Militer Israel membombardir area Dahiyeh di Beirut, Lebanon, Minggu (14/6)(Dok. Antara)
MILITER Israel melancarkan serangan udara ke wilayah pinggiran selatan ibu kota Libanon, Beirut, pada Minggu (14/6). Aksi ini memicu kekhawatiran besar lantaran dilakukan di tengah kesepakatan gencatan senjata nan semestinya tetap berjalan antara kedua belah pihak.
Berdasarkan laporan koresponden Anadolu, pesawat tempur Israel membombardir area Dahiyeh tanpa peringatan terlebih dahulu. Saksi mata melaporkan terdengar dua ledakan keras di area tersebut, disusul kepulan asap tebal nan membumbung tinggi dari letak sasaran serangan.
Pihak militer Israel dalam pernyataan resminya mengeklaim bahwa serangan tersebut ditujukan ke sebuah letak nan berafiliasi dengan golongan Hizbullah. Namun, serangan ini terjadi di tengah masa gencatan senjata nan telah bertindak sejak 17 April 2026.
Eskalasi Ketegangan di Tengah Gencatan Senjata
Serangan pada hari Minggu ini dilaporkan terjadi hanya beberapa jam setelah pejabat tinggi Israel, ialah Kepala Otoritas Keamanan Itamar Ben-Gvir dan Kepala Otoritas Keuangan Bezalel Smotrich, menyerukan serangan udara terhadap Dahiyeh. Seruan tersebut muncul sebagai respons atas serangan dua pesawat nirawak Hizbullah ke wilayah utara Israel sebelumnya.
Meskipun ada kesepakatan penghentian permusuhan, militer Israel tercatat terus melanjutkan operasi pengeboman di Libanon sejak 2 Maret 2026. Hingga saat ini, pasukan Israel juga dilaporkan tetap menduduki sejumlah wilayah di bagian selatan Libanon.
Dampak Kemanusiaan nan Terus Meningkat
Data dari otoritas Libanon menunjukkan akibat destruktif dari rangkaian bentrok nan terjadi sejak awal Maret lalu. Serangan Israel dilaporkan telah menyebabkan lebih dari 3.700 orang tewas dan nyaris 11.500 orang lainnya mengalami luka-luka.
Selain korban jiwa, krisis kemanusiaan semakin memburuk dengan lebih dari 1,5 juta penduduk Libanon terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Pelanggaran gencatan senjata terbaru ini dikhawatirkan bakal memperpanjang penderitaan penduduk sipil dan menutup ruang perbincangan perdamaian di area tersebut (Ant/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·