Pasar Gelap Informasi Korupsi Tiongkok: Bocoran Pembersihan Marak di Media Sosial

Sedang Trending 2 jam yang lalu
 Bocoran Pembersihan Marak di Media Sosial Xi Jinping.(Al Jazeera)

RAHASIA di kembali kampanye pembersihan disiplin pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, terus bermunculan di jagat maya. Fenomena ini menantang upaya penumpasan nan menjaring jutaan orang sekaligus menyoroti sungguh dalamnya akar korupsi dan ketidaksetiaan di dalam Partai Komunis.

Dengan puluhan ribu pejabat nan ditahan setiap tahun, pasar gelap untuk rumor korupsi muncul di media sosial Tiongkok. Akun-akun misterius memberikan petunjuk tentang pihak yang bakal menjadi sasaran pembersihan berikutnya demi mendapatkan biaya langganan dan klik, demikian dilaporkan media pemerintah.

Rantai Pasokan Informasi Ilegal

Informasi bocoran ini sangat berbobot lantaran dapat membantu tersangka menghilangkan peralatan bukti alias melarikan diri. Di sisi lain, pihak luar dapat memanfaatkannya untuk melakukan perdagangan saham nan tepat waktu--versi Tiongkok dari kekhawatiran di AS mengenai orang dalam politik nan meraup untung di pasar prediksi.

Majalah Banyuetan, nan diterbitkan oleh instansi buletin resmi Xinhua, melaporkan ada rantai pasokan terlarangan nan tersembunyi. Sejumlah mini pejabat membocorkan info nan kemudian dijual kembali melalui grup daring dengan biaya berkisar dari puluhan hingga ratusan yuan (sekitar Rp200 ribu hingga Rp2,6 juta).

Beberapa akun media sosial memprediksi kejatuhan pejabat pemerintah dengan metode seperti mengunggah riwayat hidup (resume) alias menggunakan homofon dan bahasa kode untuk menyamarkan identitas tersangka guna menghindari patokan kerahasiaan.

Dampak Ekonomi dan Politik

Opasitas sistem politik Tiongkok membikin info mengenai penyelidikan nan sedang berjalan menjadi komoditas mahal. Investor dapat melakukan short-selling pada saham nan kemungkinan besar bakal terdampak oleh pembersihan pejabat tertentu.

Sebagai contoh, nilai saham China Merchants Bank ambruk pada tahun 2022 setelah partai mengumumkan penyelidikan terhadap mantan presiden bank tersebut, Tian Huiyu. Studi akademis tahun 2021 juga menunjukkan bahwa investigasi korupsi secara signifikan meningkatkan akibat kejatuhan nilai saham bagi perusahaan nan mengenai dengan pejabat nan diselidiki.

Fakta Kunci: Sejak akhir 2012, kampanye Xi Jinping mendisiplinkan lebih dari tujuh juta orang lantaran pelanggaran seperti suap, pembangkangan kebijakan, dan pembocoran rahasia.

Tantangan Tikus Dalam di Lembaga Antirasuah

Partai Komunis Tiongkok terus berupaya memburu 'tikus dalam' atau informan di kalangan penegak disiplin mereka sendiri. Pada tahun 2023, partai menjatuhkan hukuman umum kepada lebih dari 7.800 pengawas disiplin, jumlah tahunan tertinggi di bawah kepemimpinan Xi.

Meskipun ada restrukturisasi pada tahun 2019 untuk mencegah penyalahgunaan wewenang, Beijing tetap mengeluhkan keberadaan oknum nan menjual rahasia investigasi demi untung pribadi. Namun, Xi tetap menolak transparansi nan lebih besar alias sistem checks and balances nan lebih kuat, lantaran dianggap dapat merusak kontrol otoriter.

Metode Kucing-Kucingan di Media Sosial

Bocoran sering kali muncul dalam corak nan sangat halus. Akun seperti Yanglan Lake Insider di WeChat alias Brother Zihao di Douyin sering mengunggah foto dan resume pejabat beberapa hari sebelum pengumuman resmi penyelidikan keluar.

Dalam satu kasus, seorang birokrat di Guiyang ditemukan bekerja sama dengan enam kerabatnya untuk mengoperasikan sembilan akun WeChat nan memublikasikan petunjuk tentang promosi dan pembersihan pejabat nan bakal datang.

Upaya partai untuk menutup kebocoran ini menjadi permainan kucing-kucingan. Pihak berkuasa sering kali kekurangan dasar norma untuk menindak mereka nan hanya mengunggah resume pejabat nan tersedia secara publik, sementara operator akun dengan sigap beranjak platform jika akun mereka ditutup. (The Wall Street Journal/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia