Negara Nyaris Bangkrut, Utangnya Menggila Tembus 119% PDB

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Senegal menghadapi tekanan fiskal berat setelah rasio utangnya melonjak hingga 119% terhadap produk domestik bruto (PDB), memicu kekhawatiran pasar dan meningkatkan akibat kandas bayar. Kondisi ini membikin negara Afrika Barat tersebut berada dalam sorotan lembaga pemeringkat dan Dana Moneter Internasional (IMF).

"Kebutuhan pembiayaan mereka sangat tinggi. Jika mereka tidak mendapatkan program IMF, perihal itu dapat memunculkan lebih banyak pertanyaan mengenai pembiayaan jangka panjang," kata Kepala Riset Kredit Pasar Berkembang S&P Global Ratings, Zahabia Gupta, dalam wawancara dengan Bloomberg Television sebagaimana dimuat laman The Edge Singapore, dikutip Senin (15/6/2026). Pernyataan itu menegaskan besarnya tantangan nan dihadapi Senegal untuk menjaga keberlanjutan fiskalnya.

Data pemerintah Senegal nan telah diaudit menunjukkan total utang negara mencapai US$42,15 miliar. Dengan dugaan kurs Rp17.688 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp745,5 triliun, setara 119% dari PDB nasional.

Sementara itu, IMF memperkirakan total tanggungjawab sektor publik Senegal apalagi mencapai sekitar 132% dari PDB. Ini menjadi salah satu nan tertinggi di area Afrika.

Lonjakan utang ini terungkap setelah audit menemukan adanya tanggungjawab nan sebelumnya tidak dilaporkan oleh pemerintahan terdahulu. Audit tersebut mengungkap miliaran dolar utang tersembunyi nan membikin posisi fiskal Senegal jauh lebih jelek dibandingkan nan selama ini diketahui publik maupun investor.

Akibat temuan tersebut, IMF pada 2024 menghentikan akomodasi pembiayaan senilai US$1,8 miliar alias sekitar Rp31,8 triliun. Sejak saat itu Senegal praktis kehilangan akses ke pasar modal internasional dan semakin berjuntai pada pembiayaan dari pasar regional.

Kondisi tersebut membikin penanammodal menjauhi obligasi Senegal. Imbal hasil obligasi dolar Senegal nan jatuh tempo pada 2031 melonjak hingga 24,56%, mencerminkan tingginya persepsi akibat negara tersebut.

Premi akibat utang Senegal juga telah melebar lebih dari 1.500 pedoman poin di atas obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Hal itu menempatkannya sejajar dengan negara-negara nan mengalami tekanan finansial serius seperti Lebanon dan Venezuela.

S&P saat ini memberikan prospek negatif pada ranking utang kurs asing jangka panjang Senegal di level CCC+, nan menandakan negara tersebut sangat rentan terhadap kandas bayar. Lembaga pemeringkat itu memperkirakan kebutuhan pembiayaan Senegal mencapai sekitar 30% dari PDB, sebuah nomor nan sangat tinggi untuk negara berkembang.

Dalam waktu dekat, tim IMF dijadwalkan kembali mengunjungi ibu kota Senegal, Dakar, guna membahas kemungkinan program support baru. Hasil perundingan tersebut dinilai krusial untuk memulihkan kepercayaan penanammodal dan menentukan apakah Senegal bisa keluar dari krisis utang nan sekarang membayangi perekonomiannya.

(tfa/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News