Maestro pelukis, Sri Hadhy, dikabarkan meninggal bumi pada Minggu (14/6). Ia mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Pasar Minggu, Jakarta pada pukul 11.20 WIB.
Kabar ini disampaikan oleh mantan Menperin sekaligus kerabat almarhum, Saleh Husin.
"Iya, betul," ucapnya kepada kumparan pada Minggu (14/6).
Saat ini, jenazah Sri Hadhy disemayamkan di Kompleks Jati Utama, Jati Padang, Jakarta Selatan. Selanjutnya, almarhum bakal dibawa ke Wara, Yogyakarta pada Selasa 16 Juni mendatang.
Sekilas Profil Sri Hadhy
Sri Hadhy lahir pada 18 Desember 1943 di Purwodadi, Jawa Tengah, Indonesia. Ia menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta. Setelah itu, dia melanjutkan studinya di Belanda, tepatnya di Vrije Academie Voor Beeldende Kunsten de Vrije Academie Psychopolis, Den Haag. Ia mulai mengikuti pameran sejak tahun 1963.
Dari tahun 1972 hingga 1988, dia tinggal berbareng keluarganya di Den Haag, Belanda. Selama periode tersebut, dia memperoleh pengakuan internasional dengan memamerkan karya-karyanya di galeri dan museum, tidak hanya di Belanda tetapi juga di Jerman, Prancis, Spanyol, Swiss, Yugoslavia, Denmark, Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko, dan Amerika Serikat.
Setelah kembali ke tanah air, dia terus memamerkan karya-karyanya di beragam negara, antara lain Australia, Tiongkok, Jepang, Italia, Amerika Serikat, Kanada, Norwegia, Swedia, Denmark, Finlandia, Laos, Vietnam, Hong Kong, Makau, dan Filipina.
Saat ini, banyak lukisannya menjadi bagian dari koleksi Kedutaan Besar dan Konsulat Indonesia di beragam negara, serta tersimpan di museum seperti Museum Rijswijk di Belanda, Museum Nasional Jakarta, dan Graha Lukisan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Karya-karyanya juga menjadi bagian dari koleksi pribadi Presiden Hosni Mubarak, Paus Yohanes Paulus II di Vatikan, Lee Kuan Yew, dan Yasuo Fukuda.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·