“Ilmu tanpa kebaikan adalah kegilaan, dan kebaikan tanpa pengetahuan adalah kesia-siaan.” Petuah Imam Al-Ghazali ini terasa seperti cermin retak bagi wajah pendidikan kita hari ini. Di satu sisi, kita bangga dengan deretan prestasi akademik, indeks pendidikan nan terus didorong naik, dan gelar nan semakin mudah diraih.
Namun di sisi lain, kita justru disuguhi parade kegagalan integritas: kecurangan ujian nan dianggap lumrah, manipulasi info akademik, hingga praktik korupsi nan melibatkan mereka nan lahir dari lembaga pendidikan terbaik. Pertanyaannya sederhana, tetapi menohok: jika pendidikan berhasil, kenapa kejujuran justru terasa semakin langka?
Kita tampaknya sedang terjebak dalam ilusi besar bahwa kepintaran intelektual otomatis melahirkan kematangan moral. Sekolah dan kampus berkompetisi mengisi kepala peserta didik dengan pengetahuan, tetapi abai menyentuh dimensi hati. Akibatnya, lahirlah generasi nan lihai berbilang tetapi gamang dalam menentukan nan benar, ocehan berdasar tetapi miskin empati, dan berani bersaing tetapi rentan dalam kejujuran. Ilmu kehilangan arah ketika dia tidak lagi menuntun pada amal, melainkan sekadar menjadi perangkat untuk menang—dalam ujian, dalam karier, apalagi dalam manipulasi.
Fenomena ini menjelaskan kenapa kegagalan integritas tidak lagi menjadi anomali, melainkan indikasi sistemik. Ketika sejak awal peserta didik dibiasakan mengejar hasil tanpa menimbang proses, maka kejujuran menjadi variabel nan mudah dinegosiasikan. Ketika nilai lebih dihargai daripada makna, maka jalan pintas menemukan pembenarannya. Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak lagi menjadi ruang pembentukan karakter, melainkan sekadar pabrik produksi prestasi—yang ironisnya, sering kali kehilangan jiwa.
Kasus demi kasus di Indonesia memperlihatkan gimana retaknya integritas tidak berdiri sendiri, melainkan berakar dari langkah kita mendidik. Kita tetap ingat beragam skandal kebocoran soal ujian nasional di masa lalu, praktik “titip absen” di perguruan tinggi, hingga plagiarisme karya ilmiah nan melibatkan mahasiswa apalagi dosen. Di banyak ruang kelas, kejujuran sering kalah oleh tekanan sasaran nilai. Tidak sedikit siswa nan sejak awal belajar bahwa “yang krusial lulus” lebih utama daripada “bagaimana langkah lulus”. Ini adalah bibit mini yang, jika terus dipelihara, tumbuh menjadi pembenaran atas pelanggaran nan lebih besar di masa depan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kegagalan integritas itu bersambung hingga ke ruang publik. Sejumlah kasus korupsi di Indonesia justru melibatkan perseorangan dengan latar belakang pendidikan tinggi—bahkan lulusan perguruan tinggi ternama. Fenomena ini memperkuat kesan bahwa pendidikan umum belum tentu sukses membentuk karakter. Kita tidak kekurangan orang pandai dalam birokrasi dan politik, tetapi kita tetap kekurangan pribadi nan bisa menahan diri dari bujukan kekuasaan dan materi. Dalam konteks ini, pendidikan seperti kehilangan daya transformasinya—ia mencerdaskan, tetapi tidak memanusiakan.
Di era digital, tantangan itu semakin kompleks. Akses info nan melimpah tidak selalu diiringi dengan kebijaksanaan dalam menggunakannya. Budaya instan, copy-paste, dan kecenderungan mencari jalan pintas semakin menguat. Siswa dapat dengan mudah menemukan jawaban, tetapi tidak selalu memahami maknanya. Bahkan, kecanggihan teknologi kadang justru memperhalus corak ketidakjujuran—dari menyontek nan lebih “rapi” hingga manipulasi karya dengan support kepintaran buatan. Jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter nan kuat, teknologi hanya bakal mempercepat krisis integritas nan sudah ada.
Di sinilah urgensi untuk mengembalikan arah pendidikan: bukan sekadar mendidik otak, tetapi juga menumbuhkan hati. Ilmu kudu kembali dipautkan dengan amal, prestasi kudu disandingkan dengan integritas, dan keberhasilan kudu diukur bukan hanya dari capaian, tetapi dari langkah mencapainya. Tanpa itu, kita hanya bakal terus melahirkan generasi pandai nan pandai mencari jalan, tetapi tidak selalu tahu ke mana kudu berjalan.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·