Pelajaran dari Sungai Barito

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pelajaran Dari Sungai Barito. Dok. Ilustrasi menggunakan AI

Bagi sebagian orang, Sungai Barito mungkin hanya terlihat sebagai bentang alam nan membelah Kalimantan. Namun bagi masyarakat nan hidup di sepanjang alirannya, sungai ini adalah sumber kehidupan. Ia menjadi jalur transportasi, sumber mata pencaharian, tempat mencari ikan, penyedia air, hingga bagian dari identitas budaya nan diwariskan dari generasi ke generasi.

Saya berkesempatan memandang Sungai Barito bukan hanya sebagai pemandangan, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika kehidupan masyarakat. Dari sana saya belajar bahwa sungai tidak pernah sekadar mengalir. Ia menyimpan cerita tentang gimana manusia memperlakukan alam.

Setiap musim hujan, tinggi muka air Sungai Barito menjadi perhatian banyak pihak. Ketika debit air meningkat, masyarakat mulai waspada terhadap kemungkinan banjir. Sebaliknya, saat musim tandus datang, penurunan debit air juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi aktivitas pelayaran, pertanian, hingga potensi kebakaran lahan di area sekitarnya.

Kondisi tersebut mengajarkan satu perihal penting: alam selalu memberikan tanda. Persoalannya bukan apakah tanda itu ada, melainkan apakah kita mau memperhatikannya.

Suasana di Pasar Terapung, Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Sayangnya, perhatian terhadap sungai sering kali muncul hanya ketika musibah terjadi. Ketika banjir merendam permukiman, ketika tebing sungai mengalami erosi, alias ketika aktivitas masyarakat terganggu akibat perubahan kondisi air. Setelah keadaan kembali normal, perhatian itu perlahan menghilang. Sungai kembali diperlakukan sebagai sesuatu nan biasa.

Padahal, menjaga sungai tidak cukup dilakukan saat musim hujan. Menjaga sungai berfaedah menjaga wilayah resapan air, mengendalikan pembangunan di area sempadan sungai, mengurangi pencemaran, serta memastikan tata ruang tetap menghormati kegunaan alami sungai.

Sebagai seseorang nan bekerja di bagian kebencanaan, saya menyadari bahwa sungai bukanlah penyebab utama bencana. Sungai hanya mengikuti norma alam. Air bakal selalu mencari tempat nan lebih rendah. Ketika ruang alaminya dipersempit oleh bangunan, ketika wilayah resapan berkurang, alias ketika sedimentasi terus meningkat, maka sungai bakal mencari jalannya sendiri. Sayangnya, jalur itu sering kali melewati permukiman nan dibangun terlalu dekat dengan aliran air.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa pengelolaan sungai bukan sekadar urusan teknis, tetapi juga bagian dari upaya membangun ketangguhan masyarakat. Informasi tinggi muka air, sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, hingga disiplin dalam penataan ruang merupakan investasi nan jauh lebih murah dibandingkan biaya nan kudu dikeluarkan setelah musibah terjadi.

Sungai Barito juga mengajarkan tentang keseimbangan. Ia memberikan kehidupan ketika dijaga, tetapi dapat menghadirkan akibat ketika keseimbangan alam mulai terganggu. Hubungan manusia dengan sungai semestinya bukan hubungan untuk saling menguasai, melainkan saling menghormati.

Di tengah pesatnya pembangunan, kita sering berfokus pada apa nan dapat dibangun di sekitar sungai. Padahal, pertanyaan nan lebih krusial adalah: apakah pembangunan tersebut tetap memberi ruang bagi sungai untuk menjalankan fungsinya?

Pelajaran terbesar nan saya peroleh dari Sungai Barito bukan hanya tentang air nan mengalir. Sungai mengajarkan bahwa setiap keputusan nan kita ambil hari ini—membuka lahan, membangun permukiman, membuang sampah, alias mengabaikan tata ruang—akan kembali kepada kita di masa depan.

Karena itu, menjaga Sungai Barito bukan hanya tentang menjaga sebuah sungai. Kita sedang menjaga kehidupan, menjaga lingkungan, dan menjaga keselamatan generasi nan bakal datang.

Sungai tidak pernah meminta banyak. Ia hanya memerlukan ruang untuk tetap mengalir. Dan mungkin, dari situlah kita belajar bahwa hidup nan selaras dengan alam adalah corak mitigasi terbaik nan dapat kita lakukan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan