Pekerja Informal Masih Jadi Penyangga Pasar Kerja RI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pekerja melintasi pedestrian saat jam pulang kerja di area Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (10/10/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen pada kuartal II 2026 dinilai menunjukkan perekonomian nasional nan tetap cukup kuat. Namun, nomor tersebut belum sepenuhnya diikuti perubahan struktural nan signifikan di pasar tenaga kerja.

Economic Researcher CORE, Yusuf Randy Manilet, menyatakan terdapat sekitar 59,3 persen dari 148 juta masyarakat nan bekerja tetap berada di sektor informal.

“Artinya, sebagian besar tenaga kerja memang terserap, tetapi banyak nan belum mendapatkan kepastian seperti perjanjian kerja, perlindungan sosial, dan pendapatan nan stabil,” sebut Yusuf saat dihubungi kumparan, Sabtu (8/8).

Kata Yusuf, tantangan pasar kerja Indonesia tidak hanya terletak pada pembuatan lapangan kerja, tetapi juga peningkatan kualitas pekerjaan.

Persoalan lainnya terlihat dari tetap tingginya jumlah pengangguran berilmu tinggi. Hingga Mei 2026, terdapat sekitar 1,03 juta pengangguran dengan tingkat pendidikan D4 hingga S3.

“Meski tingkat pengangguran terbuka nasional turun menjadi 4,65 persen, masalahnya adalah penyerapan tenaga kerja berilmu tinggi tetap belum optimal,” ucap Yusuf.

Ia menekankan, kondisi ini mengindikasikan adanya ketidaksesuaian alias skill mismatch antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri.

Apabila tren tersebut berlanjut, Yusuf menilai sektor informal berpotensi tetap menjadi penyangga utama pasar tenaga kerja, termasuk bagi lulusan perguruan tinggi nan belum terserap ke sektor formal.

“Banyak nan kemudian masuk ke gig economy, upaya kecil, perdagangan digital, alias pekerjaan berdikari nan tetap dikategorikan informal,” tutur Yusuf.

Di sisi lain, kesempatan pembuatan lapangan kerja umum tetap terbuka melalui pengembangan hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, dan beragam program pemerintah. Namun, kapabilitas penyerapan tenaga kerja umum dinilai tetap perlu diperkuat.

“Pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen belum cukup jika tidak diikuti peningkatan produktivitas, reformasi pendidikan, dan penguatan UMKM agar bisa naik kelas menjadi sektor formal,” jelas Yusuf.

video story embed

Ekonom INDEF Rizal Taufikurahman menilai pertumbuhan ekonomi 5,29 persen pada kuartal II 2026 juga dinilai belum secara otomatis mencerminkan perbaikan kualitas pasar kerja. Ketika jumlah pengangguran berilmu tinggi tetap berada di atas 1 juta orang dan pembuatan lapangan kerja umum belum cukup kuat, pekerja informal berpotensi tetap menjadi bagian besar dari pasar tenaga kerja dalam beberapa tahun mendatang.

“Ini menunjukkan persoalannya bukan sekadar kekurangan pekerjaan, tetapi mismatch antara struktur pertumbuhan, kebutuhan industri, dan pasokan tenaga kerja terdidik,” ujar Rizal kepada kumparan.

Rizal menuturkan, prospek pembuatan lapangan kerja umum selanjutnya bakal sangat berjuntai pada keahlian investasi dan pertumbuhan ekonomi untuk masuk ke sektor-sektor dengan pengaruh pengganda tenaga kerja nan besar, seperti manufaktur, agroindustri, konstruksi, dan pariwisata.

Apabila pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen lebih banyak ditopang oleh sektor padat modal dengan daya serap tenaga kerja nan rendah, sektor informal berpotensi semakin berkedudukan sebagai penyangga pasar kerja.

“Pengangguran mungkin turun, tetapi produktivitas, pendapatan, dan perlindungan pekerja tidak banyak membaik,” sebut Rizal.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan