"NATO Tandingan" Bentukan Putin Terguncang, Negara Ini Angkat Kaki

Sedang Trending 8 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Aliansi keamanan buatan Rusia, Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), menghadapi tekanan setelah Armenia membuka kesempatan untuk keluar dari blok nan selama ini menjadi salah satu instrumen pengaruh Moskow di area Eurasia.

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan menegaskan kembali bahwa negaranya tidak bakal mengaktifkan kembali keikutsertaannya dalam CSTO.

"Saya bisa katakan dengan pasti bahwa kami tidak bakal mengaktifkan kembali partisipasi kami dalam CSTO; kami tidak bakal mengaktifkannya," kata Pashinyan di hadapan parlemen, Senin (24/8/2026), seperti dikutip Newsweek.

Pashinyan apalagi menyatakan Armenia bakal menyambut baik jika CSTO mengambil keputusan untuk mengeluarkan negaranya dari organisasi tersebut. Menurut dia, langkah itu bakal membebaskan Yerevan dari dilema untuk menentukan sendiri kapan kudu meninggalkan aliansi.

"Saya bakal sangat senang jika organisasi tersebut memutuskan untuk mengeluarkan Republik Armenia dari Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif," ujarnya.

Respons Moskow datang melalui ahli bicara Kremlin Dmitry Peskov. Ia mengatakan jika Armenia menilai keanggotaan di CSTO tidak lagi sesuai dengan kepentingan nasionalnya, Yerevan "bebas mengambil keputusan nan tepat dan keluar dari organisasi ini."

Sikap Armenia berakar pada kekecewaan terhadap CSTO nan dinilai kandas memberikan agunan keamanan ketika bentrok dengan Azerbaijan kembali memanas. Richard Giragosian, kepala Regional Studies Center di Yerevan, menyebut CSTO telah "terbukti sebagai penyedia keamanan nan tidak dapat diandalkan" dalam menghadapi serangan dan pelanggaran wilayah Armenia oleh Azerbaijan.

Konflik Nagorno-Karabakh menjadi salah satu pemicu utama keretakan tersebut. Setelah perang pada 2020, bentrok kembali terjadi pada 2022 dan 2023, hingga Azerbaijan mengambil alih wilayah tersebut dan mengakhiri keberadaan pemerintahan separatis nan didukung Armenia.

Rusia memang mengerahkan pasukan penjaga perdamaian di area itu. Namun, keputusan Moskow untuk tidak melakukan intervensi ketika Azerbaijan menyerang wilayah Armenia membikin Yerevan mempertanyakan keahlian Rusia dalam memenuhi perannya sebagai penjamin keamanan, terutama setelah Moskow menginvasi Ukraina pada 2022.

"Akibat tantangan keamanannya sendiri, Federasi Rusia terkadang menghadapi keterbatasan signifikan dalam kemampuannya menjalankan peran ini," kata Pashinyan, merujuk pada hubungan keamanan Armenia-Rusia nan telah terbangun selama sekitar dua abad.

Saat ini CSTO, nan juga kerap disebut tandingan NATO, beranggotakan Rusia, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, Armenia, dan Tajikistan. Di tengah keretakan dengan Moskow, Armenia justru memperluas hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta berencana mengusulkan permohonan keanggotaan Uni Eropa.

Washington juga memainkan peran dalam proses perdamaian Armenia-Azerbaijan melalui kesepakatan nan melahirkan rencana Trump Route for International Peace and Prosperity (TRIPP). Proyek tersebut mencakup pembangunan jalur transportasi sepanjang sekitar 27 mil alias 43 kilometer nan menghubungkan Azerbaijan dengan eksklave Nakhchivan melalui wilayah selatan Armenia.

Meski demikian, Armenia belum sepenuhnya memutus hubungan dengan Rusia. Yerevan tetap mempertahankan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan daya dengan Moskow, termasuk keanggotaan dalam Eurasian Economic Union (EAEU).

"Armenia sekarang tengah berupaya keras untuk menyeimbangkan kembali antara upaya mempererat hubungan dengan Barat dan ketergantungannya pada Rusia dalam perihal energi, ekonomi, dan perdagangan," kata Giragosian.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News