Kabut asap karhutla menyelimuti Singapura, membikin PSI mencapai 105 alias kategori tidak sehat, pertama kali sejak Oktober 2023.
Kualitas udara di Singapura pada Jumat (4/9/2026) pagi memburuk hingga masuk kategori tidak sehat akibat kabut asap kebakaran rimba dan lahan lintas-batas alias transboundary haze dari negara-negara di sekitarnya. (REUTERS/Suhaimi Abdullah)
Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) mencatat Indeks Standar Polutan (Pollutant Standards Index/PSI) mencapai 105 pada pukul 10.00 waktu setempat. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, nan berada pada rentang PSI 101-200. (REUTERS/Suhaimi Abdullah)
Kondisi serupa terakhir kali terjadi di Singapura pada Oktober 2023, ketika kabut asap lintas-batas menyelimuti negara kota tersebut. (REUTERS/Suhaimi Abdullah)
Dilansir The Straits Times, Layanan Meteorologi Singapura memperkirakan kondisi berkabut tetap dapat berjalan dalam dua pekan ke depan. Cuaca kering diperkirakan memperkuat hingga paruh pertama September, meski curah hujan berpotensi meningkat pada pekan kedua. (REUTERS/Suhaimi Abdullah)
NEA mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Otoritas juga mencatat peningkatan jumlah titik panas dan kabut asap di wilayah sekitar Singapura. (REUTERS/Suhaimi Abdullah)
Kabut asap pekat dilaporkan nyaris setiap hari terlihat di wilayah selatan dan tengah Sumatra serta sejumlah bagian Kalimantan sejak 21 Agustus. Kondisi tersebut terjadi di tengah kebakaran rimba dan lahan di Indonesia nan dipicu kondisi cuaca kering akibat kejadian El Nino Super. (REUTERS/Suhaimi Abdullah)
Tingkat keparahan kabut asap nan mencapai Singapura sangat berjuntai pada arah angin. Selain Singapura, Malaysia juga terdampak kabut asap dari kebakaran di Indonesia. Kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia apalagi mencapai tingkat rawan dan diikuti lonjakan kasus asma. (REUTERS/Suhaimi Abdullah)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·