Pakar Ragu Iran dan AS Resmi Damai Usai Perjanjian Difinalisasi

Sedang Trending 12 jam yang lalu

Jakarta -

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa Teheran telah mencapai kesepahaman sebagian besar rumor nan dibahas dengan Amerika Serikat (AS). Lalu apa perdamaian bakal betul terwujud?

Guru besar norma internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, mengungkap kemungkinan penawaran tenteram nan disebut Iran bisa saja ditolak Presiden AS Donald Trump sepihak. nan padahal, kesepakatan tenteram itu tentu dikirim oleh AS.

"Berita tersebut kemungkinan dari pihak Iran, nan oleh Trump dikatakan tidak benar. Kalau betul sih, bagus sekali buat Iran," ujar Hikmahanto saat dihubungi, Minggu (14/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hikmahanto percaya kedua nota kesepahaman antara Iran dan AS belum ada nan disepakati. Dia berbincang Iran juga kemungkinan bermain 'kartu'.

"Jadi saat ini belum ada arsip nan disepakati oleh kedua belah pihak. Iran sepertinya main kartu seperti Trump. Mengklaim saja sepihak biar kelak dibantah," katanya.

Lebih lanjut, dia mengaku tak bisa memprediksi momentum apa nan bisa mendamaikan kedua negara itu. Hikmahanto percaya perang bakal terus berlarut.

"Nah ini susah diperkirakan. Bisa jadi tidak ada titik temu. Jadi mereka bakal mengambangkan perang," katanya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa usulan memorandum kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat (AS) bakal secara resmi mengakhiri bentrok di semua front, termasuk Lebanon. Iran sekaligus meletakkan dasar untuk negosiasi tentang pencabutan sanksi, program nuklir, dan pengaturan keamanan regional.

Dilansir Anadolu Agency, Sabtu (13/6/2026), berbincang dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi pemerintah IRIB, Araghchi mengatakan arsip tersebut, nan biasa disebut sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad, bakal menandai berakhirnya perang secara resmi.

"Berakhirnya perang bakal diumumkan di semua front, termasuk Lebanon," katanya.

Araghchi mengatakan usulan memorandum tersebut mencakup komitmen untuk tidak memulai perang, menakut-nakuti penggunaan kekerasan, alias mencampuri urusan internal masing-masing negara. Ia mengatakan perjanjian tersebut juga bakal mencakup komitmen berbareng untuk menghormati kedaulatan.

"Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat secara definitif menyatakan bahwa mereka menghormati kedaulatan Republik Islam Iran," kata Araghchi.

(azh/dhn)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News