Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan nilai plastik dalam beberapa waktu terakhir membikin pedagang lainnya ikut terkena imbasnya, seperti pedagang daging ayam hingga pedagang sayuran.
Hasil pantauan CNBC Indonesia di Pasar Kemiri Muka Depok, hari ini, Jumat (17/4/2026), pedagang daging ayam dan sayuran sudah mengeluhkan nilai plastik nan mengalami kenaikan sejak sepekan menjelang Lebaran 2026. Pedagang pun serba salah lantaran kenaikan nilai plastik membikin penghasilan turun dan kudu mengeluarkan biaya lebih untuk membeli plastik.
Namun, mereka tidak bisa meningkatkan nilai daging ayam alias sayuran lantaran perihal tersebut membikin pembeli makin berkurang.
Seperti Budi, pedagang ayam di Pasar Kemiri Muka, mengaku resah dengan naiknya nilai plastik. Ia tidak mau meningkatkan nilai daging ayam lantaran saat ini pun tetap cukup mahal.
"Iya, plastik lagi mahal banget harganya,. Biasanya siapin biaya minimal Rp10.000, sekarang udah enggak bisa, minimal ya Rp15.000-Rp20.000 buat beli plastiknya, jika beli banyak kan lumayan," kata Budi.
Ia pun bingung, mengaku tidak bisa meningkatkan nilai daging ayam, mengingat harganya juga tetap cukup tinggi ialah mencapai Rp50.000 per ekor.
"Serba salah sih jika dibilang. Kita enggak naikin nilai ayamnya, buat beli plastik makin tekor, naikin nilai ayamnya kelak pembeli kabur, lantaran sekarang tetap mahal, per ekor ya Rp50.000, jika nan dipotong2, harganya Rp40.000 per kg," lanjutnya.
Begitu juga ketika ada pengguna nan meminta plastik lebih, Ia tetap memberikannya meski juga terhimpit lantaran mahalnya nilai plastik.
"Ya jika ada pengguna minta plastik lebih, masa sama kita enggak dibolehin, kelak marah-marah. Tapi sih pengguna sudah mulai menyadari jika plastik lagi mahal, jadi ya mereka sudah mulai enggak minta-minta plastik lebih," terangnya.
Sedangkan Yanti, pedagang sayuran juga mengeluh dengan nilai plastik nan semakin mahal. Bahkan kini, Ia hanya bisa membeli plastik nan kualitasnya lebih tipis dari sebelumnya, lantaran harganya tetap terjangkau.
"Wah, parah sih dampaknya gara-gara nilai plastik naik, kami jadi makin pusing, jika mau nan seperti biasa plastiknya, sudah mahal, nan ambil lebih murah, malah lebih tipis," kata Yanti.
Bahkan, Ia pun seakan pusing lantaran dirinya tidak bisa melarang pengguna jika meminta plastik lebih untuk membungkus sayuran.
"Pusing, serba salah. Mau kita kenain biaya tambahan, kelak pembeli ngomel-ngomel, kita enggak kasih plastik, mereka juga ngomel-ngomel, masa mereka minta, kita enggak kasih, ya udah seperti biasa, hanya memang bedanya, plastik nan kita kasih lebih tipis aja sih," terangnya.
Ketika ada pembeli nan bakal membeli sayurannya, seperti jeruk nipis, biasanya Ia memberi dua plastik ke pelanggan, ialah plastik untuk membungkus jeruk nipis dan plastik kresek. Namun, ada beberapa pelanggannya nan sudah tidak mau diberi plastik kresek.
"Tapi ada beberapa pengguna kami, nan enggak mau dikasih plastik tambahan. Karena mungkin mereka sudah sadar jika plastik lagi mahal dan mungkin merasa iba sama pedagang, jadi enggak minta lebih," jelasnya.
Foto: Kenaikan nilai plastik tetap terus terjadi seperti pantauan di Pasar Kemiri Muka, Jakarta, Jumat (17/4/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Kenaikan nilai plastik tetap terus terjadi seperti pantauan di Pasar Kemiri Muka, Jakarta, Jumat (17/4/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·