Pantas Trump Mau Rebut Greenland dari Denmark, Ini Semua karena Minyak

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sangat berambisi merebut Greenland. Sejak awal tahun, dia terus mengutarakan keinginannya, membawa wilayah Denmark itu ke Amerika Serikat (AS).

Bahkan Trump menakut-nakuti memberlakukan tarif impor besar jika Denmark tak menurutinya. Di Juli, dia pun lagi-lagi menyinggung perihal tersebut.

Ternyata, semuanya mengenai dengan minyak. Setidaknya ini terlihat dari info terbaru, Jumat (14/8/2028).

Greenland Energy Co

Sebuah perusahaan asal Texas nan mempunyai hubungan dengan Presiden AS Donald Trump bakal melakukan pengeboran minyak di Greenland. Perusahaan itu berjulukan Greenland Energy Co. Entitas ini merupakan perusahaan eksplorasi minyak dan gas nan tercatat di Nasdaq.

Greenland Energy Co bakal melakukan pengeboran potensi hidrokarbon di Jameson Land Basin, wilayah di pesisir timur Greenland. Mitra upaya patungan Greenland Energy, 80 Mile, tercatat di bursa London.

Greenland Energy sendiri mempunyai anak upaya White Flame Energy. Jika Greenland Energy menanggung biaya pengelolaan dua sumur eksplorasi, White Flame Energy bakal menangani proses perizinan.

Hubungan Dengan Lingkaran Trump

Greenland Energy sendiri mempunyai hubungan dengan sejumlah tokoh dan perusahaan nan mengenai dengan Trump dan pemerintahannya. Anggota majelis perusahaan, Carol Craig, merupakan pendiri perusahaan teknologi pertahanan nan terlibat dalam program perjanjian Pentagon untuk mendukung inisiatif sistem pertahanan rudal Golden Dome milik Trump.

Greenland Energy juga mempunyai kesepakatan produksi movie dokumenter dengan Envoy Media, perusahaan nan didirikan oleh "Dr. Phil" McGraw. McGraw pernah berbincang dalam kampanye Trump pada 2024 dan sekarang menjadi personil Religious Liberty Commission nan dibentuk Trump.

Chairman Greenland Energy, Larry Swets, juga dilaporkan mempunyai kedekatan dengan pemerintahan Trump. Namun, ketika ditanya mengenai hubungan Swets dengan Trump dalam sebuah pertemuan pada Juni lalu, Price mengatakan, "Setahu saya, tidak".

Saat ini, Greenland Energy Co menunda pengeboran. Hal ini terjadi akibat teguran keras dari pemerintah Greenland.

Teguran keras awalnya diberikan kepada White Flame Energy lantaran membawa peralatan pengeboran ke pesisir timur Greenland tanpa memperoleh izin dari otoritas setempat. Pemerintah Greenland menyatakan White Flame Energy tidak mempunyai persetujuan nan diperlukan sebelum melakukan aktivitas tersebut.

Peralatan pengeboran itu dibawa ke sekitar Bandara Nerlerit Inaat. Padahal wilayah itu adalah pusat transportasi strategis nan dianggap sebagai pintu gerbang menuju wilayah timur laut Greenland.

Greenland Energy dan 80 Mile mengatakan mereka sebelumnya telah memperoleh izin serta menandatangani perjanjian untuk menyewa tempat penyimpanan di akomodasi Greenland Airports dekat pelabuhan. Namun, keduanya mengaku tidak mengetahui bahwa aktivitas tersebut memerlukan izin terpisah dari otoritas sumber daya mineral.

Kedua perusahaan mengatakan menanggapi peringatan pemerintah dengan serius. Mereka pun berkomitmen bekerja sama lebih erat dengan otoritas Greenland ke depannya.

Meski begitu, 13 Agustus, buletin penundaan pengeboran minyak datang. Greenland Energy Co mengatakan sekarang menargetkan proses perizinan untuk pengeboran eksplorasi pada musim dingin 2027.

"Beroperasi di area Arktik memerlukan kesabaran, fleksibilitas, dan perspektif jangka panjang. Kami bakal menggunakan waktu ini untuk menyempurnakan rencana serta memperkuat hubungan dengan masyarakat lokal, mitra strategis, dan otoritas terkait," kata CEO Greenland Energy Robert Price.

Potensi Minyak Greenland

Greenland Energy dibentuk melalui merger dengan perusahaan akuisisi bermaksud unik (special purpose acquisition company/SPAC) pada Maret. Misi utamanya adalah mengeksplorasi potensi minyak di Jameson Land Basin.

Wilayah tersebut mencakup sekitar 2 juta acre alias 809.000 hektare lahan berizin di daratan Greenland. Perusahaan menyebut Jameson Land Basin sebagai salah satu cekungan minyak nan sangat prospektif namun belum pernah dibor di dunia.

Kawasan tersebut dinilai mempunyai karakter pengetahuan bumi nan mempunyai hubungan dengan Laut Utara (North Sea). Ini skala nan sebanding dengan sejumlah wilayah penghasil minyak utama dunia.

Analis riset senior sektor hulu Eropa di Wood Mackenzie, Lewis Lawrence, mengatakan area tersebut memang mempunyai potensi. Menurutnya, kondisi geologinya tampak mirip dengan landas kontinen Norwegia bagian tengah, salah satu pusat aktivitas minyak dan gas dunia.

Namun, upaya eksplorasi sebelumnya di Greenland belum membuahkan hasil. Menurut Lawrence, terdapat 21 sumur eksplorasi nan pernah dibor, sebagian besar di lepas pantai, dan seluruhnya tidak sukses menemukan persediaan nan dapat dikembangkan.

"Ratusan juta dolar telah terbuang, terutama untuk pengeboran lepas pantai nan jauh lebih mahal," kata Lawrence kepada CNBC International.

Selain akibat eksplorasi, proyek tersebut juga menghadapi tantangan logistik. Pasalnya Jameson Land Basin merupakan salah satu letak pengeboran paling terpencil di dunia.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News