuk keluar dari isolasi regional dan bergabung dengan negara-negara Arab.
"Mengejar ambisi dengan mengandalkan kekuatan militer semata telah terbukti kandas mencapai tujuan. Bukankah Israel tak bisa mengalahkan Iran, Hizbullah, apalagi Hamas?" pungkas Smith.
Dunia sekarang menanti apakah kesepakatan ini bakal menjadi awal dari perdamaian permanen alias justru memicu dinamika bentrok baru di bawah bayang-bayang tekanan diplomatik Amerika Serikat. (Fer/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·