Penentuan Desil Bakal Dikaji Ulang, Pemerintah Tunggu Hasil Sensus Ekonomi

Sedang Trending 31 menit yang lalu

Jakarta -

Penentuan nomor desil masyarakat Indonesia bakal dikaji ulang. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan info bakal selalu berubah.

"Ya selalu (data berubah), info sifatnya dinamis," kata Airlangga di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026) lalu.

Saat ini Sensus Ekonomi dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sensus itu bakal mengevaluasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang kan ada economic survei, jadi tentu. Kemarin kan unik desil ekonomi basisnya DTSEN, dan sekarang kebijakan bansos itu menggunakan satu info dari DTSEN," terangnya.

Ditemui hari berikutnya, Airlangga memastikan perubahan nomor desil masyarakat Indonesia tetap menunggu dari hasil Sensus Ekonomi nan dilakukan BPS.

"(Pengkajiannya) Itu kan di BPS, BPS sedang melakukan sensus ekonomi, kita tunggu aja sensus ekonominya," tegasnya, Jumat (22/8/2026).

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan mengenai ramainya makna dari desil masyarakat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Salah satu info krusial dalam DTSEN adalah desil, ialah pengelompokan family berasas posisi relatif tingkat kesejahteraannya. Desil 1 merupakan golongan dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan golongan dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan nomor desil menunjukkan posisi relatif suatu family dibandingkan family lainnya berasas beragam karakter sosial ekonomi. Ia menyebut, nomor desil tidak serta merta menjadi ukuran ekonomi satu keluarga.

"Karena itu, nomor desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga," kata dia dalam keterangannya, dikutip Sabtu (22/8/2026).

Amalia menegaskan, dengan demikian, desil bukan ukuran absolut kemiskinan maupun ukuran nominal pendapatan alias kekayaan suatu keluarga.

(ada/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance