Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara di Indo-Pasifik mulai berlomba-lomba meningkatkan persenjataan negaranya. Ini disebabkan lantaran kondisi negara tersebut terhimpit di antara kebangkitan militer China dan meningkatnya keraguan bakal support Amerika Serikat (AS) terhadap wilayah tersebut.
Dikutip dari Reuters, Minggu (31/5/2026), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mendesak para mitra regional untuk memikul lebih banyak beban keamanan. Namun, dia menghadapi kekhawatiran nan terus bersambung bahwa prioritas AS mungkin mulai beralih, terutama dengan adanya bentrok di Iran nan ikut menyita perhatian.
Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro menyebut para kepala pertahanan dan perwira militer regional menegaskan bahwa saat ini ada dorongan untuk melakukan kerja sama nan lebih intensif di antara sesama negara kawasan.
"Semua menteri pertahanan sepakat mengenai perlunya peningkatan kapabilitas pertahanan masing-masing secara tangkas dan cepat," kata Teodoro, kepada Reuters.
Ia menggambarkan langkah ini sebagai upaya untuk "memperkuat" peran AS. Di mana Manila sekarang tengah memperdalam ikatan pertahanan dengan para mitra seperti Jepang, Australia, Kanada, dan Selandia Baru.
"Komitmen Amerika Serikat menjadi lebih solid ketika lebih banyak tokoh nan terlibat, setidaknya dalam fase pengaruh gentar (deterrence), lantaran adanya ancaman nan sama," kata dia.
Sementara itu, Jepang sekarang memosisikan dirinya sebagai pusat dari jaringan nan lebih luas tersebut. Pada April, Jepang meluncurkan perombakan terbesar terhadap patokan ekspor pertahanannya dalam beberapa dasawarsa terakhir, menghapus pembatasan penjualan senjata ke luar negeri dan membuka jalan bagi ekspor kapal perang, rudal, serta senjata lainnya.
Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menegaskan pihaknya bakal bersikap jauh lebih proaktif dalam kerja sama peralatan pertahanan.
"Tujuan kami adalah memastikan setiap negara mempunyai kapabilitas nan mereka butuhkan dan menyediakannya saat diperlukan," terang dia.
Menteri Pertahanan Singapura, Chan Chun Sing, pun turut mengatakan bahwa pada situasi saat ini kudu mengembangkan kemitraan elastis dengan negara-negara nan sevisi, membentuk koalisi dari mereka nan bisa dan bersedia.
"Hal ini bakal membantu menjembatani kesenjangan, menguji ide, dan menemukan jalan di wilayah-wilayah baru nan belum terpetakan," kata dia.
Selanjutnya, Panglima Staf Pertahanan Kanada, Jenderal Jennie Carignan, mengatakan bahwa pasukannya sedang memperluas kehadiran mereka di area tersebut, bekerja sama dengan Jepang dan Filipina dalam bagian keamanan siber dan latihan maritim, sekaligus membantu rekan-rekan mereka di Indonesia dalam training bahasa Inggris.
"Ada banyak pekerjaan nan kudu dilakukan di area Indo-Pasifik. Dan saya rasa inilah kenapa kita memandang adanya peningkatan kemitraan di semua lini," kata Carignan.
Sementara itu, Selandia Baru tengah menimbang hubungan nan lebih erat dan pengadaan alutsista baru. Menteri Pertahanan Chris Penk mengonfirmasi bahwa Wellington sedang mempertimbangkan secara aktif kapal-kapal dari Jepang dan Inggris untuk menggantikan fregat kelas ANZAC mereka nan menua.
Penk, nan mulai menjabat pada bulan April, mengatakan ada ruang untuk melanjutkan pakta tersebut pada tingkat nan lebih intensif.
"Jadi, jika kita dapat menemukan langkah baru untuk berinteraksi dengan pihak lain, sekaligus mempertahankan hubungan nan sudah ada, maka kami bakal berupaya melakukannya secara bersamaan," kata Penk.
Meskipun negara-negara di area ini mempererat hubungan di antara mereka, para pejabat Asia menegaskan bahwa komitmen AS terhadap Indo-Pasifik tidak memudar oleh bentrok di Timur Tengah maupun kebijakan "America First" dari Presiden Donald Trump.
"Keyakinan kami tidak tergoyahkan hanya lantaran keterlibatan Amerika Serikat di Iran, misalnya, dan di wilayah lainnya," kata Teodoro dari Filipina.
Bagi Australia, Menteri Pertahanan Richard Marles menggambarkan hubungan dengan Washington sebagai perihal nan sangat mendasar bagi keamanan nasional.
"Bagi kami berdua, baik pemerintahan Trump maupun pemerintahan Albanese di Australia, kami memandang diri kami sebagai pengelola hubungan nan melampaui kepentingan kami masing-masing," kata Marles.
(fsd/fsd)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·