Jakarta, CNN Indonesia --
Perasaan gugup sempat dirasakan Neeltje Deliana Insjowi Werimon saat mengikuti Upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih di Istana Merdeka, Senin (17/8) sore.
Kala itu, personil Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) asal Papua tersebut bekerja membawa baki dan menyerahkan kembali Sang Merah Putih kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Semua mata sempat tertuju kepada Neeltje saat dia melangkah pelan menaiki satu per satu anak tangga Istana Merdeka.
Meski mengaku grogi, Neeltje sukses melaksanakan tugasnya dengan baik. Rasa gugup nan sempat dialaminya pun berubah menjadi kebanggaan ketika dia berhadapan langsung dengan Prabowo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya pertama gugup sekali lantaran kudu melakukan tugas nan sangat berat ini. Tetapi di sisi lain juga excited lantaran bisa melakukan pengibaran di Istana Negara dan juga berjumpa dengan Bapak Presiden," kata Neeltje.
Neeltje, nan merupakan siswi SMA Negeri 8 Kota Jayapura, Papua, mengaku tugas tersebut menjadi pengalaman nan tidak terlupakan.
Namun, meski merasa lega telah menjalankan tugas dengan baik, dia juga merasakan haru nan mendalam. Sebab, dengan berakhirnya rangkaian Puncak Peringatan HUT ke-81 RI, dia pun kudu berpisah dengan personil Paskibraka lainnya nan telah dianggapnya sebagai teman.
Neeltje dan personil Paskibraka lainnya menjalani training berbareng selama kurang lebih satu bulan. Rangkaian pelatihan, mulai dari pembekalan hingga training bentuk dan mental, membikin dia dan personil Paskibraka lainnya menjadi semakin dekat dan akrab.
"Itu lantaran kurang lebih selama satu bulan ini kita sudah bekerja keras, latihan bentuk dan juga mental setiap hari. Dan akhirnya hari ini tugas itu selesai, dan kita juga merasa sangat lega," ujarnya.
Bagi Neeltje, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi kesempatan untuk kembali mengingat jasa para pahlawan nan telah berjuang merebut kemerdekaan.
Berkat jasa para Palawan di masa lalu, generasi muda Indonesia sekarang mempunyai kesempatan untuk mengejar impiannya masing-masing, termasuk Neeltje nan bercita-cita menjadi insinyur pertambangan.
Ia berambisi pengalaman selama menjalani pendidikan dan training Paskibraka dapat menjadi bekal bagi kehidupannya ke depan sekaligus membantunya menggapai angan tersebut.
"Menurut saya, memaknai hari kemerdekaan itu kita menghargai semua jasa-jasa pahlawan kita nan sudah bertempur untuk kemerdekaan kita," tuturnya.
Selain itu, Neeltje juga menyampaikan angan dan harapannya kepada Prabowo agar senantiasa diberikan kesehatan dan panjang umur dalam mengemban tugas sebagai pemimpin Indonesia.
"Semoga Bapak panjang umur, sehat selalu, dan bisa memandang bangsa Indonesia menjadi bangsa nan jauh lebih baik lagi, dan bisa memandang kami generasi muda menjadi angan baru bangsa," tutupnya.
Haru orang tua
Momen peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka menjadi pengalaman spesial bagi family Neeltje Deliana Insjowi Werimon, Paskibraka asal Provinsi Papua.
Untuk pertama kalinya, kedua orang tua Neeltje menginjakkan kaki di Istana sekaligus menyaksikan langsung putri mereka menjalankan tugas sebagai pembawa baki Bendera Merah Putih pada upacara penurunan bendera di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8) sore.
Ayah Neeltje, Aiwoisendin Hendrik Werimon, mengaku kagum saat akhirnya dapat memandang Istana secara langsung. Selama ini, dia hanya mengenal Istana melalui layar televisi.
"Selama ini kita selalu nonton dari TV. Jadi pertama lihat ini, 'Eh, ini kayak di TV begini.' Jadi luar biasa. Kami cukup kagum dengan memandang realita dari Istana ini," ujar Aiwoisendin.
Pengalaman tersebut semakin berkesan lantaran dia juga untuk pertama kalinya berjumpa langsung dengan Presiden Prabowo Subianto secara empat mata.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Prabowo atas kesempatan nan diberikan kepada anak-anak Paskibraka untuk menjalankan tugas dalam upacara kenegaraan.
"Kepada Pak Presiden, terima kasih untuk kesempatan ini nan diberikan kepada anak-anak kami," katanya.
Aiwoisendin berambisi Presiden Prabowo senantiasa diberikan kesehatan dan dapat mengambil keputusan terbaik bagi bangsa dan negara.
"Kami berambisi Bapak selalu sehat dan dapat mengambil keputusan nan terbaik untuk bangsa dan negara," ujarnya.
Menurut Aiwoisendin, perjalanan Neeltje hingga menjadi Paskibraka juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga. Sebab, sebelumnya Neeltje tidak tertarik mengikuti aktivitas Paskibraka.
"Kita sangat kaget saat dia memilih untuk mengikuti Paskibraka, lantaran dia sebelumnya tidak tertarik dengan aktivitas itu. Dan saat dia SMA dan dia memutuskan untuk mengambil itu, kami cukup kaget dan akhirnya kami mendukung," tuturnya.
Sebagai orang tua, Aiwoisendin mengaku hanya bisa memberikan support dan angan atas perjuangan putrinya. Ia berambisi pengalaman nan diperoleh Neeltje selama menjadi Paskibraka dapat menjadi bekal berbobot untuk masa depannya.
"Karena usahanya dia, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan. Dan nan terbaik untuk Neeltje ke depannya kelak bisa Neeltje dapatkan," katanya.
Sementara itu, sang ibu, Steffi Edithya Florence Awom, mengungkapkan tantangan terbesar selama Neeltje menjalani pemusatan latihan sekitar satu bulan adalah tidak dapat berjumpa dan berkomunikasi dengan putrinya.
"Selama kurang lebih satu bulan tidak ketemu itu perihal nan paling berat sebenarnya. Tidak ketemu dan tidak berkomunikasi, itu perihal nan paling berat," kata Steffi.
Meski demikian, Steffi bangga memandang Neeltje bisa melewati beragam latihan bentuk dan pembentukan mental hingga akhirnya menjalankan tugas dengan baik di Istana Negara.
"Mereka juga kudu menempa mental jadi lebih baik, disiplin, dan lain-lain. Karakter mereka dibentuk. Menurut saya mereka sukses melewati masa-masa berat itu dan bisa menjalankan tugas dengan baik," ujarnya.
(ugo/ugo)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·