
Menteri ESDM Bahlil (Foto: Okezone)
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku saat ini Pemerintah tengah membahas wacana penerapan work from anywhere (WFA) sebagai kebijakan untuk menekan konsumsi BBM dalam negeri, di tengah bentrok Iran-AS.
Bahlil menjelaskan, akibat bentrok tersebut berkapak pada tersendatnya rantai pasok minyak mentah ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebab salah satu selat nan melayani 20-30 persen perdagangan minyak dunia, Hormuz, ditutup oleh Pemerintah Iran.
"Memang ada beberapa langkah-langkah nan bakal dilakukan, tetapi sedang dikaji. Tentang apakah kita butuhkan WFA, tetapi menurut saya semua kemungkinan itu bisa terjadi, nan krusial adalah penghematan BBM," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (17/3/2026).
Penutupan selat hormuz secara langsung menguji ketahanan fiskal. Harga minyak mentah dalam dugaan APBN USD70 dolar, saat ini telah melonjak hingga lebih dari USD90 dolar. Sehingga Pemerintah perlu meningkatkan kompensasi kenaikan nilai minyak mentah jika mau menjaga nilai subsidi.
"Tapi nan krusial adalah penghematan terhadap BBM. Disamping kita memang menghemat impor, itu juga (WFA) menghemat pengeluaran bagi seluruh masyarakat Indonesia," sambungnya.
Sebelumnya Ekonom INDEF, Hakam Naja memproyeksikan penutupan Selat Hormuz bisa memicu defisit APBN Rp149,6 triliun. Ia menjelaskan, dugaan makro APBN 2026 nilai minyak pada kisaran USD70 per barel. Sedangkan kenaikan USD1 per barel minyak bakal meningkatkan defisit sebesar Rp6,8 triliun. Sehingga, jika nilai minyak saat ini berada di nomor USD92 per barel, maka APBN diproyeksikan terkuras Rp149,6 triliun.
"Kenaikan nilai minyak pada nomor mendekati USD100 per barel ini bisa mendongkrak defisit APBN terhadap PDB mendekati 4 persen, melampaui nomor 3 persen nan dipatok oleh UU no. 17/2003 tentang Keuangan Negara," ujar Naja dalam keterangan tertulis nan diterima MNC Portal, Minggu (8/3/2026).
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·