Pedagang Ngaku Tak Naikkan Harga Masker-Tiru Jepang, Begini Kondisinya

Sedang Trending 44 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Masker KN95 mulai susah ditemukan di Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Sejumlah pedagang mengaku stok masker jenis tersebut sudah lenyap di tengah meningkatnya permintaan setelah erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pedagang masker di Pasar Pramuka, Habib, mengatakan stok KN95 di tokonya sudah kosong sejak Minggu (6/9/2026) kemarin. Bahkan, masker nan tersedia untuk jenis lainnya juga telah banyak terjual pada Senin (7/9/2026) pagi.

"Sudah lenyap masker. Ini tinggal kirim buat orderan online sama pengiriman gojek semua," ucap Habib saat ditemui CNBC Indonesia di lokasi.

Menurut Habib, sekitar 100 kotak masker telah terjual sejak pagi. Sementara untuk KN95, stoknya sudah tidak tersedia.

"Sudah lenyap seratus nih per pagi ini. Saya hanya jual nan masker bedah nan karet, nan KN95 sudah nggak ada stoknya. Sudah kosong dari kemarin," katanya.

Kondisi serupa ditemukan di lapak pedagang lain nan enggan disebutkan namanya. Dia juga mengaku tidak lagi mempunyai stok KN95.

Meski barangnya kosong, nilai KN95 disebut belum berubah, ialah Rp55.000 untuk bungkusan isi 50.

Sementara itu, nilai beberapa jenis masker lain mulai mengalami kenaikan. Habib mengatakan masker bedah karet isi 50 sekarang dijual Rp25.000 per kotak. Harga tersebut naik Rp5.000 dibandingkan nilai sebelumnya Rp20.000.

"Yang masker karet Rp25.000 isi 50 ya. Naiknya Rp5.000, sebelumnya Rp20 ribu per box," ungkapnya.

Kenaikan juga terjadi pada masker Sensi Duckbill. Ia menyebut nilai masker tersebut sekarang mencapai Rp125.000 per kotak isi 50, alias meningkat Rp10.000.


Berbeda dengan dua jenis tersebut, nilai masker duckbill merek Mouson dan Alkindo tetap memperkuat di level Rp25.000 per kotak isi 50.

Erlin, pedagang perangkat kesehatan di Pasar Pramuka, mengatakan stok di lapaknya sekarang hanya tersisa untuk penjualan eceran. Selama ini, dia memang tidak menyimpan masker dalam jumlah besar lantaran hanya menjadikannya sebagai peralatan pelengkap.

"Ini saya jual tinggal buat satuan doang, kayak gini-gini ya. Tapi saya nggak terlalu nyetok masker selama ini, buat pelengkap aja," ujar Erlin.

Ia memastikan belum meningkatkan nilai masker nan dijualnya.

"Masih sama ini, tetap sama. Nggak naik," katanya.

Stok KN95 Memang Terbatas

Sekretaris Jenderal Himpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka, Yoyon, mengatakan kondisi stok KN95 nan sigap lenyap tidak semata-mata disebabkan masyarakat melakukan pembelian besar-besaran.

Menurutnya, pedagang memang sebelumnya tidak banyak menyimpan stok masker lantaran tingkat penjualannya rendah.

"Stok mereka (para pedagang) memang tidak banyak, lantaran sebelumnya memang kurang jalan jualan masker di pramuka," sebut Yoyon.

Yoyon mengatakan permintaan masker memang mulai meningkat, tetapi masyarakat sejauh ini tetap membeli sesuai kebutuhan.

"Penjualan iya, mulai meningkat. Tapi belum ada masyarakat nan memborong, mereka baru membeli seperlunya saja," katanya.

Dia memastikan stok KN95 di Pasar Pramuka memang tidak banyak sehingga bakal sigap lenyap andaikan permintaan terus meningkat.

"Stok masker KN95 memang tidak banyak di Pasar Pramuka, sehingga jika ada permintaan saya pastikan bakal sigap ludes. Dan itu bukan lantaran diborong masyarakat, tapi memang stok banget sedikit di pedagang saya," ungkap dia.

Imbas Abu Vulkanik

Meningkatnya permintaan masker terjadi setelah erupsi Gunung Anak Krakatau nan memuntahkan abu vulkanik dan berakibat ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta.

Abu vulkanik merupakan pecahan batuan gunung api berukuran kurang dari 2 milimeter. Material tersebut dapat berupa butiran seperti pasir hingga partikel sangat lembut menyerupai bedak dan berpotensi mengiritasi mata serta saluran pernapasan.

Di tengah kondisi tersebut, Bambang, pedagang masker lainnya di Pasar Pramuka, meminta masyarakat tidak melakukan pembelian secara panik.

"Masyarakat kita kan latah. Iya sudah takut duluan ya," kata Bambang.

Dia mengatakan pedagang di Pasar Pramuka tidak meningkatkan nilai secara sengaja untuk memanfaatkan lonjakan permintaan.

"Enggak lah. Kita sudah mulai kayak orang Jepang lah, nggak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," ujarnya.

Menurut Bambang, kenaikan nilai justru lebih terlihat pada penjualan masker secara online.

"Nggak lah, nan naik itu di online malah. Online mah kan nggak ada aturan, nggak ada etika mereka kan," sebut dia.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News