Salah satu SPBU di Medan, Sumatra Utara.(MI/Yoseph Pencawan)
PENAIKAN nilai bahan BBM jenis Pertamax nan bertindak mulai Rabu (10/6) dinilai berpotensi memicu lonjakan nomor inflasi di Sumatra Utara hingga 0,31%. Hal itu lantaran kenaikan ongkos transportasi pribadi berkesempatan mendorong penambahan biaya input produksi dan bakal menekan daya beli masyarakat pengguna Pertamax.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengungkapkan, penaikan harga Pertamax nan nyaris menyentuh nomor Rp4.000, tepatnya sebesar Rp3.950 per liter, bakal langsung memberi tekanan kuat pada laju inflasi daerah, terutama di sektor transportasi.
"Kenaikan nilai Pertamax bakal memicu besaran laju tekanan inflasi mengingat berat pembentukan inflasi dari Pertamax ini lebih besar dibandingkan dengan kenaikan nilai BBM nonsubsidi jenis lain, sebelumnya," kata dia, Rabu (10/6).
Menurut Gunawan, tingginya berat komoditas ini tergambar langsung dari masifnya jumlah pengguna di lapangan nan didominasi oleh masyarakat kelas menengah. Penaikan nilai Pertamax ini juga dapat mendorong penyesuaian tarif pada beberapa moda pikulan umum dalam waktu dekat.
Dampak ini kian terasa mengingat penggunaan BBM bersubsidi jenis Pertalite sudah diatur ketat oleh pemerintah. Selain memukul sektor transportasi, Gunawan menyebut lonjakan biaya ini pada dasarnya juga bakal mendorong penaikan nilai pada komoditas pangan.
"Mengingat kenaikan ongkos transportasi pribadi berkesempatan mendorong kenaikan biaya input produksi. Hal ini bakal menekan daya beli masyarakat pengguna Pertamax. Dengan kenaikan mencapai Rp3.950 per liter, ini bakal sangat menentukan besaran pengeluaran masyarakat nantinya," papar dia.
Dampak lain nan perlu dipantau secara ketat adalah potensi migrasi konsumen dari Pertamax ke Pertalite. Meski pemerintah membatasi kriteria kelas mesin tertentu untuk menggunakan Pertalite, realita di lapangan tetap membuka celah peralihan itu, terutama bagi pemilik sepeda motor.
"Pertalite banyak dijual secara eceran. Potensi peralihan pada pengguna sepeda motor ke Pertalite itu sangat potensial," ujar Gunawan.
Namun ruang migrasi bagi kendaraan roda empat alias mobil pribadi dinilai jauh lebih terbatas. Hal itu lantaran kriteria penerima manfaatnya diatur lebih ketat.
Pemilik mobil pribadi juga dinilai susah menyiasatinya dengan membeli Pertalite eceran. Sebab mempunyai risikonya terlalu besar, di samping pertimbangan performa mesin nan membikin mereka tetap memperkuat menggunakan Pertamax.
Menghadapi tingginya biaya konsumsi daya ini, Gunawan memandang adanya kemungkinan lain ialah pengguna kendaraan bakal beranjak ke mobil alias motor berkapasitas silinder (CC) mini agar bisa menikmati Pertalite.
Namun dia mengingatkan, pertimbangan ini juga penuh akibat lantaran kebijakan pemerintah bisa berubah sewaktu-waktu. Di sisi lain, penaikan nilai Pertamax pun dinilai memicu pengganti penggunaan kendaraan listrik (EV) kembali mencuat di tengah masyarakat Sumut. (YP/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·