Anak Krakatau Muncul di Permukaan Laut Hampir 100 Tahun, Ini Jejaknya

Sedang Trending 32 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung Api Anak Krakatau di Lampung terus mengalami erupsi panjang alias terus menerus sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga terakhir pada Minggu (6/9/2026) malam. Setelah periode tersebut, aktivitas erupsi kembali menunjukkan karakter letusan ringan nan selama ini menjadi karakter aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, terjadi erupsi menerus nan disertai semburan lava menerus (lava fountain), bunyi gemuruh, dan dentuman. Erupsi tersebut berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.

Fenomena dentuman nan terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat berangkaian dengan gelombang akustik berfrekuensi rendah dari erupsi nan dapat merambat jauh dalam kondisi atmosfer tertentu.

"Abu vulkanik juga terpantau menyebar menuju Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu. Arah sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin," tulis Badan Geologi dalam unggahan IG @badan.geologi, dikutip Senin (7/9/2026).

Lantas, gimana sejarah Gunung Anak Krakatau?

Gunung Api Anak Krakatau merupakan gunung api nan terus tumbuh di area Kaldera Krakatau.

Badan Geologi mencatat sejarahnya:

  • 20 Januari 1929: Anak Krakatau mulai muncul dari permukaan laut
  • Oktober 1952: Terbentuk kerucut baru di dalam Kawah Somma
  • 22 Desember 2018: Erupsi besar nan menyebabkan longsoran dan tsunami
  • 2023: Seri erupsi berskala mini terus berjalan hingga 16 Desember 2023
  • 2 Juli 2026: Anak Krakatau kembali mengalami erupsi hingga Level III (Siaga)
  • 4 September 2026: Erupsi intensif dengan semburan lava, bunyi gemuruh, dan dentuman.

Pada 4-5 September 2026, bunyi dentuman dan getaran pada kaca pintu dilaporkan di sejumlah wilayah Jawa Barat. Kesesuaian waktu dengan erupsi Anak Krakatau dan sinyal pada stasiun pemantauan di Jawa Barat mendukung kuat bahwa kejadian berasal dari gelombang akustik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Saat ini abu vulkanik Anak Krakatau terbawa angin khususnya ke wilayah Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, hingga sebagian Jawa Barat.

Anak Krakatau Akan Terus Erupsi

Pakar Vulkanologi Surono menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau secara alamiah tetap berpotensi mengalami erupsi susulan. Fenomena tersebut merupakan bagian dari fase pertumbuhan bentuk gunung pasca peristiwa longsor besar pada tahun 2018 lampau untuk membangun kembali struktur tubuh gunung nan utuh.

Surono nan berkawan disapa Mbah Rono menjelaskan bahwa sebagai gunung api muda, Anak Krakatau memerlukan waktu untuk membentuk tubuhnya kembali agar menjadi utuh. Ia menekankan bahwa akumulasi tekanan magma nan terjadi mengharuskan gunung tersebut melepaskan daya ke permukaan.

"Yang ancaman nan paling mungkin terjadi potensi tetap tetap ada longsor gitu kan. Tapi tidak dalam waktu dekat ini kan baru kemarin 2018 kan. Perlu waktu lah untuk membentuk tubuh nan utuh kembali gitu kan. Oleh lantaran itu dia bakal sering meletus dan sebagainya," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (7/9/2026).

Mbah Rono menyebut bahwa gelombang letusan nan intens merupakan langkah alami gunung api untuk membangun struktur puncaknya menjadi lebih tinggi dan besar. Namun, kondisi ini sekaligus memperbesar kantong magma alias magmatic chamber nan berkapak pada peningkatan potensi kekuatan letusan di masa depan.

"Semakin besar Anak Krakatau otomatis dapur magma-nya gitu ya, Magmatic chamber-nya itu ya semakin besar. Kalau semakin besar ya potensi letusannya bakal besar gitu kan," tambahnya.

Proses pembentukan bentuk Anak Krakatau melibatkan pengeluaran material baru nan kebanyakan bakal jatuh di sekitar puncak serta tubuh gunung tersebut. Meskipun material berat tertahan di area kawah, akibat nan paling dirasakan oleh wilayah sekitarnya adalah sebaran abu lembut nan terbawa mengikuti arah dan kecepatan angin.

"Harus lepas, mengeluarkan material baru, jatuh di sekitar tubuhnya maka si Anak Krakatau itu semakin besar dan semakin tinggi. Nah abu-abu lembut nan memang tersebar tinggi itu akibat dari setiap letusan gunung api seperti itu," paparnya.

Mbah Rono menilai akibat erupsi tersebut menjadi perhatian besar publik lantaran posisi pengetahuan permukaan bumi gunung nan berdekatan dengan objek vital strategis nasional seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Raden Inten. Ia memprediksi gangguan operasional transportasi udara akibat paparan debu vulkanik tetap berpotensi terjadi kembali di masa mendatang.

"Nah sekarang ini Soekarno-Hatta terkena gitu kan Nah pasti bakal terkena kembali di kelak kemudian hari nah ini jadi masalah ya kan. Bukan saya menakut-nakuti tapi sesuatu nan sudah kena sekarang ini potensi kena kembali gitu kan," tambahnya.

Perihal maraknya peningkatan aktivitas vulkanik di gunung lain seperti Semeru, Merapi, hingga Gunung Ibu secara bersamaan, dia memastikan kejadian tersebut dipicu oleh kantong magma nan berbeda-beda. Rentetan letusan nan terjadi serentak di beragam wilayah Indonesia murni merupakan aspek kebetulan dan bukan berasal dari satu sistem pengetahuan bumi nan sama.

"Sebetulnya kan itu perihal nan biasa saja lantaran gunung kita terlalu banyak kebetulan aja berbarengan Tapi pada dasarnya mereka punya sumber magma nan berbeda-beda Dan sumber tekanan nan berbeda-beda," jelasnya.

Pemerintah sejatinya telah menyediakan peta area rawan musibah sebagai referensi bagi pemerintah wilayah dalam melakukan penataan wilayah. Mbah Rono menekankan bahwa pemerintah wilayah mempunyai kewenangan penuh dalam mengatur aktivitas masyarakat di lapangan berasas rekomendasi teknis nan diberikan oleh para mahir geologi.

"Sekarang tinggal gimana pemerintah wilayah menyikapi laporan aktivitas Gunung Api tersebut Berdasarkan rekomendasi nan diberikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi," tandasnya.

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News