Observatorium Neil Gehrels Swift milik NASA, nan ditampilkan dalam konsep artistik ini, mengorbit Bumi sembari mempelajari alam semesta nan terus berubah. Diluncurkan pada tahun 2004.(Dok. NASA)
BADAN Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tengah menyiapkan misi pengamanan darurat untuk observatorium luar angkasa Swift nan terancam jatuh ke Bumi. Misi bertajuk Swift Boost ini menjadi upaya perdana NASA dalam menyelamatkan teleskop produktif nan telah beraksi selama lebih dari dua dekade.
Teleskop Swift, nan diluncurkan pada 2004, mengalami penurunan orbit nan signifikan akibat meningkatnya halangan atmosfer. Tanpa intervensi segera, observatorium pemburu semburan sinar gamma ini diperkirakan bakal memasuki atmosfer Bumi dalam beberapa bulan ke depan. Untuk mengatasinya, NASA menggandeng perusahaan asal Arizona, Katalyst Space Technologies.
Misi ini bakal mengandalkan wahana robotik berjulukan Link. Wahana berbobot 425 kilogram tersebut dirancang untuk melakukan penyambungan (docking) dan mendorong Swift kembali ke orbit nan lebih tinggi. NASA mengucurkan perjanjian senilai sekitar $30 juta dolar Amerika Serikat (setara Rp493 miliar dalam Mata duit Rupiah) untuk pengembangan wahana ini sejak September 2025.
Link dijadwalkan meluncur pada 27 Juni 2026 menggunakan roket Pegasus XL milik Northrop Grumman. Peluncuran ini sekaligus menandai penerbangan terakhir bagi roket legendaris tersebut. Jika sukses mencapai orbit, Link bakal melakukan manuver pendekatan sebelum menempel pada Swift dan secara perlahan meningkatkan posisinya selama beberapa bulan.
Penurunan orbit Swift dipicu oleh aktivitas Matahari nan meningkat, menyebabkan atmosfer Bumi mengembang dan menciptakan halangan tambahan pada ketinggian 600 kilometer. Swift sendiri tidak mempunyai sistem propulsi berdikari untuk meningkatkan orbitnya secara mandiri.
Teleskop Swift mempunyai peran krusial dalam bumi sains, termasuk membantu intelektual mengungkap asal-usul logam mulia seperti emas dan platinum di alam semesta. Sepanjang tugasnya, Swift telah mendeteksi lebih dari 2.000 ledakan kosmik paling terang di jagat raya.
Meski menghadapi tantangan teknis akibat usia teleskop nan sudah tua, NASA tetap optimistis. Peneliti utama misi Swift, Brad Cenko, menyatakan bahwa tim tetap mempunyai waktu nan cukup sebelum Swift turun ke ketinggian kritis di bawah 300 kilometer pada Oktober mendatang. Jika misi berhasil, Swift diharapkan dapat kembali beraksi penuh pada musim gugur 2026. (Space/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·