Usai Melonjak 4%, IHSG Dinilai Punya Jalan Terbuka ke Level 7.000 Akhir Juni

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pengunjung memotret layar nan menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (15/6) memunculkan optimisme baru di pasar modal. Setelah sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir, analis menilai kesempatan IHSG untuk kembali menembus level psikologis 7.000 sekarang semakin terbuka.

Berdasarkan info Stockbit, IHSG pada Senin (15/6) ditutup menguat 247,31 poin alias 4,04 persen ke level 6.254,966. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 juga melesat 4,46 persen ke posisi 624,682.

Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, mengatakan penguatan pasar saham domestik dipicu oleh membaiknya sentimen global, terutama mengenai meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

"Kalau saya lihat itu dipicu oleh tindakan beli penanammodal lokal, baik itu lembaga ataupun juga investor, retail, ya. Terutama setelah memandang pertama mengenai dengan tensi geopolitik nan relatif membaik, terutama adanya kesempatan pembukaan Selat Hormuz," ujar Gunarto kepada kumparan, Selasa (16/6).

Menurut dia, penanammodal domestik jadi katalis utama penguatan IHSG dalam beberapa hari ini. Namun, jika kesepakatan tenteram antara AS dan Iran betul-betul terwujud, penanammodal asing berpotensi kembali masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Kalau kelak perjanjian tenteram antara AS dengan Iran itu betul-betul terealisasi, nilai minyak juga turun, Selat Hormuz juga dibuka, penanammodal asing pasti bakal menyerbu aset investasi nan ada di emerging market seperti Indonesia, baik itu pasar saham ataupun pasar surat utang negara," katanya.

Selain aspek geopolitik, valuasi saham RI nan sudah terkoreksi cukup dalam juga dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Ditambah lagi, sejumlah emiten tengah memasuki musim pembagian dividen nan meningkatkan potensi imbal hasil investasi.

Seorang laki-laki mengawasi layar digital pergerakan nilai saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat, (12/12/2025). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Gunarto menilai kombinasi aspek tersebut dapat menjadi katalis bagi penguatan IHSG dalam jangka pendek.

"Kemungkinannya adalah dari sisi IHSG potensi untuk ke level 7.000 [akhir bulan Juni] itu sangat terbuka sekali," ujarnya.

Dia juga menilai persepsi negatif terhadap Indonesia nan sempat berkembang di pasar dunia mulai berangsur membaik seiring meredanya tekanan eksternal.

"Saya juga setuju, ya, lantaran kemarin-kemarin, kan, di saat kondisi dunia sangat tidak kondusif, nan ada emerging market seperti kita ditinggalkan oleh penanammodal global, plus ditambah lagi bumbu-bumbu nan memang dipandang oleh penanammodal itu negatif," jelas Gunarto.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan reli IHSG kali ini lebih banyak dipengaruhi aspek dunia daripada domestik.

"Di sini, ya, tadi penguatan IHSG memang sejatinya dipengaruhi oleh aspek global. Sebenarnya lebih dominan global, ya, lantaran kita lihat di regional pun juga terapresiasi dengan regional asia ya," ujar Nafan.

Senada dengan Gunarto, Nafan menilai kesepakatan tenteram antara AS dan Iran serta potensi dibukanya kembali Selat Hormuz bisa meredakan kekhawatiran penanammodal terhadap akibat inflasi dunia dan lonjakan nilai energi.

Di dalam negeri, menurutnya, pasar juga mendapat sentimen positif dari sejumlah kepastian regulasi, termasuk pembatalan skema cross split dan wacana relaksasi RKAB di sektor minerba.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan