Pediatric Science & Health Summit 2026 berjudul "Advancing Science for Clinical Excellence".(MI/HO)
KESEHATAN anak, khususnya pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) alias nan dikenal sebagai golden window, tetap menjadi prioritas utama dalam agenda kesehatan global, termasuk di Indonesia. Tantangan seperti gangguan saluran cerna, alergi, hingga masalah nutrisi kronis seperti stunting memerlukan solusi komprehensif nan berpijak pada sains dan praktik klinis terbaru.
Isu strategis ini menjadi inti pembahasan dalam Pediatric Science & Health Summit 2026 berjudul "Advancing Science for Clinical Excellence". Acara nan diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) berbareng IDAI Cabang Bali ini berjalan pada 7-9 Agustus 2026 di Nusa Dua, Bali, dengan menghadirkan master lintas disiplin dari beragam negara.
Investasi Strategis pada Otak dan Gut-Brain Axis
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD, Ph.D., dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa investasi pada kesehatan otak sejak 1.000 HPK adalah kunci masa depan bangsa.
Menurutnya, periode ini sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi dan sistem neuroplastisitas otak.
"Ilmu pengetahuan menunjukkan hubungan erat antara saluran cerna dan otak melalui gut-brain axis. Keseimbangan mikrobiota usus berkedudukan krusial dalam menjaga sistem imun sekaligus mendukung pematangan kegunaan otak," jelas Prof. Taruna.
Ia juga mengingatkan bahwa penemuan nutrisi kudu melalui pembuktian ilmiah dan izin nan ketat sebelum menjadi rekomendasi publik.
Peran Mikrobiota dan Sinbiotik bagi Kesehatan Anak
Saluran cerna manusia menampung sekitar 100 triliun mikrobiota nan memengaruhi daya tahan tubuh. Prof. Yvan Vandenplas, MD, Ph.D., master dari Belgia, menyoroti pentingnya asupan biotik (prebiotik, probiotik, dan sinbiotik) untuk menjaga keseimbangan kuman usus, terutama bagi anak nan lahir melalui operasi caesar.
Anak nan lahir caesar berisiko mengalami disbiosis alias ketidakseimbangan mikrobiota. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi sinbiotik tertentu dapat membantu memulihkan kuman baik secara signifikan lebih cepat.
Data Klinis Intervensi Nutrisi & Kesehatan Anak
| Kelahiran Caesar | Sinbiotik FOS:GOS 1:9 + B. breve M16-V memulihkan kuman baik 27x lebih cepat. |
| Alergi Susu Sapi (ASS) Ringan-Sedang | Extensively Hydrolyzed Formula (eHF) direkomendasikan; >90% pasien toleran. |
| Alergi Susu Sapi Berat | Amino Acid Formula (AAF) untuk perbaikan indikasi sigap (mulai hari ke-3). |
| Stunting & Gangguan Tumbuh | Fokus pada Protein Energy Ratio (PER) dan protein hewani (telur, daging, ikan). |
Tatalaksana Alergi dan Stunting Berbasis Bukti
Dalam sesi alergi, Prof. Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), menekankan pentingnya pemeriksaan awal Alergi Protein Susu Sapi (ASS). Ia meluruskan bahwa formula partially hydrolyzed (pHF) hanya untuk pencegahan, bukan untuk terapi anak nan sudah terdiagnosis alergi susu sapi.
Sementara itu, mengenai penanganan stunting, Dr. dr. Nur Aisiyah Widjaja, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), menjelaskan bahwa catch-up growth (kejar tumbuh) bukan sekadar menambah kalori.
"Keseimbangan rasio protein-energi (PER) sangat krusial untuk memastikan pertumbuhan linear dan pembentukan massa tubuh tanpa lemak nan berkualitas," tuturnya.
Jika diperlukan, penggunaan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) dapat dikombinasikan dengan makanan padat gizi sesuai rekomendasi dokter.
Komitmen IDAI untuk Pelayanan Berkualitas
Ketua Umum PP IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menegaskan bahwa forum ini adalah wadah bagi master anak untuk memperbarui pengetahuan demi pelayanan nan lebih baik.
"Kemajuan pengetahuan pengetahuan kudu diterjemahkan menjadi pelayanan nyata. Kolaborasi adalah kunci menjawab tantangan kesehatan anak nan semakin kompleks di Indonesia dan Asia Tenggara," pungkasnya. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·