Pendaki Ilegal Cedera di Semeru: Ditemukan di 2.500 Mdpl, Ditinggal Rombongan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Satu pendaki terlarangan nan ditinggalkan rombongan ditemukan tim campuran di area Gunung Semeru. Foto: Istimewa

Seorang pendaki terlarangan mengalami cedera kaki di Gunung Semeru. Pendaki tersebut sempat ditinggalkan rombongan 14 orang lainnya usai dia terjatuh dan mengalami cedera.

Mereka mendaki berbareng secara terlarangan melalui area Taman Satriyan, Kabupaten Malang.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha menjelaskan, keberadaan korban diketahui dari keterangan tiga pendaki terlarangan lain nan diamankan penduduk Kampung Anyar, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, pada Senin, 15 Juni 2026.

Dari hasil pemeriksaan, petugas memperoleh info bahwa tetap ada seorang pendaki nan terluka dan tertinggal di area Gunung Semeru.

"Dari info tersebut, pada tanggal 16 Juni 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, tim pemindahan campuran dikerahkan untuk melakukan pencarian dan evakuasi," kata Rudijanta melalui keterangannya Rabu malam (17/6).

Satu pendaki terlarangan nan ditinggalkan rombongan ditemukan tim campuran di area Gunung Semeru. Foto: TNBTS

Tim terdiri dari petugas BB TNBTS, PPGST, Gimbal Alas, serta sejumlah relawan. Tim advance diberangkatkan sekitar pukul 13.00 WIB dan melakukan penyisiran menuju letak nan diperkirakan menjadi posisi pendaki.

Ditemukan di ketinggian 2.500 mdpl

Petugas awalnya tidak menemukan korban di titik nan disebutkan. Namun, pencarian terus dilakukan hingga korban akhirnya ditemukan sekitar pukul 17.00 WIB pada Selasa (16/6).

Saat ditemukan, korban berada di ketinggian kurang lebih 2.500 mdpl. Korban belum sempat mencapai puncak Gunung Semeru dan tidak dapat turun secara berdikari lantaran mengalami cedera pada salah satu kakinya.

"Pemeriksaan awal di lapangan, pendaki tersebut mengalami cedera pada salah satu kaki, sehingga memerlukan penanganan dan pemindahan segera," kata dia.

Dengan mempertimbangkan kondisi korban, keterbatasan peralatan medis, medan nan kudu dilalui, serta aspek keselamatan, tim campuran memutuskan melakukan pemindahan pada hari nan sama.

Dievakuasi hingga Dini Hari

Setelah mendapatkan penanganan awal, korban dievakuasi menggunakan tandu menuju permukiman terdekat di area Ampelgading.

"Setelah melalui proses pemindahan nan cukup panjang dan menantang, korban sukses dibawa keluar area pada tanggal 16 Juni 2026 sekitar pukul 23.30 WIB," ucapnya.

Selanjutnya, pada tanggal 17 Juni 2026 sekitar pukul 02.30 WIB, korban dirujuk ke Rumah Sakit Sumber Sentosa Tumpang, untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Menurut Rudijanta, seluruh pendaki terlarangan nan sebelumnya terdeteksi berada di area Gunung Semeru sekarang telah sukses diamankan, termasuk korban nan mengalami cedera.

Total 17 Pendaki Ilegal Diamankan

Dari total 17 pendaki terlarangan nan terdeteksi memasuki area Gunung Semeru, seluruhnya telah diamankan petugas. Mereka terdiri atas rombongan nan naik melalui jalur Taman Satriyan dan dua pendaki lain nan diamankan di area Ranupani.

Rudi menjelaskan, terdapat 15 orang nan naik melalui jalur Taman Satriyan, terdiri atas 12 pendaki, dua pemandu, dan satu porter alias pramubarang. Sementara itu, dua pendaki lainnya diamankan di area RPTN Ranupani.

"Semuanya sudah turun. Mereka sudah selesai dimintai keterangan. Untuk perincian pemeriksaannya ke Gakkum (Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan) nan menangani," tukasnya.

Sebagai informasi, kasus ini menjadi peristiwa kedua nan melibatkan pendaki terlarangan mengalami cedera di Gunung Semeru dalam waktu berdekatan. Sebelumnya, pada awal Juni 2026, seorang pendaki terlarangan berinisial C (18) mengalami dislokasi engkel kaki kanan setelah terjatuh ke lembah sedalam 375 meter di jalur pendakian Candi Jawar, Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

Proses pemindahan saat itu berjalan selama beberapa hari lantaran tim penyelamat kudu menggunakan peralatan pendukung serta melibatkan tenaga ahli dari Basarnas Kantor Surabaya.

Pendakian Ditutup lantaran Aktivitas Vulkanik

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) menegaskan status pendakian ke puncak Gunung Semeru tetap ditutup. Fluktuasi alias tetap naik turunnya aktivitas vulkanik Gunung Semeru menjadi salah satu penyebabnya, beberapa kali gunung tertinggi di Pulau Jawa itu erupsi.

Rudijanta mengatakan, larangan ini demi keamanan dan keselamatan pendaki sendiri. Apalagi saat ini Gunung Semeru tetap berstatus level III alias siaga, maka ketika ada pendaki masuk jalur terlarangan dikhawatirkan bakal menakut-nakuti keselamatan pendaki itu sendiri.

"Selain melanggar ketentuan nan berlaku, aktivitas tersebut mempunyai akibat tinggi terhadap keselamatan jiwa, serta dapat menyulitkan proses pengamanan andaikan terjadi keadaan darurat di dalam area konservasi," ujar Rudijanta Tjahja Nugraha, dikonfirmasi pada Rabu (18/6).

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan