Sebaran abu vulkanik di wilayah Jakarta dan sekitarnya turut dirasakan oleh penduduk nan tetap beraktivitas di luar rumah. Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) dan pedagang keliling mengaku terdampak, mulai dari kendaraan dan peralatan nan dipenuhi debu hingga kondisi bentuk nan terasa kurang nyaman.
Salah satunya Eky Ardiansyah, pengemudi ojol nan berdomisili di Jakarta Barat. Ia mengaku merasakan akibat abu vulkanik saat beraktivitas pada Minggu pagi.
Menurut Eky, debu cukup sigap menempel di motornya meski kendaraan tersebut hanya ditinggalkan sebentar. Debu apalagi menutupi bagian depan hingga belakang motor.
“Tadi pagi sih lumayan terdampak ya lantaran saya tinggal motor sejenak aja tuh debunya segala macam udah nempel di motor, sampai semuanya gitu dari depan sampai belakang,” kata Eky saat ditemui kumparan.
Karena kondisi tersebut, Eky memilih membersihkan motornya terlebih dulu sebelum kembali menarik penumpang. Ia mengatakan, motor cukup dibersihkan menggunakan air, lap, dan sedikit sabun.
Selain kendaraan, Eky juga mengaku merasakan ketidaknyamanan saat berada di jalan. Ia sempat menggunakan masker, tetapi merasa kurang nyaman ketika memakainya terlalu lama.
“Iya lumayan sih lantaran tadi pagi saya kan sering keluar pagi aja, jadinya berasa juga sih untuk sesaknya sama debunya tuh banyak banget di jalanan,” ujarnya.
Eky mengatakan, akibat abu vulkanik juga dirasakan selama perjalanan dari rumah menuju area Sudirman. Menurutnya, kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas penduduk nan biasanya menggunakan jasa ojol.
Ia mengaku pendapatannya pada Minggu pagi terasa menurun lantaran sejumlah orang memilih tidak keluar rumah.
“Tadi pagi beberapa orang banyak nan nggak naik Gojek, nggak keluar juga kan. Nah menurut saya sih lumayan ya lantaran mungkin hari Minggu. Nggak tahu jika misalkan hari biasa tuh parah banget sih,” kata Eky.
Pedagang Keliling Juga Ikut Terdampak
Dampak serupa dirasakan Holis, pedagang minuman keliling. Ia mengaku peralatan dan gerobak jualannya menjadi lebih berdebu sejak Minggu pagi.
Holis mengatakan, debu apalagi tetap terasa ketika dia hanya berdiam di satu lokasi. Karena itu, dia kudu lebih sering membersihkan bagian atas gerobak dan peralatan dagangannya.
“Kena, Kak. Ini kayak misalkan peralatan semua jadi banyak debunya, terus juga di atas gerobak ada debunya juga, kudu sering lap-lap,” kata Holis.
Tak hanya mengganggu kebersihan gerobak, Holis juga mengaku matanya terasa perih hingga memerah. Ia pun menggunakan kacamata untuk mengurangi paparan debu nan berterbangan.
“Kena mata juga sih sampai merah perih,” ujarnya.
Abu vulkanik juga turut berakibat pada aktivitas penjualan Holis. Ia mengatakan, jumlah pembeli berkurang lantaran banyak orang memilih tidak keluar rumah.
Menurut Holis, situasi tersebut semakin terasa ketika aktivitas car free day (CFD) dibubarkan lebih awal. Ia menyebut CFD nan semestinya berjalan hingga pukul 10.00 WIB, saat itu dibubarkan pada pukul 09.00 WIB.
“Kena, Kak, jadi kurang, sunyi orang. Karena tadi aja pas CFD itu dibubarin jam sembilan nan harusnya jam sepuluh jadi jam sembilan,” kata Holis.
Meski begitu, Holis tetap berupaya berdagang dengan lebih sering membersihkan gerobak dan peralatannya. Ia mengatakan, tisu nan digunakan untuk mengelap apalagi sampai berubah warna menjadi hitam lantaran debu.
Pengalaman Eky dan Holis menunjukkan bahwa akibat abu vulkanik tidak hanya dirasakan oleh penduduk nan beraktivitas untuk olahraga alias rekreasi, tetapi juga oleh mereka nan kudu tetap bekerja di luar rumah.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·